Tampilkan postingan dengan label Khoiro. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khoiro. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 Oktober 2013

First Word

Sungguh, tak ada kata paling indah bagi seorang perempuan selain panggilan sayang nan lembut dari putri kecilnya. Dengan mulut mungil dan suara yang masih terbata

Ummi
Ummi
ya, aku mendengarnya. Bahkan dia beberapa kali mengulangnya.

Dia memanggilku dengan lembut
Segala Puji BagiMu Robb


Selasa, 11 September 2012

Fauzia Khoiry Lubna

Mendapatkan nama yang baik dari orangtuanya adalah hak setiap anak. Sebaliknya, memberikan nama yang baik untuk anaknya adalah kewajiban bagi setiap orangtua. Menyadari hal ini, semanjak tespek menunjukan dua garis merahnya, saya mulai mencari nama-nama yang bagus untuk anak saya nanti. Mencari di internet, buku, sampai majalah-majalah islam. Nama adalah doa. yup! setuju kan? Dan menurut ilmu psikologi, nama juga mempengaruhi jiwa seseorang. Nama semacam label yang meringkas seperti apa orang yang mempunyai nama tersebut.
  Lucunya, saya dan suami membuat nama untuk anak kami sekarang secara mendadak. :) Loh kok?
Karena semenjak hamil, saya terlalu percaya pada feeling saya jika anak yang ada dalam kandungan saya ini laki-laki. Jadi, saya sibuk membuat nama untuk bayi laki-laki. Dan Taraaaa, setelah menjalani USG di usia kandungan 8 bulan, dokter menyatakan jika anak saya perempuan. Hah? Sempet kaget juga sih. Berarti feeling saya salah. *eh, tapi dokter kan juga bisa salah. Dari sinilah saya mulai sibuk menyiapkan nama bayi perempuan. Sampai saya melihat tubuhnya yang merah dan kelaminnya yang ternyata perempuan, namanya belum ada. Bukan belum ada sih, tapi dari semua nama yang saya buat, belum ada yang cocok untuk kami berdua. Saya suka, suami nggak suka. Atau sebaliknya.

Ibarat tulisan, memberikan nama untuk anak kami seperti mengejar deadline. Sanak saudara dan tetangga yang menjenguk, acap kali menanyakan siapa namanya. Dan berulang kali juga saya memberikan jawaban yang sama, "belum ada".

Akhirnya, setelah menimbang, meneliti, dan mempejari, diputuskanlah nama anak kami dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Terereeeenggg
FAUZIA KHOIRY LUBNA


Fauzia diambil dari kata Fauzi yang artinya kemenangan
Khoiry, dari kata Khoir yang artinya kebaikan
dan Lubna artinya Kecerdasan (Dapet dari internet, entah ini bahasa apa ya?) heheheh ^^

Kalau digabung, kurang lebih maknanya akan jadi seperti ini
Seseorang yang akan memenangkan kebaikan dengan kecerdasannya.

Saat ini, kebaikan cenderung menjadi yang kalah. Sebut saja islam. Saat ini, islam menjadi asing bahkan untuk orang islam sendiri. Makanya kami memberikan nama ini untuk anak kami, semoga kelak, dia yang akan menjadi hamba yang senantiasa berjuang untuk kebaikan. Aaamiiiin

Ini doa dari Ummi, Abi, Nenek, Engkong, Om, Tante, Unti dan seluruh orang yang mencintaimu.


Aisyah Al Farisi
Dalam Lautan cinta-Nya

Minggu, 26 Agustus 2012

HIATUS YANG MENYENANGKAN



Kemana aja? Mungkin pertanyaan ini kali yaa, yang muncul di benak teman-teman blogger melihat morning Glory yang terbengkalai. Tak membalas koment apalagi memposting tulisan terbaru. (Edisi narsis ^o^) Yang jelas, si empunya ngga kemana-mana, hanya saja ada sesuatu, eh, seseorang yang mencuri seluruh perhatian.  Err, ngga seluruhnya juga sih.
    Selama lima bulan ini, saya mudik ke Sumedang. tiada lain tiada bukan kalau untuk mempersiapkan kelahiran, plus melahirkan di Sumedang juga. Bener yaa, pepatah yang bilang kalau kasih ibu itu sepanjang masa. Karena meskipun saya sudah menikah, tetap saja kasih sayangnya tak pernah putus. Sebaliknya, meskipun sudah dewasa dan menikah, tetap saja saya menyusahkannya. Tapi beliau nggak keberatan, justru seneng bukan main karena bisa menemani anaknya melahirkan dan berkata WELCOME pada cucu pertamanya. hehhe *emangnya keset :P
    Terhitung sejak awal April, saya kembali mendekam di rumah yang menyaksikan saya tumbuh. Dirawat sedemikian baiknya, hingga berat badan saya naik drastis tis tis. Saat itu usia kandungan saya sudah 8 bulan. Ketika menjalani USG ke Dokter kandungan, dokter memvonis si dede kecil berjenis kelamin perempuan. Yap itu berarti perkiraan engkongnya meleset jauh. *eh, tapi kan dokter juga manusia, bisa benar bisa salah. (Sedikit informasi, dokter yang memeriksa saya ini, adalah dokter yang membantu Ibu melahirkan saya 20 tahun yang lalu. jangan tanya ubannya udah ada berapa helai yaaa ^^). Selain itu, dokter juga memvonis berat badan si dede kecil, hanya 2,2 kilogram. Saya enjoy aja sih, orang badan saya juga kecil. Like mother like daughter lah. hiiiihiih.

