Salah satu jenis kelemahan manusia adalah kecenderungan terlalu gampang percaya atau terlalu mudah tidak percaya. Masih mending kalau mau mengkritik: "Cak Nun tulisannya susah dipahami, harus dibaca dua tiga kali baru bisa sedikit paham."
Saya menjawab protes itu: "Anda kempong ya?"
"Kok kempong... maksudnya?"
"Kalau kempong ndak punya gigi, harus makan makanan yang tidak perlu dikunyah. Orang kempong ndak bisa makan kacang, bahkan krupukpun hanya di-emut. Kalau orang punya gigi, dia bisa menjalankan saran dokter: kalau makan kunyahlah 33 kali baru ditelan. Sekedar makanan, harus dikunyah sampai sekian banyak kali agar usus tidak terancam dan badan jadi sehat. Lha kok tulisan, ilmu, informasi, wacana - maunya langsung ditelan sekali jadi."
Teman saya itu nyengenges.
"Coba Anda pandang Indonesia yang ruwet ini. Wong kalau Anda mengunyahnya sampai seribu kalipun belum tentu Anda bisa paham. Segala ilmu sosial, ilmu politik, ilmu ekonomi dan kebudayaan mandeg dihadang keruwetan Indonesia. Ilmuwan-ilmuwan kelas satu saja kebingungan membaca Indonesia, lha kok Anda ingin mengenyam makanan tanpa mengunyah. Yokopo se mbaaaah mbah! Sampeyan iku jik cilik kok wis tuwek..."
Kebudayaan kita instan. Mie-nya instan. Lagunya instan. Maunya masuk sorga juga instan. Kalau bisa, dapat uang banyak langsung, ndak usah kerja ndak apa-apa. Kalau perlu ndak usah ada Indonesia ndak apa-apa, ndak usah ada Nabi dan Tuhan juga ndak apa-apa, asal saya punya duit banyak.
Sedangkan Kitab Suci perlu kita baca terus menerus sepanjang hidup, itupun belum tentu memperoleh ilmu dan hikmah. Wong kita tiap hari shalat lima waktu rajin khusyuk sampai bathuk benthet saja belum tentu menemukan kebenaran. Wong naik haji sampai sepuluh kali saja belum dijamin akan memperoleh ridhollah. Lha kok sekali baca ingin mendapat kedalaman nilai, lha kok lagu-lagu pop diharapkan menawarkan kualitas hidup, lha kok menyanyikan shalawat dianggap sama dengan bershalawat atau melakukan shalawat.
Kalau Anda karyawan produksi televisi, Anda harus memperhitungkan harus bikin tayangan gambar yang sedetik dua dua detik nongol maka orang langsung senang. Penonton jangan dituntut untuk sedikit sajapun mendalami apa yang mereka tonton. Pokoknya kalau di depan TV sekilas pandang orang tak senang, ia akan langsung pindah channel.
Jadi bikinlah tayangan yang diperhitungkan sebagai konsumsi orang-orang kempong yang tidak memiliki kemampuan dan tak punya waktu untuk mengunyah, menghayati dan mendalami. Maka acara yang terbaik adalah joget, joget, joget. Itu dijamin pasti langsung laku. Anda tak perlu berpikir tentang mutu kebudayaan, pendidikan manusia, sosialisasi nilai-nilai sosial atau apapun saja.
Baca koran juga dengan metodologi kempong. Generasi kempong tidak punya waktu dan tidak memiliki tradisi untuk tahu beda antara kalimat sindiran dengan bukan sindiran. Tak tahu apa itu ironi, sarkasme, sanepan, istidraj.
Meskipun saya maling, asal saya omong seperti Ulama, maka saya dianggap Ulama. Sebaliknya meskipun saya tidak nyolong, kalau saya bilang "saya iniorangnya Suharto, saya dikasih perusahan PT Dengkulmu Mlicet..", orang instantly percaya bahwa saya memang orangnya Suharto.
Meskipun saya seekor anjing, tapi kalau saya katakana bahwa saya kambing, orang langsung yakin bahwa saya bukan anjing. Generasi kempong sangat rentan terhadap apa saja, termasuk informasi.
Tidak ada etos kerja. Tidak ada ideologi dharma, atau “ falya'mal 'amalan shalihan ”. Yang kita punyai hanya obsesi hasil, khayal pemilikan dan kenikmatan. Apapun caranya. Boleh rejeki langsung dari langit, boleh hasil copetan atau korupsi. Gus Dur kena gate , Akbar kena gate , ada Asrama Gate, ada Asmara Gate dan beribu-ribu gate yang lain - asalkan yang nyolong semuanya dari kita akan relatif aman. Pak Amin Rais bilang kalau kita paksakan Pansus Buloggate-II dibentuk berarti akan terjadi pembubaran parlemen.
Bahasa jelasnya, maling yang ditangkap yang tertentu saja. Kalau benar-benar memberantas maling, nanti DPR/MPR bubar, pemerintah bubar, seluruh Indonesia jadi Lowok Waru, Cipinang, buen-buen. Maka betapa indahnya kalau Pak Amin Rais menjadi pahlawan pembubaran Parlemen Maling, sebagai salah satu jalan mendasar dan total perbaikan dan penyembuhan Indonesia?
Sebab, lambat atau cepat, hal itu akan terjadi, meskipun tidak harus dalam bentuk wantah. Kalau rakyat tidak sanggup menagih, maka akan ada yang lebih kuat dari rakyat yang akan menagih. Pak Harto dikempongi, Habibie dikempongi, Gus Dur dikempongi, dan sekarang sedang mulai gencar Megawati dikempongi...
“'Asaa an takrahuu syai-an wa huwa khoirul-lakum, wa 'asaa an tuhibbuu syai-an wa huwa syarrun lakum ”. Apa yang selama ini engkau singkirkan, engkau anggap buruk, engkau coreng mukanya, engkau remehkan, engkau rendah-rendahkan atau engkau buang ke tong-tong sampah - akan menohok kesadaranmu dan engkau akan dipaksa menyadari bahwa sesungguhnya yang engkau anggap buruk itulah yang baik bagi kehidupan berbangsamu. Sebaliknya segala sesuatu yang engkau junjung-junjung, engkau blow-up, engkau puja-puji, engkau bela mati-matian, engka sangka akses utama masa depanmu - akan nglinthek di depan matamu dan engkau dipaksa menyadari bahwa ternyata ia sesungguhnya buruk bagi hidupmu.
Apa yang sesungguhnya egkau harapkan dari keadaan-keadaan yang semakin lama semakin menyiksamu ini? Siapa sebenarnya Imam-mu yang sungguh-sungguh bisa engkau percaya? Siapa presiden-sejatimu? Siapa pemimpin yang nasibmu bisa saling rebah bersamanya? Siapa yang menjamin sembako di pawon-mu dan uang sekolah anak-anakmu? Siapa yang menjaga keamanan keluargamu dan nyawa anak-anak serta istrimu, padahal engkau sudah membayar pajak?
Sampai kapan engkau menyanyikan lagu-lagu khayal siang malam di koran dan teve? Sampai kapan engkau berenang-renang di lautan takhayul? Apakah harus kita ubah Ajisoko kita menjadi Ho-no-co-ro-ko, Do-to-so-wo-lo, Po-dho-pe-kok-o, Mong-go-mo-dar-o..?
Sebenarnya diam-diam di dalam hatimu engkau sudah mulai merasakan dan mengakui hal itu, tetapi keangkuhan kolektifmu masih menjadi dinding bagi terbukanya kejujuranmu. Engkau tinggal memilih akan menjadi bagian dari generasi yang semakin kempong giginya, ataukah diam-diam engkau menumbuhkan lingkaran-lingkaran Indonesia baru yang menumbuhkan gigi-gigi masa depannya.
