Tampilkan postingan dengan label Catatan kecil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan kecil. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Februari 2014

Hallo! di Sumedang Juga Ada Signal Loh

Hallo temans blogger :))

Hallo Februari :) Ah rasanya terlalu lama saya menghilang hingga banyak hal-hal yang terlewatkan. Postingan ini, adalah postingan pertama saya di Sumedang. Sumedang dear! You knows?
Sumedang adalah kota kecil di pinggiran Jawa Barat. Jangan membayangkan yang terlalu primit tentang Sumedang ya, saat ini pembangunannya lumayan pesat, ada pembangunan Waduk Jatigede dan sebentar lagi akan di bangun bandara Kertajati di perbatasan Sumedang-Majalengka.

Hanya saja jaringan internet di sini agak lumayan susah (hahha :D karena saya tinggal di kampungnya, bukan di Sumedang kotanya). Saya harus berjibaku dengan rasa sabar hanya untuk membuka satu halaman blog saja. Hal ini tentu saja membuat saya kudet alias kurang update. Yah, mau bagaimana lagi, siapa suruh pindah ke kampung toh? Akhirnya, karena bisnis baru suami pun harus menggunakan fasilitas internet, maka suami membuat antena odong-odong untuk menguatkan signal. Suami bilang sih, antena yagi namanya. Kenapa saya bilang odong-odong? Karena membuatnya juga alakadarnya. Dibuat dari alumunium bekas antena televisi yang sudah tak terpakai dan seserok (alat untuk memasak). Hasilnya, yaa Alhamdulillah, saya bisa update lagi sekarang :) *joged hawaii


seserok yang malang


bekas antena tv yang dimodifikasi


jadinya seperti ini



Tanggal 28 Desember tahun lalu, (sudah 1 bulan lebih yaa) saya, suami beserta si kecil resmi pindah ke Sumedang. Tak lagi jadi perantau di Tangerang sana. Banyak hal-hal yang harus dipersiapkan dan ditambah acara ngidam anak kedua jadinya keburu cape untuk sekedar buka laptop.

Banyak yang menyayangkan keputusan kami untuk mudik ke Sumedang.
“Ngapain pindah ke kampung, enakan di kota, cari uang gampang. Di kampung mah susah.”
komentar seperti ini yang sering mampir di telinga. Well, saya tak menampik komentar mereka-mereka. Di kota, peluang dan kesempatan memang terbuka lebar. Tapi ketika hati berbicara lain?
Ritme kehidupan yang monoton, adalah alasan awal suami untuk resign. Berangkat kerja pagi dan pulang larut selama 6 hari dalam seminggu, lambat laun membuatnya jenuh. Selama enam hari itu tak ada yang dilakukannya dan dikejarnya selain pekerjaan. Untuk suami, bekerja kan ibadah. Yah! Bekerja memang ibadah, tapi ketika pekerjaan ini melalaikan kewajiban-kewajiban yang lain, apa harus dipertahankan? Sedikit waktu untuk silaturahim, tak ada waktu untuk tolabul ilmi ilmu agama, bahkan untuk shalat berjama'ah di masjid pun susah. Cape lah, ini lah itu lah. Sebagai seorang istri, saya tak tega melihatnya. Padahal sebelum bekerja di Jakarta, suami getol ngaji dan tak ketinggalan shalat di masjid. Walaupun salary yang diterima jauh lebih besar saat bekerja di Jakarta, tapi saya lebih nyaman dengan kehidupan saya ketika dia belum bekerja di Jakarta.

Apa hanya harta yang kami cari di dunia?

Jawabannya jelas bukan, walaupun harta memang diperlukan untuk sarana beribadah dan melangsungkan kehidupan, tapi tak otomatis kita menjadikannya sebagai tujuan utama. Ya kan?
Akhirnya, setelah istikharah dan merenung di gua, kami memutuskan untuk mudik dan belajar berbisnis.

Hasilnya? Jangan tanya sekarang ya, kami masih berada di anak tangga ke satu, eh, kedua, nanti kalau kami sudah ada di atas, kami ceritakan bagaimana susah payahnya kami sampai di atas sana.
Amiin.

Kalau sudah rizki, mau di kampung atau di kota, ya nggak akan kemana to.
Yang penting itu ikhtiarnya dimaksimalkan :))

Rabu, 11 Desember 2013

Saya Kapok Naik Kereta Api

“Saya kapok naek yang beginian.”

Inilah perkataan yang entah sadar atau tidak diucapkan salah seorang korban tabrakan KRL dan truk tangki pertamina, Senin 9 Desember 2013 di perlintasan kerata api Pondok Betung, Bintaro. Si Ibu mengucapkannya dengan air mata yang menganak sungai. Kentara sekali dari raut wajahnya jika dia masih panik.

credit
Suatu musibah memang sering membuat seseorang kapok atau trauma. Nggak mau begini lagi nanti jadi begitu. Nggak mau begitu lagi nanti jadi begini. Yah, pengalaman memang guru yang terbaik. Jangan sampai kita menjadi keledai yang jatuh di lubang yang sama. Hanya saja, ke-kapokan si ibu ini, tidak bisa terrealisasikan. Karena apa? Karena semua moda transfortasi, baik itu darat maupun udara memiliki resiko kecelakaan yang sama. Dengan jalan kaki pun kita tak bisa terhindar dari kecelakaan. Jatuh lah misalnya, kesandung misalnya, atau tertabrak mobil yang sembrono seperti peristiwa di tugu tani. Intinya sebagai manusia kita hanya bisa berikhtiar untuk hati-hati. Toh, musibah sudah menjadi kehendak yang Mahakuasa.

