Tampilkan postingan dengan label Catatan Ummi Kece. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Ummi Kece. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Februari 2014

Catatan Ummi Kece #4

Pundak kita lebih kuat untuk sekedar cobaan

Alhamdulillah, Khoiry mau punya ade nih. Tak disangka-sangka, tak direncanakan, saya hamil lagi. Karunia itu datang pada kami dari arah yang tak terduga. Saat ini usia kandungannya sudah 14 minggu. Alhamdulillah sehat, tak kekurangan satu apa pun.

Saat tahu hamil, saya sempat kaget dan sedikit khawatir juga. Aduuuuh, bisa nggak yah, saya ngurus baby lagi sementara Khoiry pun masih perlu perhatian. Ya Allah. Untungnya Allah cepat-cepat menyadarkan saya. Allah tak akan memberikan cobaan di luar kesanggupan hamba-hambaNya, kan? Kalau Allah sudah memberi, berarti kita mampu. Yap. Saya mampu. InsyaAllah.



kehamilan kedua ini tentu berbeda dengan kehamilan pertama. Saat pertama kali hamil, saya fokus pada kehamilan saya. Nah sekarang, saya harus pinter bagi-bagi waktu, perhatian plus nutrisi untuk dua malaikat saya. Meski sudah hamil lagi, saya tak mau menyapih Khoiry. Usianya baru 20 bulan, berarti haknya masih 4 bulan lagi untuk mendapatkan ASI. Saya yakin, tak akan terjadi apa-apa pada kandungan saya, pun pada Khoiry. Beberapa artikel yang saya baca di internet pun, kebanyakan tak menyalahkan seorang ibu hamil untuk tetap menyusui. Menyusui tandem namanya.

Perbedaan lain yang saya rasakan adalah saat ngidam. Subhanallah ngidam kali ini benar-benar luar biasa. Saat hamil Khoiry saya dan suami tinggal di kontrakan yang membuat kami jauh dari keluarga, saya tak ada yang membantu, alhamdulillah, ngidamnya aman-aman saja. hanya sempat ngeplek satu kali. Malah nafsu makan saya meningkat drastis kala itu. Suami sampai keder dibuatnya. Kehamilan kedua ini, saya tinggal di Sumedang, dekat dengan orangtua. Dan ternyata ngidamnya parah. Setiap pagi pasti saya migrain, beberapa hari malah saya nggak bisa untuk sekedar duduk. Terdamparlah seharian di kasur, untung ada orangtua saya yang bisa membantu ngemong Khoiry. Ditambah lagi karena rasa mual, hampir setiap makan, pasti makanannya keluar lagi. Perut kosong, migrainnya semakin menjadi. Ala maaa.

Dua keadaan ini membuat saya semakin sadar bahwa Allah selalu memampukan kita untuk menghadapi cobaan apa pun. Hamil sendirian baik-baik saja. Hamil dekat orangtua, sakit-sakitan. Yah, itulah skenario Allah yang luar biasa indah.

Jadi, sebenarnya tak ada alasan kita untuk selalu mempertanyakan setiap keputusan-Nya. Tak ada yang ingin kita bahagia dan selamat lebih dari Allah SWT. Right? :D

Sabtu, 26 Oktober 2013

First Word

Sungguh, tak ada kata paling indah bagi seorang perempuan selain panggilan sayang nan lembut dari putri kecilnya. Dengan mulut mungil dan suara yang masih terbata

Ummi
Ummi
ya, aku mendengarnya. Bahkan dia beberapa kali mengulangnya.

Dia memanggilku dengan lembut
Segala Puji BagiMu Robb


Rabu, 03 April 2013

Catatan Ummi Kece #3


KETIKA SI KECIL SAKIT

Sehat adalah salah satu nikmat yang sering lupa untuk kita syukuri. Padahal, ketika kesehatan itu diambil barang 1 hari saja, banyak hal-hal positif yang tak bisa kita lakukan. Tapi, sakit juga bisa menjadi wasilah kedekatan kita dengan Sang Pemilik Kehidupan manakala kita bersabar dengan kesakitan yang kita rasakan. Atau manakala kita sehat kita alpa untuk mengingatNya. Baru deh, pas sakit rajin ibadahnya (pengalaman).