Muhammad Ainun Najib
Sabtu, 10 Agustus 2013
Generasi Kempong
Label:
Baru,
Dunia luar,
Emha Ainun Nadjib,
Ilmu dunia dan akhirat,
Info Baru,
Inspirasi,
Inspiratif,
Kisah Nyata,
Motto hidup sukses,
News,
Pedoman Hidup,
Petunjuk
Rabu, 07 Agustus 2013
Adab di Hari Raya Idul Fitri
| Perdana Menteri Palestina di Gaza, Ismail Haniya, saat menyampaikan khutbah Idul Fitri. |
Senyumku Dakwahku, Umat Islam di berbagai tempat, daerah, (Dunia Islam) dan negara memiliki tradisi masing-masing dalam menyambut datangnya Hari Raya Idul Fitri. Intinya, pada saat hari raya, setiap keluarga bisa berkumpul, saling mengunjungi, dan bersilaturahim, serta saling memaafkan.
Nah, agar perayaan Idul Fitri 1432 H benar-benar bermakna, sebaiknya setiap Muslim meniru teladan dan perintah Rasulullah SAW dalam mengisi hari nan fitri ini. Dalam Kitab Mausuu'atul Aadaab Al-Islaamiyyah, Syekh Abdul Azis bin Fathi As-Sayyid Nada menjelaskan adab berhari raya ala Rasulullah SAW. Berikut ini adab berhari raya.
Pertama, niat yang benar.
Menurut Syekh Sayyid Nada, wajib bagi seorang Muslim menghadirkan niat yang benar dalam segala perkara berkaitan dengan hari raya, seperti berniat ketika keluar rumah untuk shalat demi mengikuti Nabi SAW.
Kedua, mandi.
Pada hari Idul Fitri hendaknya setiap Muslim mandi. Sehingga, dapat berkumpul bersama kaum Muslimin lainnya dalam keadaan bersih dan wangi. Diriwayatkan dari Ibnu Umar RA, bahwa ia mandi pada hari raya Idul Fitri, sebelum berangkat ke tempat shalat. (HR Malik dalam kitab al-Muwaththa).
Ketiga, memakai wewangian.
Saat akan shalat Idul Fitri, hendaknya setiap Muslim memakai wewangian dan dalam keadaan bersih.
Keempat, memakai pakaian baru.
Jika seorang mampu, disunahkan memakai pakaian baru pada hari raya Idul Fitri. Hal itu menunjukkan rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT dan menunjukkan kegembiraan pada hari raya. Ibnu Umar RA memakai pakaian terbaiknya pada kedua hari raya. (HR al-Baihaki).
Kelima, mengeluarkan zakat fitrah sebelum melaksanakan shalat.
Sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW, seorang Muslim hendaknya mengeluarkan zakat fitrah sebelum shalat untuk menggembirakan fakir-miskin dan orang yang membutuhkan pada hari Id tersebut. Rasulullah SAW memerintahkan umatnya untuk mengeluarkan zakat fitrah sebelum orang-orang keluar untuk shalat. (HR Bukhari-Muslim).
Keenam, memakan kurma sebelum berangkat dari rumah pada hari raya Idul Fitri.
Dalam sebuah hadis disebutkan, Rasulullah SAW sebelum berangkat shalat pada hari raya Idul Fitri memakan kurma terlebih dahulu. Dalam riwayat lain disebutkan, Nabi SAW tak berangkat shalat Idul Fitri kecuali setelah makan, sedangkan beliau tidak makan pada hari raya Idul Adha, kecuali setelah pulang dan makan dari hewan kurbannya. (HR at-Tirmidzi)
Ketujuh, bersegera menuju tempat shalat.
Pada hari raya Idul Fitri, hendaknya setiap Muslim bergegas menuju tempat dilakukannya shalat Id.
Kedelapan, keluarnya wanita ke tempat shalat.
Kaum wanita dianjurkan untuk keluar menuju tempat shalat walaupun sedang haid. Sehingga, mereka dapat menyaksikan dan mendapat kemuliaan hari raya serta merasakan kebahagiaan bersama orang lain.
Kesembilan, anak-anak juga keluar untuk shalat.
Ibnu Abbas RA berkata, ''Aku keluar bersama Nabi SAW pada Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha, kemudian beliau shalat dan berkhutbah .…'' (HR Bukhari-Muslim).
Kesepuluh, keluar untuk shalat dengan berjalan kaki.
Keluar berjalan kaki untuk shalat termasuk sunah. Sebagaimana Nabi SAW keluar pada dua hari raya dengan berjalan kaki, shalat tanpa azan dan iqamat, dan pulang berjalan kaki melalui jalan lain. (HR Ibnu Majah). Perbuatan inilah yang disukai selama tak memberatkan orang yang shalat.
Kesebelas, bertakbir dengan suara keras sampai ke tempat shalat.
Disunahkan bertakbir mulai dari keluar rumah sampai ke tempat shalat. Hal ini untuk menunjukkan syiar Islam.Kedua belas, bersalaman dan saling mengucapkan selamat di antara orang yang shalat.
Bersalaman dan saling mengucapkan selamat akan membahagiakan jiwa yang merasa gembira pada hari Id. Bisa pula sambil mengucapkan, ''Semoga allah menerima amal kami dan amal kalian.''
Ketiga belas, bersilaturahim.
Keempat belas, saling bertukar hadiah dan makanan.
Sudah menjadi tradisi, pada hari raya setaip tetangga bertukar makanan dan hidangan. Bahkan, dianjurkan untuk memberikan hadiah bagi mereka yang tak mampu.
Pertama, niat yang benar.
Menurut Syekh Sayyid Nada, wajib bagi seorang Muslim menghadirkan niat yang benar dalam segala perkara berkaitan dengan hari raya, seperti berniat ketika keluar rumah untuk shalat demi mengikuti Nabi SAW.
Kedua, mandi.
Pada hari Idul Fitri hendaknya setiap Muslim mandi. Sehingga, dapat berkumpul bersama kaum Muslimin lainnya dalam keadaan bersih dan wangi. Diriwayatkan dari Ibnu Umar RA, bahwa ia mandi pada hari raya Idul Fitri, sebelum berangkat ke tempat shalat. (HR Malik dalam kitab al-Muwaththa).
Ketiga, memakai wewangian.
Saat akan shalat Idul Fitri, hendaknya setiap Muslim memakai wewangian dan dalam keadaan bersih.
Keempat, memakai pakaian baru.
Jika seorang mampu, disunahkan memakai pakaian baru pada hari raya Idul Fitri. Hal itu menunjukkan rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT dan menunjukkan kegembiraan pada hari raya. Ibnu Umar RA memakai pakaian terbaiknya pada kedua hari raya. (HR al-Baihaki).
Kelima, mengeluarkan zakat fitrah sebelum melaksanakan shalat.
Sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW, seorang Muslim hendaknya mengeluarkan zakat fitrah sebelum shalat untuk menggembirakan fakir-miskin dan orang yang membutuhkan pada hari Id tersebut. Rasulullah SAW memerintahkan umatnya untuk mengeluarkan zakat fitrah sebelum orang-orang keluar untuk shalat. (HR Bukhari-Muslim).
Keenam, memakan kurma sebelum berangkat dari rumah pada hari raya Idul Fitri.
Dalam sebuah hadis disebutkan, Rasulullah SAW sebelum berangkat shalat pada hari raya Idul Fitri memakan kurma terlebih dahulu. Dalam riwayat lain disebutkan, Nabi SAW tak berangkat shalat Idul Fitri kecuali setelah makan, sedangkan beliau tidak makan pada hari raya Idul Adha, kecuali setelah pulang dan makan dari hewan kurbannya. (HR at-Tirmidzi)
Ketujuh, bersegera menuju tempat shalat.