Lantas haruskah kita menyalahkan Pencipta sepenuhnya?
Tentu tidak, kita harus mengkaji apakah ada faktor human eror yang melatarbelakangi musibah tersebut atau tidak? Kalau ada, berarti sebagai manusia kita diharuskan untuk bermuhasabah diri dan berusaha memperbaikinya.

“Dan musibah apa saja yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syuro: 30)

“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari sebab (kesalahan) dirimu sendiri.” (QS. an-Nisa`: 79)

Rumah kontrakan saya, kurang lebih berjarak 2 kilo meter dari stasiun Sudimara, Jombang. Tentunya dekat juga dengan perlintasan kereta api. Beberapa kali saya pernah melintas ke sana. Keadaannya sungguh luar biasa. Ketika sirine berbunyi dan palang pintu belum tertutup sempurna, banyak para pengendara motor yang menerobos. Lebih dari itu, terkadang ketika palang pintu sudah tertutup pun, masih saja ada yang nekat menerobos. Entah apa yang mereka kejar. Barulah setelah kereta cukup dekat, para pengendara dengan ikhlas menghentikan laju kendaraannya. Saat kereta melintas di hadapan kami jangan harap keadaannya berjalan lancar. Kebiasaan saling menerobos, salip sana salip sini masih kerap terlihat. Bayangkan saja, banyak pengendara yang seharusnya antri di belakang kendaraan lain, dengan sangat nekat menyerobot lajur sebelah kanan. Al hasil ketika palang pintu di buka kembali kendaraan dari arah berlawanan sulit untuk bergerak maju. Kemacetan pun tak terhindari.

Melihat fakta perlintasan kereta api di tempat saya, saya bisa menganalisis tiga kemungkinan tentang kecelakaan senin kemarin.

Kemungkinan pertama, sirine di perlintasan kereta api rusak hingga truk tangki tidak tahu akan ada kereta yang lewat. Akhirnya dia menerobos dan tertabrak. Namun jika benar sirine rusak, harusnya bukan hanya truk tangki saja yang menerobos. Kendaraan yang lain pun pasti anteng melaju tanpa tahu ada kereta api yang lewat.

Kemungkinan kedua, truk tangki yang nekat menerobos. Ketika sirine telah dibunyikan truk tangki tak menghentikan laju kendaraannya hingga dia berada di tengah perlintasan. Dan akhirnya tertabrak karena kereta sudah terlalu dekat.

Kemungkinan ketiga, truk tangki yang menerobos terpaksa berhenti di tengah perlintasan karena jalan di depannya sudah tertutup penuh dengan kendaraan lain yang menyerobot lajur kanan untuk berhenti.

Kemungkinan-kemungkinan di atas hanya hipotesa saya sebagai ibu rumah tangga yang tinggal dekat stasiun. Hahhha :D
Kronologis kejadian yang sebenarnya bisa kita tahu setelah polisi menyelesaikan proses penyidikan.

Dengan adanya musibah ini, seharusnya kita selaku pengguna jalan dan berbagai instansi terkait bisa mengambil pelajaran. Pelajaran apa?
Sebagai pengguna jalan kita harus bisa lebih sabar mematuhi rambu-rambu lalu lintas. Peraturan dibuat bukan untuk dilanggar, kan? Tapi untuk menjamin keselamatan kita semua. Syukurilah kesemrawutan jalan dengan tidak menambahnya semakin semrawut.

Dan untuk pemerintah serta PT. KAI jangan sampai ada lempar tanggungjawab seperti yang saya lihat di media massa. PT. KAI mengklaim menyediakan palang pintu diperlintasan bukan tugasnya. Pemerintah pun terlihat ogah turun tangan. Lantas siapa yang akan bertanggungjawab memenuhi kebutuhan rakyatnya?
Inilah akibatnya ketika sarana dan prasarana umum dikuasai oleh swasta. Swasta merasa tak punya tanggungjawab. Pemerintah pun lepas tangan.

Selasa, 10 Desember 2013

Tips Jitu Tampil Wangi tanpa Parfum

Dalam islam seorang muslimah dilarang memakai wewangian ketika keluar rumah. Atau yang lebih kita kenal dengan parfum. Sebagaimana hadits Rasulullah SAW.

أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوا مِنْ رِيحِهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ
Seorang perempuan yang mengenakan wewangian lalu melalui sekumpulan laki-laki agar mereka mencium bau harum yang dia pakai maka perempuan tersebut adalah seorang pelacur.” (HR. An Nasa’i, Abu Daud, Tirmidzi dan Ahmad. Syaikh Al Albani dalam Shohihul Jami’ no. 323 mengatakan bahwa hadits ini shohih)

Nah ngeri kan ganjarannya jika kita melanggar larangan ini? Disamakan dengan pelacur loh!

Wah! Tapi aku nggak bisa kalau nggak pake parfum. Nggak pede. Nanti gimana kalau bau. Kan nggak enak juga?

credit
Alasan-alasan seperti ini yang kerap dikemukakan para muslimah ketika disodorkan dengan larangan memakai wewangian. Bagi sebagian mungkin orang parfum adalah sesuatu yang tak bisa ditinggalkan. Kalau nggak pakai parfum berasa ada yang kurang.
Nanti nggak pede lah, bau keringat lah, bau apek lah dan sebagainya. Seorang muslimah memang harus wangi, apa jadinya kalau seorang muslimah bau? Beeeeuuh, bagaimana mau menciptakan citra islam yang indah kalau muslimah-nya sendiri bau apek?

Namun larangan tetaplah larangan. Tidak bisa diganggu gugat dengan alasan apa pun kecuali seseorang akan kehilangan nyawanya ketika tidak memaki parfum. Lah emangn ada? :p
Nah, gimana caranya biar tetep pede meski nggak pakai parfum?
Sebagai Ummi yang kece saya punya solusinya.

  1. Mandi
Salah satu sumber bau yang kita cium berasal dari keringat yang dikeluarkan oleh tubuh kita. Kita tak lantas menyalahkan keringat. Karena berkeringat adalah salah satu proses eksresi dan adaptasi tubuh terhadap udara yang panas. Jadi se-bau apa pun syukurilah ya temans :D
Agar tak menjadi masalah, bau keringat bisa kita hilangkan dengan mandi teratur minimal 2 kali sehari.
Kebersihan sebagian dari iman.
  1. Keramas setiap hari
    Keringat di rambut juga bisa menjadi sumber bau. Apalagi ketika kita memakai hijab, otomatis keringat yang kita keluarkan akan lebih banyak. Jadi bersihkan rambut dengan rutin.

  2. Gosok Gigi
    Bau mulut bisa juga menjadi sumber ketidak-pedean seseorang. Maka dari itu gosok gigilah ketika selesai sarapan dan sebelum tidur malam. Bahkan Rasulullah dalam sebuah haditsnya mengatakan, jika tidak memberatkan beliau ingin menganjurkan bersiwak setiap akan shalat. Gimana nggak keren coba? Masa bertemu dengan manusia kita pol-polan? Tapi ketika hendak menjamu Allah kita alakadarnya saja?

  3. Pakai Deodorant
    Kalau nggak boleh pakai parfum, kita masih boleh kok pakai deodorant. Deodorant bisa mengurangi bau badan dan sedikit mengurangi keringat. Sepanjang pengalaman saya, wangi deodorant tidak semerbak sampai tercium keluar, InsyaAllah tidak akan menimbulkan fitnah. 

  4. Menambahkan pewangi pakaian ketika mencuci

    credit

    Pakaian bisa juga menjadi sumber bau. Apalagi di musim hujan seperti sekarang, pakaian yang tidak tersentuh sinar matahari biasanya akan berbau apek. Untuk mengatasinya bisa menggunakan pewangi pakaian. Banyak merk yang tersebar dipasaran, kita bisa memilih wanginya sesuai dengan selera kita.

  5. Menambahkan wewangian ketika menyetrika
    Tips nomor 5 dan nomor 6 adalah pilihan buat temans. Temans lebih suka melakukan yang mana? Tinggal dipilih saja. Yang terpenting pakaian kita wangi. Kalau saya lebih suka opsi ke 5. selain lebih simple dan nggak ribet saya lebih senang wangi pewangi pakaian. Biasanya saya suka mual ketika menyetrikan memakai pewangi. Wanginya lama-lama bikin enek. Selain itu waktu yang dihabiskan untuk menyetrikan pun semakin lama karena harus nyemprot-nyemprot dulu. Padahal saya nggak seneng banget sama pekerjaan satu ini. Hihi :P

Nah, sudah siap untuk tidak memakai parfum?

Selain melaksanakan kewajiban, tidak memakai parfum juga bisa mengurangi efek rumah kaca loh. Usut punya usut, freon (bener nggak yah nulis nya?) yang ada dalam parfum salah satu pemicu terjadinya global warming.

Fakta lain, sebagian ulama ada yang berpendapat jika alkohol dalam parfum digolongkan najis. Karena itu ketika kita shalat dengan memakai pakaian yang mengandung parfum, maka shalat kita tidak sah.

Ingat temans, Allah tidak menilai seseorang dari bentuk fisiknya tapi Allah menilai seseorang dari ketaqwaannya.