Nah. Dalam postingan kali ini, saya hanya ingin berbagi pengalaman saya ketika Khoiry terserang demam. Ternyata kita lebih merasa khawatir ketika anak sakit dibandingkan ketika kita sendiri yang sakit. Saya kalang kabut. Dan berusaha melakukan hal terbaik untuk merawat anak saya. Saat itu, tanggal 3 Januari 2013, bada dzuhur, saya pegang kepala Khoiry, temperaturnya sedikit hangat. Saya biasa saja karena Khoiry memang terkadang hangat kepalanya. Namun saya mulai mengkhawatirkan kondisinya, karena setelah itu Khoiry tidak aktif bermain seperti biasanya. Bahkan dia tambah rewel dan minta digendong terus. Setelah magrib panasnya makin tinggi. Karena di rumah belum punya termometer, akhirnya saya hanya mengira-ngira berapa panasnya. Catatan untuk para Bunda, sebaiknya punya termometer di rumah agar bisa tahu suhu badan si kecil ketika sakit yaaaa. Jangan kayak saya *plaaaak. Perhitungan saya, pasti panasnya sudah mencapai 37 derajat. Saya mencoba menangkan diri saya dulu and be positif thinking. Si kecil baik-baik saja. Kata-kata itu yang terus saya rapalkan. Saya kemudian mengompresnya dengan air hangat untuk mengurangi suhu di permukaan kulit. Sayangnya, Khoiry malah berontak. Tidak mau dikompres. Lap kompres kerap kali ditariknya kemudian dilempar. Saya coba membujuknya dengan mengeyong-ngeyongnya (*halaaaah apa pula bahasa Indonesianya mengeyong?) ketika dia protes dan ngambek. Akhirnya dia diam untuk beberapa menit dan mau dikompres.


Semalaman dia hanya mau tidur digendongan. Oalaaaah begini to rasanya ketika anak sakit. Meskipun ngantuk tuk tuk berat, tapi sangat sulit untuk tidur jika mengingat kondisi si kecil. Bawaannya megang kepala si kecil terus.

Sudah menjadi kebiasaan di keluarga saya, jika ada anggota kelurga yang sakit, maka kami tidak langsung memberinya obat kimia. Terlebih dahulu, kami berikhtiar dengan obat-obat konvensional atau herbal. Alasannya? Obat-obat konvensionalinsyaAllah lebih baik untuk tubuh karena tidak menyebabkan efek samping. Seperti ketika adik saya demam, ibu biasanya menumbuk daun dadap kemudian diletakkan di kening, ketiak, dan dada adik saya. Berhubung di sini saya tidak tahu dimana saya bisa mendapatkan daun dadap, saya mencoba dengan cara lain yaitu dengan membalur seluruh tubuhnya dengan bawang merah keesokan harinya. (Saat itu bawang belum semahal sekarang yaaa).

Meskipun sakit, saya tetap memandikan Khoiry. Hal ini saya lakukan setelah membaca sebuah artikel, jika sakit bukan alasan untuk tidak memandikan anak. Bahkan jika tidak mandi, tubuh anak akan semakin banyak dihinggapi virus dan bakteri. Mandi air hangat juga salah satu alternatif jika anak tak mau dikompres. Makanya, saya ajak Khoiry berendam agak lama. Beruntungnya, dia memang senang jika diajak mandi.

Hari ketiga panasnya belum hilang. Sempat turun, tapi setelah itu naik lagi. Pikiran positif saya sedikit goyah, ketika kakak ipar menyarankan untuk periksa darah.Sekarang kan musim DBD, begitu katanya. Akhirnya saya menyerah dengan obat-obatan konvensional dan membawanya ke Bidan.

Setelah diperiksa ternyata suhu tubuh Khoiry sudah mencapai 38,6. MasyaAllah, saya kaget bukan main. pantesan dia lemes banget. Tak ada pemeriksaan lain. Setelah itu si ibunya mulai menumbuk obat. Entah obat apa, tapi yang jelas dia bilang obat ini harus dihabiskan. Aaaaah,saya tahu nih, pasti antibiotik. Selain obat ini, saya juga diberi parasetamol sirup untuk menurunkan panasnya. Diminumnya 4 jam sekali ya, Bu. Katanya.