Pada hari raya Idul Fitri, hendaknya setiap Muslim bergegas menuju tempat dilakukannya shalat Id.
Kedelapan, keluarnya wanita ke tempat shalat.
Kaum wanita dianjurkan untuk keluar menuju tempat shalat walaupun sedang haid. Sehingga, mereka dapat menyaksikan dan mendapat kemuliaan hari raya serta merasakan kebahagiaan bersama orang lain.
Kesembilan, anak-anak juga keluar untuk shalat.
Ibnu Abbas RA berkata, ''Aku keluar bersama Nabi SAW pada Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha, kemudian beliau shalat dan berkhutbah .…'' (HR Bukhari-Muslim).
Kesepuluh, keluar untuk shalat dengan berjalan kaki.
Keluar berjalan kaki untuk shalat termasuk sunah. Sebagaimana Nabi SAW keluar pada dua hari raya dengan berjalan kaki, shalat tanpa azan dan iqamat, dan pulang berjalan kaki melalui jalan lain. (HR Ibnu Majah). Perbuatan inilah yang disukai selama tak memberatkan orang yang shalat.
Kesebelas, bertakbir dengan suara keras sampai ke tempat shalat.
Disunahkan bertakbir mulai dari keluar rumah sampai ke tempat shalat. Hal ini untuk menunjukkan syiar Islam.Kedua belas, bersalaman dan saling mengucapkan selamat di antara orang yang shalat.
Bersalaman dan saling mengucapkan selamat akan membahagiakan jiwa yang merasa gembira pada hari Id. Bisa pula sambil mengucapkan, ''Semoga allah menerima amal kami dan amal kalian.''
Ketiga belas, bersilaturahim.
Keempat belas, saling bertukar hadiah dan makanan.
Sudah menjadi tradisi, pada hari raya setaip tetangga bertukar makanan dan hidangan. Bahkan, dianjurkan untuk memberikan hadiah bagi mereka yang tak mampu.
REPUBLIKA.CO.ID
Label:
Baru,
Dunia luar,
Ilmu dunia dan akhirat,
Info Baru,
Inspirasi,
Inspiratif,
Khazanah,
Kisah Nyata,
Motivasi,
Motto hidup sukses,
News,
Pedoman Hidup,
Petunjuk
Al-Fatihah 7 Ayat
- Dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
- Segala Puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
- Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
- Yang Menguasai hari pembalasan
- Hanya kepada Engkau-lah kami menyembah dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan.
- Tunjukilah kami jalan yang lurus,
- (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau Anugerahkan Nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
Selasa, 06 Agustus 2013
Minal Aidzin Wal Faidzin
السلام عليكم ورحمت الله وبركته
Sobat, Kagak kerasa nich besok udah lebaran, duh,, senengnya bisa makan ketupat sama mie ayam lagi 
bisa kumpul bareng lagi dengan keluarga besar kita, reunian dengan teman sekolah dulu
pokoknya dihari raya ini kita menang sob
.
Kenapa menang
??
Yups, karena di bulan suci ramadhan, selama sebulan penuh kita melawan Hawa Nafsu setan
yang ada dalam diri kita masing-masing
. dan dibulan Ramadhan ini banyak berkah yang kita dapatkan sob, berkah untuk beribadah, berkah untuk beramal baik, bershodaqoh, Dll.
dan pada akhirnya hari itu pun tiba, hari dimana semua umat muslim menantikannya
,
Yups,, Hari itu adalah Hari raya Idul Fitri 1434H
, dan saat itulah semua mahkluk di dunia ini menangis
, menangis karena bahagia
, bahagia karena merayakan kemenangan dihari raya Idul Fitri 1434 H
.
Jadi, Alangkah baiknya kalau kita senantiasa membukakan pintu maaf bagi siapa saja yang sekiranya dulu pernah menyakiti hati kita dan pernah membuat kita menangis untuk itu di hari raya ini mari kita isi dengan ketulusan kata maaf yang keluar dari hati melalui mulut kita
.
Dan bersamanya Artikel ini mimin minta maaf, jika sewaktu mimin masih Nge-Blog mimin jarang Nge-Post maafin mimin ya sob, jika ada penulisan kata yang sekiranya kurang mengenakan dihati sobat, mohon dimaafin ya
,,
Untuk itu, kami Seluruh Keluarga besar Blogspot.com & Keluarga besar Mimin mengucapkan
"Minal Aidzin Wal Faidzin, Mohon maaf Lahir Dan Batin.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1434H"Semoga dihari yang Fitri ini Allah SWT akan senantiasa mengampuni segala dosa kita
Oke sob, Mimin pamit dulu,
السلام عليكم ورحمت الله وبركته
_Salam Hangat_
Minggu, 04 Agustus 2013
Ramadhan, Mudik dan Kedermawanan
Blogers senyumku dakwahku yang Bersahaja - Seperti biasa, setiap akhir Ramadhan terjadi pergerakan masa yang sangat luar biasa dalam rangka mudik; dari kota ke desa, atau dari kota ke kota.
Jutaan orang pulang ke kampung halaman untuk merayakan kebahagiaan bersama keluarga. Satu peristiwa yang tidak lagi hanya bernuasa religius, tetapi juga memiliki nilai sosial, budaya, ekonomi, bahkan politik.
Dalam konteks berbeda, pada bulan Ramadhan, tepatnya tanggal 20, tahun kedelapan hijriah Nabi bersama para Sahabatnya pernah mudik, setelah hampir delapan tahun dipaksa keluar (terusir) dari kampung halaman, Mekkah.
Nabi yang terusir dari kampungnya itu sudah diprediksi jauh-jauh hari oleh seorang pendeta, Waraqah bin Naufal, sebagai tanda kenabian. Pada hari itu, Nabi memasuki kembali kota Makkah dengan kemenangan sesuai janji Allah.
Sebelum itu, saat masih di Mekkah berjuang menyebarkan Islam, Allah pernah menurunkan sebuah ayat: Sesungguhnya (Allah) yang mewajibkan engkau (Muhammad) untuk (melaksanakan hukum-hukum) Al-Qur'an, benar-benar akan mengembalikanmu ke tempat kembali (QS. Al-Qashash : 85).
Tempat kembali (al-ma`aad) pada ayat tersebut dipahami oleh banyak ahli tafsir sebagai kota Mekkah, dan ini merupakan pertanda bahwa suatu saat Nabi akan keluar dari Mekkah dan kembali dengan kemenangan. Janji Allah terwujud saat Fath Makkah.
Hari kembali itu disebut sebagai yawm birr wa wafaa, hari kebajikan dan kesetiaan. Nabi kembali tidak untuk balas dendam kepada penduduk Mekkah, terutama para tokoh masyarakat yang pernah menyakitinya.
Justru kebaikan yang mereka dapat dari Nabi, bahkan mereka mengakuinya sebagai akhun kariim (saudara yang mulia) dan ibnu akhin kariim (putra saudara yang mulia).
Sembilan belas hari lamanya Nabi mudik merayakan kemenangan Fath Makkah, kota kelahirannya, dan setelah itu kembali lagi mudik ke Madinah, kampung halamannya yang kedua, tempat ia mengembangkan risalah dan tempat ia menjumpai Tuhannya.
Saat akan kembali Nabi mengingatkan penduduk Mekkah, “tidak ada lagi hijrah ke Madinah sejak kemenangan di Mekkah, yang ada tinggal niat yang tulus (melakukan kebajikan) disertai jihad (perjuangan mewujudkannya).” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dua peristiwa yang berbeda; mudik saat lebaran dan fathu Makkah, tetapi sama-sama terjadi di penghujung Ramadhan untuk merayakan kemenangan, menebar kebaikan dan mewujudkan kesetiaan.