Jumat, 29 November 2013

Belajar Tangguh pada Simpay Tampomas

Tadi sore -tanpa sengaja- saya nonton acara Merajut Asa di Trans7. Wah, ternyata yang diliput adalah warga lereng gunung Tampomas di Sumedang. Tepatnya di desa Cibereum, kecamatan Cimalaka, kabupaten Sumedang. Saya tambah semangat mengikuti acara ini meski sudah di segmen terakhir.
Jadi pengen pulang kampung deh.

gunung tampomas


Tampomas adalah gunung vulkanik yang terletak di Sumedang. Tingginya 1684 meter dari permukaan laut. Saat ini, statusnya dinyatakan tidak aktif lagi. Entah di tahun berapa, gunung ini terakhir kalinya meletus. Banyak dongeng, orang sunda menyebutnya sasakala, tentang gunung tampomas yang pernah saya dengar dari orang tua dulu. Seingat saya, tampomas mengandung arti tanpa emas. Dikisahkan, dulu ketika gunung ini hendak meletus, sang Bupati mendapat wangsit untuk menumbalkan keris yang terbuat dari emas kepada penunggu gunung. Pada akhirnya sang Bupati menumbalkan keris kesayangannya dan gunung ini pun tak jadi meletus. Awalnya gunung ini disebut tanpa emas, namun lama-kelaman berubah jadi tampomas. Yah, namanya juga dongeng.

Balik lagi ke acara Merajut Asa. Seperti sebelumnya, acara ini menayangkan tentang seseorang atau kelompok yang berhasil membawa perubahan di lingkungannya. Kali ini yang diangkat kisahnya adalah kelompok tani Simpay Tampomas yang memanfaatkan lahan tandus bekas galian pasir.

Seperti yang kita tahu, daerah lereng gunung vulkanik yang sudah meletus kaya akan pasir, oleh sebab itulah lereng tampomas sudah bertahun-tahun dikeruk pasirnya oleh perusahaan-perusahaan pertambangan. Sayangnya, aktifitas pertambangan pasir ini justru merusak lingkungan. Lereng gunung jadi rawan longsor, tanahnya tandus, serta udara di kawasan ini sangat panas.

credit

Simpay Tampomas, bisa menghijaukan lahan gersang bekas galian yang oleh sebagian orang ditelantarkan. Kontur tanah yang cenderung dipenuhi bebatuan tentu sulit untuk ditumbuhi tanaman. Namun, kelompok tani ini sangat brilian. Mereka menanami tanah tandus ini dengan tanaman yang bisa hidup di lahan kering, pohon kecembreng dan pohon buah naga. Di atas tanah seluas 3 hektar, tanaman ini tumbuh subur.

Berdasarkan keterangan ketua Simpay Tampomas, Pak Uha, mereka mendapatkan lahan karena banyak investor yang menginvestasikan uangnya di lahan ini. Panen raya kemarin saja, mereka berhasil mengumpulkan kurang lebih 21 ton buah naga. Wah!


Dari tayangan ini saya belajar banyak hal. Bukan hanya tentang pemanfaatan lahan tandus, tapi tentang esensi lahan tandus dan pohon buah naga itu sendiri.

Dalam kehidupan tak jarang kita menemui keadaan yang -menurut kita- kurang baik. Namun, jika kita kuat tentu saja kita bisa tumbuh dengan subur selayaknya pohon buah naga.
Allah sebaik-baiknya pembuat rencana.

Jika manusia bisa merusak, manusia bisa pula memperbaikinya, Pak Uha.

Selasa, 12 November 2013

Nikah Muda, Enak Nggak Sih?

Nikah muda itu enak nggak sih?

Pertanyaan ini yang kerap tersirat dan tersurat dari teman atau orang yang kenal saya, setelah saya menikah. Hhmm, kalau ditanya enak atau nggak jawabannya relatif. Tergantung dari sisi mana kita melihatnya.

Dari sisi kesempurnaan agama, nikah muda itu tentu enak karena di usia yang masih muda separuh agama kita telah sempurna.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُوسَى، نَا مُحَمَّدُ بْنُ سَهْلِ بْنِ مَخْلَدٍ الْإِصْطَخْرِيُّ، نَا عِصْمَةُ بْنُ الْمُتَوَكِّلِ، نَا زَافِرُ بْنُ سُلَيْمَانَ، عَنْ إِسْرَائِيلَ بْنِ يُونُسَ، عَنْ جَابِرٍ، عَنْ يَزِيدَ الرَّقَاشِيِّ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ تَزَوَّجَ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ نِصْفَ الْإِيمَانِ، فَلْيَتَّقِ اللَّهَ فِي النِّصْفِ الْبَاقِي»

Muhammad bin Musa menuturkan kepadaku, Muhammad bin Sahl bin Makhlad Al Isthakhri menuturkan kepadaku, Ishmah bin Mutawakkil menuturkan kepadaku, Zafir bin Muslimmenuturkan kepadaku, dari Israil bin Yunus, dari Jabir, dari Yazid Ar Raqqasyi, dari Anas bin Malik, ia berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ‘barangsiapa menikah, ia telah menyempurnakan setengah agamanya. maka hendaknya ia bertaqwa kepada Allah untuk setengah sisanya‘”

 Dari sisi ibadah, juga enak tuh. Sebagai suami atau pun istri kita punya ladang pahala yang baru setelah menikah. Ibadah juga jadi tenang karena tak memikirkan lagi siapa ya tulang rusuk saya? Atau siapa ya belahan jiwa saya? Cielaaa ini mah kebimbangan anak-anak galau.