Setelah sampai rumah, tak ada obat yang saya berikan ke si kecil. Alasannya simple, parasetamolnya mengandung alkohol. Saya dan suami setuju soal ini. Sebisa mungkin kami menghindari pemakaian alkohol sebagai obat atau tambahan makanan. Alasan yang kedua, saya menemukan artikel ini ketika searching di internet,

ANTIBIOTIK merupakan obat umum yang biasa Anda peroleh saat sakit. Biasanya, antibiotik diberikan berdasarkan resep dokter. Namun, Anda harus hati-hati karena bakteri kini kebal terhadap obat ini.

Jumlah bakteri resisten terhadap antibiotik telah meningkat dalam dekade terakhir. Hampir semua infeksi bakteri yang signifikan di dunia menjadi resisten terhadap pengobatan antibiotik yang paling sering diresepkan. Penggunaan berulang dan tidak tepat penyebab utama peningkatan bakteri resistan terhadap obat.

Menurut Institut Nasional Alergi dan Penyakit Infeksi, setiap kali menggunakan antibiotik, kita memberikan kuman kesempatan untuk bermutasi menjadi bentuk resisten terhadap antibiotik. Seperti kuman menjadi resisten, dokter terpaksa menggunakan obat berbeda, antibiotik lebih kuat, dan mungkin lebih berbahaya. Seperti beberapa kuman bisa terkena dan bertahan dari terapi antibiotik yang lebih kuat, mereka menjadi lebih sulit untuk diobati.

Beberapa jenis kuman seperti kuman penyebab tuberkulosis, infeksi luka, dan
pneumonia yang tidak lagi sensitif terhadap obat yang diberikan dokter untuk melawan mereka. Kuman juga dapat menjadi resisten terhadap antibiotik jika seseorang tidak mengambil resep, seperti yang diarahkan untuk seluruh panjang pengobatan. (health.okezone.com)

Jadi, saya tetep keukeuh pada bawang merah untuk menurunkan panas si kecil.
Alhamdulillah, di hari ke empat, panasnya turun dan Khoiry mulai aktif bermain lagi. Tapi di hari ke lima, treeeeng muncul ruam-ruam merah di wajah, dada, dan tangannya. Saya panik, apakah ini DBD atau campak?
Ternyata bukan. Khoiry terkena virus Roseola yang memang akan menyebabkan ruam-ruam merah setelah panas turun. Bedanya dengan campak, ruam-ruam merah akibat campak muncul ketika suhu tubuh masih panas. Alhamdulillah, saya lega. Penanganannya cukup dengan mandi dan sering menjaga kebersihan pakaian. Hahhha *ketauan deh jorook. Di hari ke tiga ruam-ruam itu hilang dengan sendirinya.

Oke, Ummi, Bunda, dan Mamah. Semoga bisa memetik pelajaran dari pengalaman saya ya. Kesimpulannya, ketika anak kita sakit, yang harus kita lakukan adalah
  1. Jangan panik dan positif thinking.
  2. Kenali gejala sakit yang muncul
  3. Usahakan jangan langsung memberi obat kimia pada si kecil karena akan menyebabkan tubuh ketergantungan pada obat. Akibatnya, sistem imunitas menjadi jelek (teori darimana ya?) Untuk demam, bisa membalurnya dengan bawang merah. Ketika pilek, bisa membuat aroma terapi dengan mencampurkan sereh atau kayu putih pada air mendidih kemudian disimpan dikamar tidur. Ketika batuk, bisa dengan menjemurnya ketika pagi dan memberi madu yang dicampur jeruk nipis (untuk anak di atas 1 tahun)
  4. Jika Ummi sudah khawatir dengan si kecil, bisa berikan obat kimia sesuai dengan petunjuk dokter.
  5. Berdoa untuk kesembuhan si kecil
  6. Tingkatkan imunitas si kecil dengan mengkonsumsi makanan yang kaya gizi, bisa ditambah zat penambah imun seperti madu atau vitamin c.
  7. Always be a wise mother ^^

Senin, 01 April 2013

Catatan Ummi Kece #2

Qada Seorang Anak


Berbicara qada dan qadar, menurut apa yang saya pahami, qada adalah takdir dari
Allah SWT yang dengannya kita tidak akan dimintai pertanggungjawaban. Misalnya jenis kelamin, bentuk fisik seseorang, dan warna kulit. Sedangkan qadar adalah takdir Allah yang dengannya kita akan dimintai pertanggungjawaban. Hal ini menyangkut pilihan-pilihan apa saja yang kita ambil selama hidup. Jujur atau bohong? Amanat atau khianat? Terpuji atau tercela? Pacaran atau nikah? Kopi atau susu? *eh
Memang kerap terjadi perdebatan tentang definisi qada dan qadar ini, tapi yang jelas, yang menjadi kewajiban kita adalah mengimaninya karena beriman pada qada dan qadar termasuk ke dalam rukun iman yang enam. (eh, bukankah sebelum beriman kita harus paham dulu? Nah lo!)