Memang, Ramadhan, dengan pelbagai amal ibadah yang wajib dan yang sunnah, adalah sebuah media untuk mempersiapkan landasan berupa jiwa yang suci. Pengantin yang sesungguhnya di bulan itu adalah Al-Qur`an dengan petunjuk-petunjuk yang terdapat di dalamnya.
Seperti halnya tanah harus dipersiapkan sebelum ditanami, maka hati pun perlu ditata dan dibersihkan sebelum menerima ilmu dan petunjuk Al-Qur`an. Hati yang suci akan mudah menerima pantulan cahaya Ilahi.
Selanjutnya, cahaya tersebut akan mengalir ke dalam darah dan menggerakkan organ tubuh untuk melakukan amal kebajikan. Salah satu indikator pantulan cahaya tersebut adalah kedermawanan.
Sebuah hadis Nabi menggambarkan keterkaitan antara Ramadhan, Al-Qur`an dan kedermawanan. Ibnu Abbas RA menceritakan, Rasulullah adalah sosok manusia yang paling baik dan dermawan, lebih-lebih di bulan Ramadhan, saat ditemui Malaikat Jibril.
Jibril biasa mendatangi beliau di bulan Ramadhan pada setiap malam, mengajaknya bertadarus Al-Qur`an. Saat itulah Rasulullah begitu sangat baik melebihi angin yang bertiup kencang. (HR. Al-Bukhari).
Keterkaitan itu menunjukkan, jiwa yang terlatih dan terjaga kesuciannya, jika diisi dengan Al-Qur`an akan melahirkan sikap dan perilaku terpuji, yang salah satu indikator kuatnya adalah kedermawanan.
Itulah mengapa dalam hadis lain Rasulullah menyatakan, al-shadaqatu burhân (sedekah adalah petunjuk/ bukti). Kita berharap, di penghujung Ramadhan dan saat merayakan idul fitri, kedermawanan sebagai cerminan jiwa yang tersucikan dapat dirasa, bukan hanya sesaat, tetapi yang berkelanjutan.
Potensi ekonomi mudik sangat besar. Tidak berlebihan jika ada yang menyebutnya sebagai mudiknomics Indonesia. Ekonomi di daerah menggeliat dengan mengalirnya uang ke daerah-daerah di tanah air.
Sebagian mengalir lewat aktifitas mudik, dan sebagian lain melalui proses transfer. Salah satu harian nasional menyebut, sedikitnya Rp 50 triliun uang mengalir ke daerah.
Analisis dari Pusat data Kemiskinan Dompet Dhuafa menunjukkan potensi aliran uang mudik dari kota ke desa atau dari kota ke kota mencapai Rp 90,08 triliun.
Dengan dana sebesar itu, ekonomi di daerah-daerah seharusnya bisa ditingkatkan dalam jangka panjang, tidak hanya dalam jangka pendek saat mudik terjadi.
Menjadi kebahagiaan tersendiri bagi para pemudik ketika bisa menikmati hasil jerih payah bekerja selama satu tahun di rantau bersama keluarga dan sanak kerabat.
Ada yang membawa oleh-oleh dalam bentuk barang. Ada yang menyiapkan angpao untuk keponakan atau sanak saudara lainnya. Kebaikan dan kedermawanan terasa mengalir dari hulu sampai ke hilir. Semua bisa merasakan kebahagiaan berbagi di hari raya fitri.
Sayangnya, kondisi ini setiap tahun terjadi hanya bersifat jangka pendek. Kebanyakan pemudik menghabiskannya untuk hal-hal yang bersifat konsumtif; transportasi, rekreasi, makan dan belanja bersama keluarga, nyangoni keponakan dan lainya. Hanya sedikit yang menggunakan uangnya untuk berinvestasi di kampung halamannya.
Dengan semakin menjamurnya ritel-ritel di perkampungan dan besarnya biaya telekomunikasi bisa diduga uang yang dibawa ke daerah akan kembali tersedot ke pusat. Inilah yang membuat geliat ekonomi di daerah terkesan hanya sesaat.
Saatnya pemerintah dan masyarakat mencari pola pemberdayaan yang lebih produktif dan berdaya guna untuk kepentingan jangka panjang. Salah satu yang berpotensi adalah dana zakat para pemudik yang jumlahnya diperkirakan sangat besar.
Riset Dompet Dhuafa menemukan 52 persen lebih pemudik memilih menunaikan zakatnya di kampung halaman. Dengan potensi aliran uang mudik sebesar Rp 90,08 triliun, maka potensi zakatnya diperkirakan 14,7 triliun.
Penyaluran zakat di daerah akan lebih cepat sampai dan dirasa langsung oleh para mustahik, selain dapat memupuk rasa kesetiakawanan dan hubungan silaturahim.
Bukankah Nabi juga mengajarkan, sedekah kepada sanak kerabat yang membutuhkan akan membuahkan dua kebaikan; pahala sedekah dan pahala menyambung silaturahim.
Lembaga-Lembaga Amil Zakat (LAZ) bisa memfasilitasi penerimaan zakat di daerah dan memberdayakannya melalui kegiatan-kegiatan produktif. Pemerintah daerah pun bisa memfasilitasi potensi ekonomi mudik tersebut dengan membentuk dana investasi daerah.
Bila itu terjadi, pemerataan ekonomi bukan lagi sekadar teori. Saat itulah, para pemudik bisa mengatakan kepada sanak kerabat di kampung, “tidak ada lagi hijrah (urbanisasi) ke kota, sejak ada pemerataan ekonomi di daerah, yang ada tinggal niat yang tulus (melakukan kebajikan) disertai jihad (perjuangan mewujudkannya)”. Demikian, wallahua`lam.
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh : Muchlis M Hanafi
Redaktur : Damanhuri Zuhri
Dikutip Ulang oleh : Senyumku Dakwahku ~ http://senyumkudakwahku.blogspot.com/
Jutaan orang pulang ke kampung halaman untuk merayakan kebahagiaan bersama keluarga. Satu peristiwa yang tidak lagi hanya bernuasa religius, tetapi juga memiliki nilai sosial, budaya, ekonomi, bahkan politik.
Dalam konteks berbeda, pada bulan Ramadhan, tepatnya tanggal 20, tahun kedelapan hijriah Nabi bersama para Sahabatnya pernah mudik, setelah hampir delapan tahun dipaksa keluar (terusir) dari kampung halaman, Mekkah.
Nabi yang terusir dari kampungnya itu sudah diprediksi jauh-jauh hari oleh seorang pendeta, Waraqah bin Naufal, sebagai tanda kenabian. Pada hari itu, Nabi memasuki kembali kota Makkah dengan kemenangan sesuai janji Allah.
Sebelum itu, saat masih di Mekkah berjuang menyebarkan Islam, Allah pernah menurunkan sebuah ayat: Sesungguhnya (Allah) yang mewajibkan engkau (Muhammad) untuk (melaksanakan hukum-hukum) Al-Qur'an, benar-benar akan mengembalikanmu ke tempat kembali (QS. Al-Qashash : 85).
Tempat kembali (al-ma`aad) pada ayat tersebut dipahami oleh banyak ahli tafsir sebagai kota Mekkah, dan ini merupakan pertanda bahwa suatu saat Nabi akan keluar dari Mekkah dan kembali dengan kemenangan. Janji Allah terwujud saat Fath Makkah.
Hari kembali itu disebut sebagai yawm birr wa wafaa, hari kebajikan dan kesetiaan. Nabi kembali tidak untuk balas dendam kepada penduduk Mekkah, terutama para tokoh masyarakat yang pernah menyakitinya.
Justru kebaikan yang mereka dapat dari Nabi, bahkan mereka mengakuinya sebagai akhun kariim (saudara yang mulia) dan ibnu akhin kariim (putra saudara yang mulia).