Sisi positif yang lain, secara otomatis kita terhindar dari zina hati, zina mata, zina pendengaran, zina penciuman, zina perabaan, *tambah ngaco nih tulisan. Yah.intinya kita bisa menjada keiffahan kita karena sudah punya seseorang yang halal, inget ya yang HALAL, untuk menyalurkan naluri nau (naluri melestarikan keturunan-tertarik kepada lawan jenis termasuk di dalamnya-) kita.

Apalagi setelah punya anak, wah kebahagiaannya jadi berlipat-lipat ganda, double, triple deh pokoknya. Saya menulis di buku Maka Menikahlah!

Saya harus bahagia dengan pernikahan ini. Di saat teman-teman yang lain masih disibukkan dengan kesendirian, saya tidak. Di saat teman-teman yang lain terlena dengan gemerlap masa muda, saya dibuat terlena akan janji-janjiNya untuk seorang istri solehah. Dan di saat saudara-saudara saya yang sudah dewasa belum menikah, saya justru menikah di usia saya yang masih muda.

Yah, menikah adalah sesuatu yang harus kita syukuri.


Setelah yang enak-enak, kita cicip yang asem, pahit, getirnya yu!

Setiap pilihan, baik atau buruk, pasti ada resiko yang menyertainya kan? Termasuk menikah. Nah, jadi apa nggak enaknya dari menikah muda?
Sebenarnya perkara nggak enak ini bisa disulap jadi enak kalau kita bisa menikmati dan mensiasatinya. Cuma kadang ego manusia nggak bisa diredam dengan mudah, ya? *nyari alibi

Di usia saya yang masih muda (iya gitu? Hahhha) 21 tahun sekarang, banyak hal yang bisa dilakukan gadis seumuran saya, tapi saya nggak bisa melakukannya. Ya, misal jalan-jalan bareng sohib semaunya, kongkou-kongkou, mejeng atau apalah. Sementara saya sudah disibukkan dengan suami, anak, dan tugas domestik di rumah. Ini nih, yang kadang bikin nyesek. Berasa pengen kabur aja :D
Tapi seperti yang saya bilang, perkara nggak enak ini bisa hilang kalau kita bisa menikmatinya dan mensiasatinya. Misal dengan ngajak suami jalan bareng atau melakukan hal-hal konyol berbau anak muda dengan suami. Kan romantis tuh! Suiiit suiit

Disamping itu, di usia kita yang muda, kita juga harus siap dengan tanggung jawab seorang istri dan ibu yang tidak sedikit. Harus pinter-pinter bagi waktu untuk melaksanakan kewajiban dan keinginan kita yang bisa muncul kapan saja.

Apa lagi ya?
Menikah itu bukan tentang aku dan kamu. Tapi tentang kita. *agak lebay nih tulisan.
Tapi ini beneran loh, setelah menikah kita harus bisa meredam ego yang terkadang atau bahkan sering bertentangan dengan keinginan pasangan kita. Menyatukan dua kepala dan badannya dalam satu rumah tentu bukan hal yang mudah. Di sinilah butuh ke-saling pengertian dari kedua belah pihak, baik suami atau istri, agar sebisa mungkin meramu perbedaan menjadi sebuah anugerah.

Sudah deh.
Jadi inti tulisan ini apa dong?

Hemat saya, menikah itu, mau muda atau tua, yang paling penting adalah adalah kesiapan jiwa dan mental kita.
Kalau sudah merasa siap dan ada calonnya, kenapa harus ditunda?

Senin, 04 November 2013

Tahun Baru : Resign Yuk!

Awal tahun baru dibuka suami dengan menyerahkan surat pengunduran diri ke kantor tempat dia bekerja. Sebenarnya hal ini (resign) adalah resolusi kami tahun yang lalu. Namun karena berbagai pertimbangan dan tipisnya nyali kami, resolusi itu baru tercapai sekarang. Banyak alasan yang akhirnya membuat suami memutuskan untuk resign dari kantor dan akhir Desember pulang kampung  ke Sumedang. Orangtua, keluarga, waktu, dan ibadah menjadi salah empatnya.

Suami bukan mau melamar ke tempat lain atau sudah mendapat panggilan dari kantor lain. Suami saya ingin pulang kampung. Yah, keputusan ini cukup membuat saya agak galau juga. Cara bertahan hidup orang-orang di desa dan di kota tentu jauh berbeda. Di kampung mana ada kantor? Yang ada sawah, kebun, peternakan. Sejauh yang saya tahu, suami tidak memiliki (belum memiliki) keahlian di bidang itu. Tapi katanya dia mau belajar. Mau belajar tentang penggemukan sapi, pertanian dengan sistem organik dan banyak hal lagi. Selain itu dengan kemampuan di bidang IT yang dia miliki, dia juga berharap bisa membuat orang-orang di desa melek IT. Ya, Syukur-syukur suami bisa membawa perubahan yang signifikan bagi desa kami.