Allah SWT berfirman bahwa Dia hanya melihat keimanan seseorang, bukan yang lainnya.
Melihat firman Allah di atas, seharusnya kita tahu apa yang harus kita tingkatkan agar Allah melihat kita. Namun terkadang kita lebih sibuk dengan pandangan manusia dibandingkan pandangannya Allah. Sibuk menjadi baik agar dipuji kolega, sibuk merias diri agar disebut cantik tapi lalai beribadah untuk mendapat predikat takwa dari Allah. Astagfirullah (pengalaman). Sebenarnya sah-sah saja jika kita ingin terlihat baik di mata manusia. Tapi jangan sampai ini menjadi tujuan utama. Saya sempat terharu ketika melihat Aa Gym di acara just alvin. Beliau berkata, bahwa beliau bersyukur dengan apa yang terjadi pada beliau saat ini, (poligami kemudian popularitasnya merosot) karena dengan kejadian ini, beliau sadar Allah sedang menyadarkannya. Dulu, sebelum beliau melakukan poligami, beliau jarang memiliki waktu untuk keluarga. Dan yang lebih beliau sesalkan adalah terkadang ketika berdakwah beliau berdakwah sesuai pesanan dengan kata lain berdakwah agar para jamaah senang dengan apa yang disampaikannya. Tapi kini, beliau sadar,dakwah itu bukan untuk menyenangkan tapi untuk menyampaikan. Tak peduli jamaah senang atau tidak.

Banyak saya alami, saya lebih mementingkan nilai kemanusiaan dibandingkan kebenaran. Terkadang kita berpikir lebih baik untuk diam dan membiarkan keburukan dibandingkan bersuara tapi menyakiti dan jauhi. Abu Dzar Al Ghifari pernah berkata “Kebenaran bukanlah sebuah kebenaran jika tidak disampaikan!”
Membaca kalimat ini saya gemetar, betapa saya lebih sering diam dan membekap mulit saya sendiri.
(Iki piye, ko tulisannya melebar kemana-mana?)

oke, balik ke jalan yang benar. Sebenarnya tulisan saya ada hubungannya dengan qada dan keinginan untuk tampil baik di hadapan manusia. Lagi-lagi saya belajar dari malaikat kecil saya. She is Khoiry ! ^^
Sampai saat ini, rambut Khoiry belum tumbuh seperti seharusnya anak-anak seusianya. Gundul. Rambutnya cuma beberapa lembar. Kalau liat wajahnya yang ayu, saya suka berangan-angan, pasti lebih cantik kalau rambutnya lebat. Hehhee. Beberapa keluarga dan tetangga saya menyarankan untuk membalurnya dengan seledri atau minyak kemiri. Karena saya rada-rada males, saya lebih memilih membeli minyak rambut bayi yang praktis. Nggak pake acara numbuk-numbukan. Kata iklannya sih bisa membantu melebatkan rambut bayi. *hahag kemakan iklan. Setelah empat bulan dibaluri minyak, hasilnya lumayan. *gigit bibir. Kepala Khoiry kalau dari jauh sudah keliatan hitam. :p
melihat hal ini, saya coba introspeksi diri. Kok saya yang ribet yaa? Khoiry juga anteng-anteng aja dengan gundulnya. Sebenarnya saya ingin menyenangkan siapa? Saya sendiri atau Khoiry?

Dan setelah saya bertanya pada hati saya, ternyata saya melakukan ini agar Khoiry terlihat lebih cantik di mata manusia. Kan kalo Khoirynya cantik, Umminya juga yang bangga.