Sembilan belas hari lamanya Nabi mudik merayakan kemenangan Fath Makkah, kota kelahirannya, dan setelah itu kembali lagi mudik ke Madinah, kampung halamannya yang kedua, tempat ia mengembangkan risalah dan tempat ia menjumpai Tuhannya.
Saat akan kembali Nabi mengingatkan penduduk Mekkah, “tidak ada lagi hijrah ke Madinah sejak kemenangan di Mekkah, yang ada tinggal niat yang tulus (melakukan kebajikan) disertai jihad (perjuangan mewujudkannya).” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dua peristiwa yang berbeda; mudik saat lebaran dan fathu Makkah, tetapi sama-sama terjadi di penghujung Ramadhan untuk merayakan kemenangan, menebar kebaikan dan mewujudkan kesetiaan.
Memang, Ramadhan, dengan pelbagai amal ibadah yang wajib dan yang sunnah, adalah sebuah media untuk mempersiapkan landasan berupa jiwa yang suci. Pengantin yang sesungguhnya di bulan itu adalah Al-Qur`an dengan petunjuk-petunjuk yang terdapat di dalamnya.
Seperti halnya tanah harus dipersiapkan sebelum ditanami, maka hati pun perlu ditata dan dibersihkan sebelum menerima ilmu dan petunjuk Al-Qur`an. Hati yang suci akan mudah menerima pantulan cahaya Ilahi.
Selanjutnya, cahaya tersebut akan mengalir ke dalam darah dan menggerakkan organ tubuh untuk melakukan amal kebajikan. Salah satu indikator pantulan cahaya tersebut adalah kedermawanan.
Sebuah hadis Nabi menggambarkan keterkaitan antara Ramadhan, Al-Qur`an dan kedermawanan. Ibnu Abbas RA menceritakan, Rasulullah adalah sosok manusia yang paling baik dan dermawan, lebih-lebih di bulan Ramadhan, saat ditemui Malaikat Jibril.
Jibril biasa mendatangi beliau di bulan Ramadhan pada setiap malam, mengajaknya bertadarus Al-Qur`an. Saat itulah Rasulullah begitu sangat baik melebihi angin yang bertiup kencang. (HR. Al-Bukhari).
Keterkaitan itu menunjukkan, jiwa yang terlatih dan terjaga kesuciannya, jika diisi dengan Al-Qur`an akan melahirkan sikap dan perilaku terpuji, yang salah satu indikator kuatnya adalah kedermawanan.
Itulah mengapa dalam hadis lain Rasulullah menyatakan, al-shadaqatu burhân (sedekah adalah petunjuk/ bukti). Kita berharap, di penghujung Ramadhan dan saat merayakan idul fitri, kedermawanan sebagai cerminan jiwa yang tersucikan dapat dirasa, bukan hanya sesaat, tetapi yang berkelanjutan.
Potensi ekonomi mudik sangat besar. Tidak berlebihan jika ada yang menyebutnya sebagai mudiknomics Indonesia. Ekonomi di daerah menggeliat dengan mengalirnya uang ke daerah-daerah di tanah air.
Sebagian mengalir lewat aktifitas mudik, dan sebagian lain melalui proses transfer. Salah satu harian nasional menyebut, sedikitnya Rp 50 triliun uang mengalir ke daerah.
Analisis dari Pusat data Kemiskinan Dompet Dhuafa menunjukkan potensi aliran uang mudik dari kota ke desa atau dari kota ke kota mencapai Rp 90,08 triliun.
Dengan dana sebesar itu, ekonomi di daerah-daerah seharusnya bisa ditingkatkan dalam jangka panjang, tidak hanya dalam jangka pendek saat mudik terjadi.
Menjadi kebahagiaan tersendiri bagi para pemudik ketika bisa menikmati hasil jerih payah bekerja selama satu tahun di rantau bersama keluarga dan sanak kerabat.
Ada yang membawa oleh-oleh dalam bentuk barang. Ada yang menyiapkan angpao untuk keponakan atau sanak saudara lainnya. Kebaikan dan kedermawanan terasa mengalir dari hulu sampai ke hilir. Semua bisa merasakan kebahagiaan berbagi di hari raya fitri.
Sayangnya, kondisi ini setiap tahun terjadi hanya bersifat jangka pendek. Kebanyakan pemudik menghabiskannya untuk hal-hal yang bersifat konsumtif; transportasi, rekreasi, makan dan belanja bersama keluarga, nyangoni keponakan dan lainya. Hanya sedikit yang menggunakan uangnya untuk berinvestasi di kampung halamannya.
Dengan semakin menjamurnya ritel-ritel di perkampungan dan besarnya biaya telekomunikasi bisa diduga uang yang dibawa ke daerah akan kembali tersedot ke pusat. Inilah yang membuat geliat ekonomi di daerah terkesan hanya sesaat.
Saatnya pemerintah dan masyarakat mencari pola pemberdayaan yang lebih produktif dan berdaya guna untuk kepentingan jangka panjang. Salah satu yang berpotensi adalah dana zakat para pemudik yang jumlahnya diperkirakan sangat besar.
Riset Dompet Dhuafa menemukan 52 persen lebih pemudik memilih menunaikan zakatnya di kampung halaman. Dengan potensi aliran uang mudik sebesar Rp 90,08 triliun, maka potensi zakatnya diperkirakan 14,7 triliun.
Penyaluran zakat di daerah akan lebih cepat sampai dan dirasa langsung oleh para mustahik, selain dapat memupuk rasa kesetiakawanan dan hubungan silaturahim.
Bukankah Nabi juga mengajarkan, sedekah kepada sanak kerabat yang membutuhkan akan membuahkan dua kebaikan; pahala sedekah dan pahala menyambung silaturahim.
Lembaga-Lembaga Amil Zakat (LAZ) bisa memfasilitasi penerimaan zakat di daerah dan memberdayakannya melalui kegiatan-kegiatan produktif. Pemerintah daerah pun bisa memfasilitasi potensi ekonomi mudik tersebut dengan membentuk dana investasi daerah.
Bila itu terjadi, pemerataan ekonomi bukan lagi sekadar teori. Saat itulah, para pemudik bisa mengatakan kepada sanak kerabat di kampung, “tidak ada lagi hijrah (urbanisasi) ke kota, sejak ada pemerataan ekonomi di daerah, yang ada tinggal niat yang tulus (melakukan kebajikan) disertai jihad (perjuangan mewujudkannya)”. Demikian, wallahua`lam.
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh : Muchlis M Hanafi
Redaktur : Damanhuri Zuhri
Dikutip Ulang oleh : Senyumku Dakwahku ~ http://senyumkudakwahku.blogspot.com/
Jumat, 02 Agustus 2013
6 Rahasia Keringat | Blogspot.com
Blogspot.com | Sob, Mungkin dari kalian sudah mengetahui apap itu Keringat.
Keringat adalah salah satu bentuk pengeluaran yang dilakukan tubuh. Meski terkadang mengganggu, Dan ternyata sob, keringat berfungsi bagi kestabilan tubuh lho. kagak percaya????
Mimin kali akan membahas beberapa hal yang tidak Sobat ketahui mengenai keringat
Penasaran sob??? langsung aja sob, cekibrot.......
- Tingkat aktifitas olahraga mempengaruhi kuantitas keringat
Ketika keringat keluar dari kulit Sobat, keringat menjalankan fungsinya sebagai pendingin tubuh, untuk mengatasi panas tubuh yang berlebih
. Atlet akan mengeluarkan keringat lebih banyak daripada mereka yang bukan atlet, karena tubuh mereka telah menjadi mahir menjaga dingin dengan meningkatkan jumlah keringat.