Satu hal yang menjadi keyakinan saya untuk mendukung keinginan suami adalah saya punya Allah yang tentu tidak akan menelantarkan hamba-hamba-Nya. Oalah, orangtua saya juga ada di desa. Kenapa harus takut untuk memulai hal yang baru? Bahkan udara di desa lebih segar daripada di kota. :))

Selamat Tahun Baru 1435 H
Semoga kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik :))

credit

Minggu, 27 Oktober 2013

Mengembalikan Semangat Kamu Muda

28 Oktober adalah hari yang kita peringati sebagai hari sumpah pemuda. Dulu kaum muda Indonesia bersumpah mengaku bertumpah darah yang satu, bangsa yang satu, dan menjunjung bahasa yang satu, Indonesia. Apa hanya sampai pada bersumpah saja lantas tak melakukan tindakan apa pun? Saya rasa tidak, karena setelah itu lahirlah berbagai organisasi yang dimotori para pemuda dan menjadi cikal bakal kemerdekaan Republik Indonesia.

Kenapa harus para pemuda?
Jika boleh diibaratkan barang, maka pemuda adalah barang baru yang belum terpakai lama. Masih segar, kuat, dan brilian. Kemudian jika dilihat dari segi waktu dan kesempatan, kaum muda memiliki lebih banyak waktu dan kesempatan dibandingkan orangtua. Satu hal yang saya garis bawahi disini adalah bahwa para pemuda cenderung lebih memegang kukuh idealismenya. Inilah kenapa -menurut saya- dulu para pemudalah yang menumbangkan rezim orde baru.

Saat ini, secara fisik Indonesia memang telah merdeka. Tapi jika ditelaah dari aspek yang lainnya, maka kata merdeka sangat jauh dari pandangan. Dari segi ekonomi, Indonesia belum bisa melepaskan diri dari cengkraman asing. Sebagai contoh, sebut saja Freepot yang setiap saat mengeruk keuntungan dari bumi pertiwi tanpa memberikan efek kesejahteraan khususnya bagi warga Papua. Dari segi kesehatan, budaya, dan pemikiran pun keadaannya tak jauh beda. Gempuran food, fun, and fashion dari barat perlahan menggerus identitas bangsa Indonesia.

Akibat dari penjajahan non-fisik ini, kini para kamu muda seolah kehilangan wajahnya. Kaum muda yang mewarisi tongkat estafet kepemimpinan nyatanya banyak yang tak memiliki jiwa pemimpin itu sendiri.

Yang banyak tawuran siapa? Pemuda!
Yang pakai narkoba? Pemuda!
Yang melakukan free sex? Pemuda!
Yang pergaulannya bebas? Pemuda! 
Yang melakukan kekerasan? Pemuda!

credit

Kenapa Hal Ini Bisa Terjadi?
1. Minimnya pendidikan moral dan akidah yang ditanamkan orangtua kepada anaknya. Sebagai mana kita tahu, rumah adalah sekolah pertama bagi setiap individu, jadi ketika orangtua tak menjalankan peran sebagaimana mestinya, maka anak-anak tidak akan mendapat pendidikan paling dasar. Selain itu tidak adanya pengawasan dari orangtua bisa menjadi penyebab lain dari semakin memprihatinkannya generasi muda Indonesia. Mungkin bisa disebabkan karena broken home atau kedua orangtuanya yang sama-sama bekerja di luar rumah hingga memberikan perhatian yang minim pada anaknya.

2. Lembaga pendidikan yang sekuler. Kurikulum pendidikan saat ini jelas tak mampu mencetak pelajar yang output maupun inputnya bagus. Hal ini disebabkan karena sekolah lebih menekankan pencapaian nilai dibandingkan proses belajarnya. Akibatnya siswa-siswa yang lulus dari sekolah adalah orang-orang yang nilai rapotnya bagus tapi dangkal dari sisi akidah dan kepribadiannya.

3. Kontrol masyarakat yang kurang. Sifat Individualisme yang perlahan mengakar di masyarakat, membuat masyarakat acuh dan tak mau ambil pusing dengan apa pun yang orang lain lakukan. Yang penting kita selamat. 

4. Pemerintah yang lalai. Yah, sebagai pemegang tongkat kepemimpinan tertinggi di suatu negara, maka sudah selayaknya pemerintah bisa menciptakan sebuah kondisi dimana para pemuda bisa dibentuk menjadi pemuda yang tangguh, berkepribadian kuat, dan berkonstribusi di masyarakat.