Dan stop stop stop, saya kembali membersihkan hati saya.mulai saat ini, yang jadi prioritas bukan mencantikan fisik Khoiry, tetap mencantikkan akhlaknya ^^
Iya kan moms? Kalau soal rambut, nanti juga tumbuh. Masa mau gundul terus sih?


Rabu, 06 Februari 2013

Catatan Ummi Kece #1


Aaaaaa, alhamdulillah. Setelah beberapa hari nggak nulis, akhirnya hari ini bisa nulis juga. Ternyata menulis di sela-sela kewajiban seorang ibu itu nggak gampang. Butuh manajemen waktu yang baik banget agar tak ada satu pun yang terlantar.

Oke. Seperti postingan berseri saya ketika hamil yang berjudul Catatan Calon Bunda, kali ini setelah punya anak saya juga ingin menulis lagi sebuah postingan berseri agar moment-moment dan pelajaran berharga yang terserak pada bentangan waktu yang saya jalani dengan si kecil tak ada yang terlupa. Potingan kali ini saya beri judul Catatan Ummi Kece. *hahhha (dilarang ketawa) mungkin kalian heran kenapa dulu Bunda sekarang Ummi? Dulu saya memang ingin anak saya memanggil saya Bunda, tapi setelah dipikir-pikir lagi, mending Ummi aja deh, itung-itung menerapkan bahasa arab sejak dini. *tsaaah :P
Teruuuus, kenapa harus Ummi Kece. Dalam kamus gaul, kece itu artinya cantik banged, ganteng bangeud, kereeeen deh pokoknya. Nah, berhubungan dengan hal ini, saya pakailah kata kece, untuk mendeskrifsikan diri saya. Hahahahah :D (Ketawanya makin lebar) Bukan saya narsis, eh emang narsis ding, tapii, nama itu kan doa. Mudah-mudahan saya benar-benar jadi Ummi kece, artinya Ummi yang cantik hatinya, akhlaknya, tutur katanya, dan juga cantik parasnya. Ammiiin. ^^

Di catatan saya yang pertama ini, saya ingin berbagi kisah tentang kaidah kausalitas seorang Ummi. Yang belum tahu kaidah kausalitas, saya jelasin dulu yaaa, kaidah kausalitas itu, adalah adalah upaya untuk mengaitkan sebab dengan akibatnya.  Kaidah kausalitas atau disebut juga As-Sababiyyah merupakan landasan dalam menjalankan berbagai aktivitas (qâ’idah ‘amaliyyah) dan meraih berbagai tujuan.  Dengan memenuhi tuntutan kaidah ini, suatu aktivitas dapat terlaksana, bagaimanapun keadaannya, baik mudah ataupun sulit.  Dengan memenuhi tuntutan kaidah ini pula, tujuan suatu aktivitas akan dapat diraih, bagaimanapun keadannya, baik dekat ataupun jauh.

Ketika kita sekolah dulu kita sudah belajar tentang hubungan sebab dan akibat. Contoh kecilnya. Karena tidur malam, seorang anak bangun kesiangan. Sebabnya adalah tidur malam dan akibatnya adalah bangun kesiangan.

Seorang Ummi jelas harus mempunyai kaidah kausalitas dalam menjalani perannya. Kaidah kausalitas ini tentu saja akan membantu kita dalam menentukan goalapa saja yang ingin kita raih dan membantu juga dalam proses mewujudkannya.

Saya misalnya, ingin menjadi ibu yang mendidik anak saya dengan hati bukan dengan kekerasan. Maka, ini adalah akibat yang saya tentukan, sebabnya bisa kita rinci satu-satu. Misal, ketika akan sholat kemudian si kecil tiba-tiba menangis, maka yang saya lakukan, adalah membujuknya bukan memarahinya.
Atau contoh yang lain, saya ingin anak saya di usia 2 tahun sudah hafal al fatihah, maka sebab yang harus saya tempuh adalah sering-sering membacakannya pada si kecil atau membacakan al fatihah ketika dia akan tidur.

Sebenarnya banyak sekali pencapaian yang ingin kita raih sebagai seorang Ummi, hanya saja terkadang kita melanggar sendiri bahkan tidak melaksanakan sebab-sebab yang akan mengantar kita pada pencapaian yang kita inginkan.

So, mulai dari sekarang yang harus kita lakukan adalah menentukan garis finish dan run!:)
hiladahanun.blogspot.com



Regards,
Ummi Khoir