- Pria berkeringat lebih banyak daripada wanita
Secara umum, pria benar-benar memproduksi keringat lebih banyak dari perempuan. Pria dapat memproduksi keringat sekitar empat kali lebih banyak. Hal ini disebabkan pria memiliki badan yang lebih besar sehingga kelenjar keringat lebih besar dan memiliki variasi hormonal yang lebih tinggi dibandingkan wanita.
Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Experimental Physiology menemukan bahwa ketika sehat secara fisik pria dan wanita berolahraga secara rutin, pria memproduksi keringat berlebih, meskipun kedua jenis kelamin memiliki jumlah kelenjar keringat yang sama aktif.
Ketahuan nich kalo cowok suka "BaTek" Bau keTek 
wkwkwkwkwk.......
- Keringat diciptakan berbeda
Meskipun Sobat mengangggap keringat sama saja, ternyata keringat diciptakan berbeda dan memiliki dua jenis. Kelenjar keringat Ekrin bertanggung jawab untuk memproduksi "keringat air” yang sebagian besar terdiri dari air dan garam. Kelenjar-kelenjar yang ditemukan di seluruh tubuh, biasanya lebih terkonsentrasi pada tangan, kaki dan wajah, dan bekerja untuk mendinginkan tubuh Sobat, akibat berolahraga atau suhu panas.
Ada pula kelenjar Apokrinyang memproduksi keringat lebih sedikit, terletak di folikel rambut (seperti di ketiak) dan bertanggung jawab untuk bau keringat. Sedangkan tujuan dari kelenjar apokrin tidak jelas,menurut American Academy of Dermatology, mereka diyakini sebagai ‘aroma’kelenjar.
Pantesan Diketiak baunya
Mirip Es Cendol kali ya
Pantesan Diketiak baunya
Mirip Es Cendol kali ya
- Keringat dapat menghentikan sinyal stres
Jika Sobat berkeringat disebabkan oleh stres, Sobat tidak sadar dapat mengirim ketegangan untuk orang di sekitar Sobat. Ketika Sobat stres, keringat keluar dari keduakelenjar keringat dan kelenjar bau air keringat. Segera setelah Sobat mulai merasa stres, Sobat dapat memancarkan aroma yang terdeteksi oleh orang lain.
Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal PLoS One menunjukkan perubahan dalam aktivitas otak ketika terkena keringat orang lain dalam situasi-dalam hal ini emosional tegang. Setiap orang yang diteliti memiliki reaksi kimia yang diikuti dengan berkeringat, yang menyebabkan mereka menjadi lebih waspada terhadap ancaman potensial, dan menampilkan tingkat yang lebih tinggi kewaspadaan.
- Ada nama untuk berkeringat berlebihan
Penelitian menunjukkan 1% hingga 3% dari populasi memiliki hiperhidrosis, kondisi yang ditandai oleh keringat berlebihan karena kelenjar keringat berlebih. Meskipun penyebab pasti hiperhidrosis tidak diketahui, gejala mulai tampak saat remaja. Orang-orang akan berkeringat tanpa alasan yang jelas, tidak ada bedanya jika mereka berada dalam ruangan yang sejuk dan tidak merasa stres.
Daerah yang paling terpengaruh oleh hiperhidrosis adalah ketiak, tangan, kaki dan wajah. Hiperhidrosis dapat diobati dengan berbagai prosedur. Botox, misalnya, yang sebagian besar dikenal untuk menghaluskan kerutan, juga telah disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA) untuk mengobati keringat ketiak berlebihan. Pilihan laintermasuk antiperspirant kekuatan klinis, sedot lemak atau perawatan elektromagnetik. Jika Sobat berpikir Sobat menderita keringat berlebihan, pastikan untuk mengunjungi dokter untuk menyingkirkan penyebab yang mendasarinya
.
- Waktu terbaik untuk menggunakan anti keringat adalah malam hari
Anti keringat atau antiperspirant biasanya mengandung alumunium atau zirconian sebagai bahan aktif yang secara fisik dapat menyumbat kelenjar keringat dan menghentikan produksi keringat.
Antiperspirant paling efektif jika diaplikasikan pada kulit yang sangat kering. Jika Sobat menggunakannya pada pagi hari seusai mandi, maka besar kemungkinan disaat Sobat beraktifitas, ketiak Sobat akan kembali basah. Jika permukaan kulit basah, reaksi kimia yang terbentuk dari aluminium akan terjadi pada permukaan kulit, bukan di pori-pori.
Gunakalah antiperspirant pada malam hari ketika produksi keringat berada pada titik terendah. Bahkan ketika Sobat mandi keesokan harinya, antiperspiran masih akan efektif, karena dapat bertahan selama beberapa hari.
Nah sob, gimana nich, ada yang udah berkeringat belum nich???
Kalo belum, yuk berkeringat bersama-sama dalam acara "Keringat Massal"
wkwkwkwkwkwk.....
yuk sob, mari berkeringat dan budayakan berkeringat, biar bisa "BATEK" BAu keTEK
xixixixixi
Nah sob, gimana nich, ada yang udah berkeringat belum nich???
Kalo belum, yuk berkeringat bersama-sama dalam acara "Keringat Massal"
wkwkwkwkwkwk.....
yuk sob, mari berkeringat dan budayakan berkeringat, biar bisa "BATEK" BAu keTEK
xixixixixi
Malam Lailatul Qadar
Membidik Malam Lailatul Qadar, Inilah Tanda Tandanya
Malam Lailatul Qadar, keutamaannya sangat besar, karena malam ini menyaksikan turunnya Al Qur-an Al Karim, yang membimbing orang-orang yang berpegang dengannya ke jalan kemuliaan dan mengangkat ke derajat yang mulia dan abadi. Umat Islam yang mengikuti sunnah Rasulnya tidak memasang tanda-tanda tertentu dan tidak pula menacapkan anak-anak panah untuk memperingati malam ini, akan tetapi mereka berlomba-lomba untuk bangun di malam harinya dengan penuh iman dan mengharap pahala dari Allah.
Inilah wahai saudaraku muslim, ayat-ayat Qur-aniyah dan hadits-hadits Nabawiyah yang shahih menjelaskan tentang malam tersebut.
1. Keutamaan malam Lailatul Qadar
Cukuplah untuk mengetahui tingginya kedudukan Lailatul Qadar dengan mengetahui bahwasanya malam itu lebih baik dari seribu bulan, Allah berfirman:
“Sesungguhnya Kami menurunkan Al Qur’an pada malam Lailatul Qadar, tahukah engkau apakah malam Lailatul Qadar itu? Malam Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan, Pada malam itu turunlah malaikat-malaikat dan Jibril dengan izin Rabb mereka (untuk membawa) segala urusan, Selamatlah malam itu hingga terbit fajar.” (Al Qadar : 1-5)
Dan pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah:
“Sesungguhnya Kami menurunkan pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Ad Dukhan : 3 – 6)
2. Waktu turunnya Lailatul Qadar
Diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa malam tersebut terjadi pada tanggal malam 21, 23, 25, 27, 29 dan akhir malam bulan Ramadhan. (Pendapat-pendapat yang ada dalam masalah ini berbeda-beda, Imam Iraqi telah mengaran suatu risalah khusus diberi judul Syarh Shadr bi Dzikri Lailatul Qadar, membawakan perkataan para ulama dalam masalah ini)
Imam Syafi’i berkata, “Menurut pemahamanku, wallahu a’lam, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab sesuai yang ditanyakan, ketika ditanyakan kepada beliau, ‘Apakah kami mencarinya di malam ini?’ Beliau menjawab, ‘Carilah di malam tersebut.’”