 
Melihat tayangan Kick Andy kemarin, tentang para pemuda yang berhasil membawa perubahan, berhasil membuat saya sadar bahwa ternyata masih ada emas dibalik tumpukan jemari. Masih banyak pemuda yang memiliki kepedulian basar kepada orang lain. Mereka adalah Suparto, Indra Purnama, dan Eko Mulyadi.

credit

Suparto berhasil mengembangkan peternakan ayam di desa Gunung Rejo, Jawa Timur dengan menggandeng para petani desa. Keberhasilannya ini tentu saja berkat ilmu yang dia dapatkan selama kuliah di Kedokteran Hewan. Lain lagi dengan Indra Purnama yang aktif mengadakan penyuluhan kepada petani-petani di Riau. Eko Mulyadi juga meiliki keberhasilan yang luar biasa, dia bisa memperdayakan para penyandang Tuna Granita atau Down Syndrom dengan mengajak mereka membudidayakan ikan lele. Hasilnya sungguh luar biasa, para penyandang tuna granita di kampungnya bisa hidup mandiri dan kini dia diangkat sebagai kepala desa.

Ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk melakukan perubahan. Tentunya berdasarkan skill dan pashion yang kita miliki. Ayo! Seperti kata Aa Gym, mulai dari diri sendiri. Mulai dari hal yang kecil. Dan Mulai dari saat ini.

Salam Semangat Muda!
dari seorang ibu yang sebenarnya masih muda :))

Kamis, 03 Oktober 2013

Gerakan Indonesia Berjoged

Bada Ramadhan, yang diingat masyarakat Indonesia adalah goyang caisar. Setelah acara sahur yang dibintanginya mendapat rating tertinggi, caisar dan goyangannya jadi terkenal ke seantero jagad. Tua muda hapal goyang caisar. Duh, bukannya suasana ramadhan yang diingat dan dibudayakan, ini malah goyang caisar. Baru-baru ini, acara serupa yang dibintangi caisar cs, malah tayang setiap hari secara live. Antusiasme masyarakat sangat bagus, begitu ungkap CEO televesi swasta tersebut.

Melihat keberhasilan goyang caisar yang mendongkrang rating acara yang dibintanginya, acara-acara dari televisi lain pun latah membuat goyangan yang meraka banggakan sebagai ciri khasnya.

Melihat fakta ini, saya jadi berpikir *sok serius. Tapi ini beneran loh, kenapa sekarang masyarakat Indonesia sangat gemar dengan acara lawakan? Dan parahnya lagi lawakannya itu nggak mendidik bahkan lebih banyak meledek orang lain, mencaci maki, sampai membully orang-orang tertentu. Apa karena tingkat stres di Indonesia semakin tinggi? Hingga ketika pulang ke rumah yang ingin dilihat adalah acara-acara yang mengundang gelak tawa?


Saya ngenes melihat anak-anak kecil, lebih senang berjoged caisar dibandingkan mendirikan shalat. Apalagi lagu di joged caisar itu. Duh, joroknya minta ampun. Tapi akhir-akhir ini sepertinya liriknya sudah dirubah. Khoiry juga ikut-ikutan. Senang banget bilang “Joos joss”
*tepok laler.

credit
Di era kapitalisme seperti sekarang, materi memang di atas segalanya-galanya. Setiap hal diukur berdasarkan asas manfaat. Ketika ada manfaatnya, maka akan tetap dilaksanakan sekalipun merugikan orang lain. Pihak pertelevisian pun sudah acuh dengan hak konsumen untuk mendapatkan tayangan yang mendidik. Segalanya tergantung rating. Rating bagus, lanjut terus.

Pemerintah, dalam hal ini melalui lembaga sensor film dan atau Komisi Penyiaran Indonesia harusnya memberikan sanksi yang tegas bahkan jika perlu memberhentikan tayangan yang dinilai bisa merusak moral bangsa.

Apa yang dilihat. Apa yangdicerna. Apa yang dilakukan.
Mau menjadikan rakyat indonesia gemar joged?

Minggu, 01 September 2013

Tolong Hukum Saya

Assalamu'alaykum
Apa kabar teman-teman blogger semuanyaaaah.
Kangen ihhh, ya Allah. Saya sempet kaget ketika melihat postingan terakhir di blog ini tanggal 30 Juni. Gubrak! Masya Allah berarti 2 bulan saya mangkir dari tugas ya. :))
Pruk-pruk (bersihin lumut dulu). Terhitung tanggal 21 Juli, saya pulang kampung ke Sumedang sama Khoiry. Tentunya ninggalin suami yang baru dapet libur H-1 idul fitri. Pertimbangannya banyak, salah satunya adalah ibu saya yang minta cepat-cepat pulang. Sudah terlanjur kangen sama cucu, begitu katanya. Maklumlah. Anak saya cucu pertamanya.

Sebenarnya saya (dengan ijin suami) membawa laptop satu-satunya milik kami ke Sumedang. Biar bisa nulis di sana, itu alasan saya. Eh, ternyata. Boro-boro nulis deh. Buka laptopnya pun jarang banget. Akhirnya laptop hanya dipakai nonton video sama adik-adikku. Benar-benar ironis. Padahal di Sumedang banyak saudara yang bisa dengan senang hati mengasuh Khoiry ketika hasrat menulis saya muncul. Tapi mungkin sudah kebiasaan, di Tangerang saya nggak pernah ninggalin Khoiry atau nitipin dia ke tetangga sekali pun pekerjaan rumah numpuk. Kalau dia bangun, saya khususon jagain dia. Jadi, di Sumedang pun, ketika Khoiry diajak main jauh-jauh sama adik-adik saya atau keluarga yang lain, saya bukannya tenang nulis, malah kelabakan nyariin dia. Khawatir. Takut dia jatuh atau dikasih jajan yang aneh-aneh. Haduuh... padahal itu cuma rasa khawatir yang berlebihan saja kan?