    Perhatian dan kasih sayang dari orang-orang rumah, ternyata bisa membuat berat badan si dede naik pesat dalam kurun waktu 1 minggu. Berat badan saya naik lagi dan TFUnya juga naik. Alhamdulillah. Tapi yang sering membuat saya nangis malam-malam adalah Abinya yang tak bisa menemani saya melahirkan. Ketika hari perkiraan lahir semakin dekat, Abinya malah ada tugas ke luar kota. Nggak sedih gimana coba? Nyebelin bangeet kan? tapi yaa sudahlah, kita kan nggak bisa memaksakan kehendak kita. Cukup ngelus dada dan bilang pada diri sendiri sebaik-baiknya pemberi kekuatan hanya Allah.
    Tanggal 21 Mei usia kandungan saya tepat 40 minggu, tapi tak ada tanda-tanda si dede bakal lahir, akhirnya saya pergi ke Bidan menanyakan keadaan saya dan bayi saya. Bu bidan menyarankan saya untuk cek ke dokter lagi. Takutnya, plasentanya sudah tak berfungsi baik. katanya, kalau sudah 40 minggu, biasanya fungsi plasenta berkurang. Kebiasaan deh, ahli-ahli kesehatan sekarang, bukan menyemangati pasien, malah nakut-nakutin pasien. Jadi stres kan akhirnya.
    Singkatnya, tanggal 26 Mei saya pergi ke dokter. Pas diperiksa kata dokter sudah pembukaan dua. "Melahirkan di sini saja yaa," pintanya. Karena saya tahu bagaimana proses melahirkan di rumah sakit umum yang pakai induksi, otomatis saya menolak. Saya minta melahirkan di Bidan saja. Dokter mengijinkan tapi harus tes denyut jantung janin dulu, kalau sehat, baru boleh pulang. Hasilnya bisa membuat saya bernafas lega, denyut jantung si dede normal, itu artinya dia baik-baik saja. Pulanglah saya.
    Dari tanggal 26-28 sering terjadi kontraksi yang kuat, melilit-lilit. Tapi pembukaan baru sampai 3. Oalaaaah, lama nian. Tanggal 28 siang, bada dzuhur, Abinya telpon, dengan suara lembut, dia bilang ke dede untuk ikhlas keluar dari perut Umminya tanpa ditemani dia. Hasilnya sungguh ajaib, beberapa menit setelah Abinya ngobrol sama Dede, ketuban saya pecah. *eh, ini keajaiban atau bukan yaa. Tapi bagi saya ini adalah keajaiban, karena setelah itu kontraksinya mulai intens dan semakin kuat. Oleh Bapak dan tetangga, saya langsung dibopong ke ibu Bidan. Pukul 20.30, pembukaan baru sempurna. Bu Bidan langsung siap-siap untuk membantu saya mengejan. Sungguh terlalu deh, ini. Setengah jam ngejan, baru keluar kepala 5 cm. Sabar sabar. Gini juga kali yaa, pas Mamah melahirkan saya dulu.
    Alhamdulillah yaa setelah mendorong dede keluar beberapa kali lagi, akhirnya dede keluar juga pukul 21.45. Tangisan pertamanya begitu aduhai, seumpama oase di tengah sahara. Semoga Allah senantiasa membimbing saya untuk jadi ummi shalehah.


I can see the world ummi ^^ (1 jam setelah lahir)

Selasa, 07 Februari 2012

24 MINGGU



24 minggu, yah, kita sudah bersama selama itu. Apa kau bahagia? kalau aku? Sudah tentu kau tahu apa jawabanku. Apa yang kau rasakan ketika pertama kali aku membuka mata, maka yang pertama kali kuajak bicara adalah kau. "Pagi, Sayang. siap untuk jalani hari ini? kita mohon perlindungan dulu pada penguasa hari. bagaimana?" itu yang kukatakan padamu. Lalu, kau meresponnya dengan geliat kecil yang berhasil membuat senyumku merekah. Kau memang pintar membuatku tersenyum, Sayang.

Sayang, kau tahu? Orang-orang di luar sana bilang, jika aku sedang mengandungmu sekarang. Ingin sekali aku katakan pada mereka, jika sebenarnya kaulah yang tengah mengandungku. Kau yang menumbuhkan detak dan hembusan nafas baru dalam waktu-waktu yang kujalani. Kau tumbuhkan lagi saraf-saraf otak yang selalu berfikir untuk bahagia. Kau tumbuhkan lagi sepasang lengan yang akrab dengan kehati-hatian. Kau tumbuhkan lagi sepasang kaki yang selalu melangkah ke tempat-tempat penuh malaikat. Kau tumbuhkan lagi lisan yang senantiasa berdzikir. Dan kau tahu? yang paling membuatku bahagia adalah kau berkenan menumbuhkan lagi sebentuk hati yang penuh sabar dan syukur.
Terima kasih, Sayang. Sekali lagi terima kasih.

24 minggu. Coba kita hitung, berapa lama lagi kau akan meringkuk di sana.
1,2,3,4,....,ahh
Tak peduli seberapa lama lagi kau di sana.
Aku hanya ingin kau tahu, jika dimana pun kau berada, maka di sanalah kau akan temukan penjagaanku dan  kasih sayangku.

Sayang, tentang tendanganmu akhir-akhir ini, err... ngomong-ngomong kenapa menjadi semakin keras? ^^


#setelah mendengar detak jantungmu, detak kehidupanku terasa semakin berarti