Pendapat yang paling kuat, terjadinya malam Lailatul Qadar itu pada malam terakhir bulan Ramadhan berdasarkan hadits ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, beliau berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam beri’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dan beliau bersabda:
“Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan.” (Bukhari (4/225) dan Muslim (1169))
Jika seseorang merasa lemah atau tidak mampu, janganlah sampai terluput dari tujuh hari terakhir, karena riwayat dari Ibnu Umar, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Carilah di sepuluh hari terakhir, jika tidak mampu maka janganlah sampai terluput tujuh hari sisanya.” (HR. Bukhari (4/221) dan Muslim (1165))
“Aku melihat mimpi kalian telah terjadi, barangsiapa yang mencarinya carilah pada tujuh nari terakhir.”
Telah diketahui dalam sunnah, pemberitahuan ini ada karena perdebatan para shahabat. Dari Ubadah bin Shamit Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam keluar pada malam Lailatul Qadar, ada dua orang sahabat berdabat, beliau bersabda:
“Aku keluar untuk mengkhabarkan kepada kalian tentang malam Lailatul Qadar, tapi ada dua orang berdebat hingga tidak bisa lagi diketahui kapannya, mungkin ini lebih baik bagi kalian, carilah di malam 29, 27, 25 (dan dalam riwayat lain, tujuh, sembilan dan lima).” (HR. Bukhari (4/232))
Telah banyak hadits yang mengisyaratkan bahwa amalan Lailatul Qadar itu pada sepuluh hari terakhir, yang lainnya menegaskan dimalam ganjil sepuluh hari terakhir. Hadits yang pertama sifatnya umum, sedang hadits keuda adalah khusus, maka riwayat yang khusus lebih diutamakan daripada yang umum. Dan telah banyak hadits yang lebih menerangkan bahwa malam Lailatul Qadar itu ada pada tujuh hari terakhir bulan Ramadhan, tetapi ini dibatasi kalau tidak mampu dan lemah, tidak ada masalah, dengan ini cocoklah hadits-hadits tersebut tidak saling bertentangan, bahkan bersatu tidak terpisah.
Kesimpulannya, jika seorang muslim mencari malam Lailatul Qadar carilah pada malam ganjil sepuluh hari terakhir, 21, 23, 25, 27 dan 29. Kalau lemah dan tidak mampu mencari pada sepuluh hari terakhir, maka carilah pada malam ganjil tujuh hari terakhir yaitu 25, 27 dan 29. Wallahu a’lam.
3. Bagaimana mencari malam Lailatul Qadar
Sesungguhnya malam yang diberkahi ini barangsiapa yang diharamkan untuk mendapatkannya, maka sungguh telah diharamkan seluruh kebaikan (baginya). Dan tidaklah diharamkan kebaikan itu melainkan (bagi) orang yang diharamkan (untuk mendapatkannya). Oleh karena itu dianjurkan bagi muslimin (agar) bersemangat dalam berbuat ketaatan kepada Allah untuk menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan pengharapan pahala-Nya yang besar, jika (telah) berbuat demikian (maka) akan diampuni Allah dosa-dosanya yang telah lalu.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Barangsiapa berdiri (shalat) pada malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari (4/217) dan Muslim (759))
Disunnahkan untuk memperbanyak do’a pada malam tersebut. Telah diriwayatkan dari Sayyidah ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwa dia bertanya, “Ya Rasulullah, apa pendapatmu jika aku tahu kapan malam Lailatul Qadar (terjadi), apa yang harus aku ucapkan?” Beliau menjawab”
“Ucapkanlah, Ya Allah Engkau Maha Pengampun dan Mencintai orang yang meminta ampunan, maka ampunilah aku.(Allahumma Innaka ‘Affuwun Tuhibul ‘Afwa Fa’fu anna)” (HR. Tirmidzi (3760), Ibnu Majah (3850) dari ‘Aisyah, sanadnya shahih)
Saudaraku -semoga Allah memberkahimu dan memberi taufiq kepadamu untuk mentaati-Nya- engkau telah mengetahui bagaimana keadaan Lailatul Qadar (dan keutamaannya) maka bangunlah (untuk menegakkan shalat) pada sepuluh malam terakhir, menghidupkannya dengan ibadah dan menjauhi wanita, perintahkan kepada istrimu dan keluargamu utu ktu, perbanyaklah perbuatan ketaatan.
Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha:
“Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam apabila masuk pada sepuluh hari (terakhir bulan Ramadhan), beliau mengencangkan kainnya menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari (4/233) dan Muslim (1174))
Juga dari ‘Aisyah, dia berkata:
“Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersungguh-sungguh (beribadah apabila telah masuk) malam kesepuluh (terakhir) yang tidak pernah beliau lakukan pada malam-malam lainnya.” (Muslim (1174))
4. Tanda-tanda malam Lailatul Qadar
Ketahuilah hamba yang taat -mudah-mudahan Allah menguatkanmu dengan ruh dari-Nya dan membantu dengan pertolongan-Nya- sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menggambarkan paginya malam Lailatul Qadar agar seorang muslim mengetahuinya.
Dari ‘Ubai Radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Pagi hari malam Lailatul Qadar, matahari terbit tidak menyilaukan, seperti bejana hingga meninggi.” (Muslim (762))
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu ia berkata, kami menyebutkan malam Lailatul Qadar di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan beliau bersabda:
“Siapa di antara kalian yang ingat ketika terbit bulan seperti syiqi jafnah.” (Muslim (1170 /Perkataan, syiqi jafnah, syiq artinya setengah, jafnah artinya bejana. Al Qadhi ‘Iyadh berkata, “Dalam hadits ini ada isyarat bahwa malam Lailatul Qadar hanya terjadi di akhir bulan, karena bulan tidak akan seperti demikian ketika terbit kecuali di akhir-akhir bulan.”)
Dan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“(Malam) Lailatul Qadar adalah malam yang indah, cerah, tidak panas dan tidak juga dingin, (dan) keesokan harinya cahaya sinar mataharinya melemah kemerah- merahan.” (Thayalisi (394), Ibnu Khuzaimah (3/231), Bazzar (1/486), sanadnya hasan)
Semoga Artikel kami tentang Malam Lailatul Qadar yang kami samapikan bermanfa'at bagi semua.
sumber : Ikhtisar Shifat Shaum Nabi SAW Fi Ramadhan
Oleh : Syaikh Salim bin ‘Id Al-Hilaaly dan Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid
http://www.eramuslim.com/editorial/membidik-malam-lailatul-qadar.htm#.UfwkB1LDXjY
Malam Lailatul Qadar, keutamaannya sangat besar, karena malam ini menyaksikan turunnya Al Qur-an Al Karim, yang membimbing orang-orang yang berpegang dengannya ke jalan kemuliaan dan mengangkat ke derajat yang mulia dan abadi. Umat Islam yang mengikuti sunnah Rasulnya tidak memasang tanda-tanda tertentu dan tidak pula menacapkan anak-anak panah untuk memperingati malam ini, akan tetapi mereka berlomba-lomba untuk bangun di malam harinya dengan penuh iman dan mengharap pahala dari Allah.
Inilah wahai saudaraku muslim, ayat-ayat Qur-aniyah dan hadits-hadits Nabawiyah yang shahih menjelaskan tentang malam tersebut.