Jadi, apa inti dari paragra panjang lebar ini? :)) saya cuma mau ngasih tahu, kalau selama dua bulan ini, saya TIDAK MENULIS SATU TULISAN PUN. Kecuali nulis sms yaa :P
Ada yang mau menghukum saya?
Please kasih sanksi biar saya nggak ngulangin kesalahan patal ini. Duuh !

Rabu, 29 Mei 2013

Sempurna Karena Masalah


Dulu saya pernah membuat surat cinta untuk salah satu adikku. Saat ini, tiba-tiba saja ingin menceritakan anak gadis Mamah sama Bapakku yang satu ini lagi. Namanya Hanifah Yulfah Qona'ah.usianya saat ini jalan 11 tahun. Tapi di mataku dia sungguh gadis cilik yang luar biasa.
Barusan dia mengirimkan sms, isinyaEteh nuju naon? Hani kangen ka eteh sareng de khoir.

Eteh nuju naon? Hani kangen ka eteh sareng de khoir.


My Lovely Hani and Khoiry
Dia ini memang satu-satunya adikku yang bisa dengan mudah tanpa pake malu-malu untuk mengungkapkan perasaannya. Beda banget sama kakaknya yang malu-maluin, *eh malu-malu.
Beberapa hari yang lalu, ketika aku menelpon Mamah, Mamah bercerita sambil menangis. Yang dia ceritakan tentu saja adikku yang satu ini. Mamah bilang, Hani jualan bola-bola susu ke sekolah karena ingin membeli sendal. Hiks, saya juga ngenes ngedengernya. Kalau sudah kayak gini, saya (sebagai anak pertama)selalu ngerasa bersalah karena belum bisa membahagiakan adik-adik saya yang jumlahnya 3 biji *eh biji salak emang?


Ada yang tahu bola susu? Dulu ketika masih duduk di bangku SMA, saya juga sempat menjualnya ke sekolah. Bola-bola susu itu semacam cemilan, tapi bukan permen bukan juga biskuit. Dibuatnya dari tepung kanji yang disangrai kemudian diuleni dengan susu kental manis. Cemilan ini memang cuocok banget buat temans yang seneng sama makanan manis. Ajaibnya, Hani membuat sendiri bola susunya.

Hani memang lahir ketika kondisi perekonomian keluargaku ada di bawah. Dari kecil dia tak terbiasa hidup mewah. Namun ternyata itu semua berpengaruh besar pada tingkat kedewasaannya. Di usia yang masih kecil, dia sudah memutar otak bagaimana caranya untuk membeli sesuatu yang dia inginkan tanpa harus meminta pada orangtua.
Pernah juga dia menyisihkan uang jajannya untuk membelikan kado ketika Khoiry lahir.

Di sini, tetangga saya ada yang punya anak seusia dengan Hani. Tapi, kalau boleh saya bandingkan, perbedaannya jauh sekali. Benarlah apa yang tertulis dalam buku #Living Smart yang ditulis Muhammasd Nazhif Masykur, bahwa seseorang yang tidak ditempa dengan kesusahan akan sulit mencapai kesempurnaan.

Allah itu Maha Rahman dan Rahim, tak mungkin dia menganugerahkan sesuatu apa pun kecuali sebagai tanda kasih sayangNya, termasuk dalam hal ini masalah dan cobaan. Mungkin ada di antara kita (termasuk saya) yang acapkali tak menyadari kasih sayangNya dalam cobaan yang Dia berikan. Kita lebih menyibukkan diri dengan menyalahkan takdir, orang lain atau menyibukkan diri dengan mengeluh dan meratap. Sungguh ini adalah perbuatan yang sia-sia. Karena manakala kita lari, cobaan akan tetap mengejar kita.

Akan berbeda halnya ketika kita menyikapi cobaan sebagai hadiah. Tentu kita akan senang ketika mendapatkannya bukan? Tak beda jauh ketika kita bisa menyikapi cobaan dengan sempurna, maka cobaaan itulah yang akan mengangkat derajat kita lebih tinggi.

"Sesungguhnya seseorang pastilah akan memiliki derajat yang tinggi disisi Allah, dia tidak mencapainya dikarenakan amalan, tetapi Allah senantiasa memberikan cobaan dengan sesuatu yang ia tidak suka sehingga mengantarnya ke derajat tersebut." [HR. Ibnu Hibban dan Hakim dengan sanad yang shahih]





 "Tidaklah menimpa seorang muslim yang berupa kelelahan, sakit, susah, sedih gangguan dan kegundahan hingga duri yang menancap kecuali Allah ampuni kesalahan-kesalahannya karena sebab itu."[Mutafaqun 'alaih]