1. Keutamaan malam Lailatul Qadar
Cukuplah untuk mengetahui tingginya kedudukan Lailatul Qadar dengan mengetahui bahwasanya malam itu lebih baik dari seribu bulan, Allah berfirman:
“Sesungguhnya Kami menurunkan Al Qur’an pada malam Lailatul Qadar, tahukah engkau apakah malam Lailatul Qadar itu? Malam Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan, Pada malam itu turunlah malaikat-malaikat dan Jibril dengan izin Rabb mereka (untuk membawa) segala urusan, Selamatlah malam itu hingga terbit fajar.” (Al Qadar : 1-5)
Dan pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah:
“Sesungguhnya Kami menurunkan pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Ad Dukhan : 3 – 6)
2. Waktu turunnya Lailatul Qadar
Diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa malam tersebut terjadi pada tanggal malam 21, 23, 25, 27, 29 dan akhir malam bulan Ramadhan. (Pendapat-pendapat yang ada dalam masalah ini berbeda-beda, Imam Iraqi telah mengaran suatu risalah khusus diberi judul Syarh Shadr bi Dzikri Lailatul Qadar, membawakan perkataan para ulama dalam masalah ini)
Imam Syafi’i berkata, “Menurut pemahamanku, wallahu a’lam, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab sesuai yang ditanyakan, ketika ditanyakan kepada beliau, ‘Apakah kami mencarinya di malam ini?’ Beliau menjawab, ‘Carilah di malam tersebut.’”
Pendapat yang paling kuat, terjadinya malam Lailatul Qadar itu pada malam terakhir bulan Ramadhan berdasarkan hadits ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, beliau berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam beri’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dan beliau bersabda:
“Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan.” (Bukhari (4/225) dan Muslim (1169))
Jika seseorang merasa lemah atau tidak mampu, janganlah sampai terluput dari tujuh hari terakhir, karena riwayat dari Ibnu Umar, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Carilah di sepuluh hari terakhir, jika tidak mampu maka janganlah sampai terluput tujuh hari sisanya.” (HR. Bukhari (4/221) dan Muslim (1165))
“Aku melihat mimpi kalian telah terjadi, barangsiapa yang mencarinya carilah pada tujuh nari terakhir.”
Telah diketahui dalam sunnah, pemberitahuan ini ada karena perdebatan para shahabat. Dari Ubadah bin Shamit Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam keluar pada malam Lailatul Qadar, ada dua orang sahabat berdabat, beliau bersabda:
“Aku keluar untuk mengkhabarkan kepada kalian tentang malam Lailatul Qadar, tapi ada dua orang berdebat hingga tidak bisa lagi diketahui kapannya, mungkin ini lebih baik bagi kalian, carilah di malam 29, 27, 25 (dan dalam riwayat lain, tujuh, sembilan dan lima).” (HR. Bukhari (4/232))
Telah banyak hadits yang mengisyaratkan bahwa amalan Lailatul Qadar itu pada sepuluh hari terakhir, yang lainnya menegaskan dimalam ganjil sepuluh hari terakhir. Hadits yang pertama sifatnya umum, sedang hadits keuda adalah khusus, maka riwayat yang khusus lebih diutamakan daripada yang umum. Dan telah banyak hadits yang lebih menerangkan bahwa malam Lailatul Qadar itu ada pada tujuh hari terakhir bulan Ramadhan, tetapi ini dibatasi kalau tidak mampu dan lemah, tidak ada masalah, dengan ini cocoklah hadits-hadits tersebut tidak saling bertentangan, bahkan bersatu tidak terpisah.
Kesimpulannya, jika seorang muslim mencari malam Lailatul Qadar carilah pada malam ganjil sepuluh hari terakhir, 21, 23, 25, 27 dan 29. Kalau lemah dan tidak mampu mencari pada sepuluh hari terakhir, maka carilah pada malam ganjil tujuh hari terakhir yaitu 25, 27 dan 29. Wallahu a’lam.
3. Bagaimana mencari malam Lailatul Qadar
Sesungguhnya malam yang diberkahi ini barangsiapa yang diharamkan untuk mendapatkannya, maka sungguh telah diharamkan seluruh kebaikan (baginya). Dan tidaklah diharamkan kebaikan itu melainkan (bagi) orang yang diharamkan (untuk mendapatkannya). Oleh karena itu dianjurkan bagi muslimin (agar) bersemangat dalam berbuat ketaatan kepada Allah untuk menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan pengharapan pahala-Nya yang besar, jika (telah) berbuat demikian (maka) akan diampuni Allah dosa-dosanya yang telah lalu.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Barangsiapa berdiri (shalat) pada malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari (4/217) dan Muslim (759))
Disunnahkan untuk memperbanyak do’a pada malam tersebut. Telah diriwayatkan dari Sayyidah ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwa dia bertanya, “Ya Rasulullah, apa pendapatmu jika aku tahu kapan malam Lailatul Qadar (terjadi), apa yang harus aku ucapkan?” Beliau menjawab”
“Ucapkanlah, Ya Allah Engkau Maha Pengampun dan Mencintai orang yang meminta ampunan, maka ampunilah aku.(Allahumma Innaka ‘Affuwun Tuhibul ‘Afwa Fa’fu anna)” (HR. Tirmidzi (3760), Ibnu Majah (3850) dari ‘Aisyah, sanadnya shahih)
Saudaraku -semoga Allah memberkahimu dan memberi taufiq kepadamu untuk mentaati-Nya- engkau telah mengetahui bagaimana keadaan Lailatul Qadar (dan keutamaannya) maka bangunlah (untuk menegakkan shalat) pada sepuluh malam terakhir, menghidupkannya dengan ibadah dan menjauhi wanita, perintahkan kepada istrimu dan keluargamu utu ktu, perbanyaklah perbuatan ketaatan.
Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha:
“Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam apabila masuk pada sepuluh hari (terakhir bulan Ramadhan), beliau mengencangkan kainnya menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari (4/233) dan Muslim (1174))
Juga dari ‘Aisyah, dia berkata:
“Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersungguh-sungguh (beribadah apabila telah masuk) malam kesepuluh (terakhir) yang tidak pernah beliau lakukan pada malam-malam lainnya.” (Muslim (1174))
4. Tanda-tanda malam Lailatul Qadar
Ketahuilah hamba yang taat -mudah-mudahan Allah menguatkanmu dengan ruh dari-Nya dan membantu dengan pertolongan-Nya- sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menggambarkan paginya malam Lailatul Qadar agar seorang muslim mengetahuinya.
Dari ‘Ubai Radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Pagi hari malam Lailatul Qadar, matahari terbit tidak menyilaukan, seperti bejana hingga meninggi.” (Muslim (762))
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu ia berkata, kami menyebutkan malam Lailatul Qadar di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan beliau bersabda:
“Siapa di antara kalian yang ingat ketika terbit bulan seperti syiqi jafnah.” (Muslim (1170 /Perkataan, syiqi jafnah, syiq artinya setengah, jafnah artinya bejana. Al Qadhi ‘Iyadh berkata, “Dalam hadits ini ada isyarat bahwa malam Lailatul Qadar hanya terjadi di akhir bulan, karena bulan tidak akan seperti demikian ketika terbit kecuali di akhir-akhir bulan.”)
Dan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“(Malam) Lailatul Qadar adalah malam yang indah, cerah, tidak panas dan tidak juga dingin, (dan) keesokan harinya cahaya sinar mataharinya melemah kemerah- merahan.” (Thayalisi (394), Ibnu Khuzaimah (3/231), Bazzar (1/486), sanadnya hasan)
Semoga Artikel kami tentang Malam Lailatul Qadar yang kami samapikan bermanfa'at bagi semua.
sumber : Ikhtisar Shifat Shaum Nabi SAW Fi Ramadhan
Oleh : Syaikh Salim bin ‘Id Al-Hilaaly dan Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid
http://www.eramuslim.com/editorial/membidik-malam-lailatul-qadar.htm#.UfwkB1LDXjY
Label:
Baru,
Dakwah Pemikiran Islam,
Dunia luar,
Ilmu dunia dan akhirat,
Info Baru,
Inspirasi,
Inspiratif,
Khazanah,
Kisah Nyata,
Motivasi,
Motto hidup sukses,
News,
Pedoman Hidup,
Petunjuk
Langganan:
Postingan (Atom)


