Tampilkan postingan dengan label Book of The Week. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Book of The Week. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 November 2013

Bahagianya Orang-orang yang Menikah

Judul Buku : Maka Menikahlah!
Penulis : Aninditya Santoso, dkk
Penerbit : 3M Media Karya
Tebal : 120 halaman

Maka menikahlah adalah sebuah antologi yang disusun 12 perempuan (termasuk saya) untuk melukiskan keajaiban pernikahan. Ada yang menceritakan kisahnya sendiri, ada pula yang menceritakan pengalaman orang terdekatnya.

Pernikahan memang menjadi satu hal yang diinginkan setiap orang. Siapa sih yang mau hidup sendiri seumur hidup? Sudah menjadi fitrah manusia untuk hidup berpasang-pasangan. Namun sayangnya banyak dari kita yang memandang pernikahan hanya dari sisi indahnya saja. Tanpa mau melihat sisi lain yang justru lebih penting yaitu jatuh bangunnya mempertahankan pernikahan itu sendiri.


Membaca buku ini saya merasa kecil dan merasa belum ada apa-apanya dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Begitu banyak pelajaran dan pengalaman hidup yang bisa saya ambil hikmahnya dari buku ini.

Pengalaman yang tersaji di buku ini beragam, ada yang nikah modal nekat, seperti pengalamannya Mba Yuni Astuti. Dia menikah dengan seorang laki-laki (iyalah masa perempuan) yang belum memiliki pekerjaan. Namun sungguh luar biasa, setelah menikah justru rezeki datang menghampiri mereka satu persatu. Pengalaman Mba Yuni mengajarkan saya bahwa menikah sejatinya membuat seseorang menjadi kaya. Allah sendiri yang menjamin rezeki dua orang yang menikah karenaNya. Maka tidak menikah karena alasan materi sudah nggak zamannya lagi. Hanya orang-orang yang tidak yakin dengan Allah yang masih menjadikan materi sebagai alasan menunda pernikahan.

Selain itu ada kisah mengharukan yang ditulis Mba Nurul Suci tentang pernikahan temannya yang seorang mualaf. Subhanallah, saya terharu dengan keistiqomahan beliau mempertahankan pernikahannya yang penuh onak. Nikah tidak ditemani keluarga, suami yang tak kunjung mendapat pekerjaan dan penolakan dari orangtua kedua belah pihak. Wah, jika saya jadi dia, saya sangsi apa saya bisa sekuat dia.

Membaca buku ini saya semakin takjub akan keMahaluasan Allah SWT. Bagaimana Dia dengan sedetail mungkin menyusun skenario pertemuan dua insan hingga tak ada satu pun jalan ceritanya yang sama

Sayangnya buku ini dikemas dengan cover yang bisa dibilang nggak banget. Dengan cover ini, kesan yang terlihat malah seperti katalog pernikahan bukan sebuah buku. Warnafontnya juga kurang kontras dengan background, hingga tulisannya tidak terbaca jelas.

Karena ini antologi, kita akan menjumpai warna tulisan dan gaya bahasa yang berbeda. Ada yang nyaman untuk dibaca, ada juga yang membuat saya kurang betah hingga saya skip sampai ending.

Terlepas dari semua itu, buku ini layak dibaca karena bisa meningkatkan rasa kesyukuran kita akan pernikahan yang kita jalani juga menambah keyakinan kita bahwa cobaanlah yang justru semakin menguatkan ikatan pernikahan manakala kita berhasil melawatinya.

Finally, Don't judge the book by the cover ya :))
Happy Reading!

Minggu, 10 November 2013

Resensi : Kunang-kunang tanpa Cahaya


Judul buku : Kunang-Kunang Tanpa Cahaya
Penulis : Asya Mujahidah
Penerbit : Al Azhar Fresh Zone Publishing
Cetakan : Cetakan pertama, September 2011
Tebal : 352 halaman

Kunang-kunang Tanpa Cahaya. Pertama kali membaca judul novel yang ditulis seorang ibu muda ini, pikiran kita langsung tertuju pada sebuah kata “ketidaksempurnaan”. Ya, seumpama kunang-kunang yang tak memiliki cahaya. Padahal cahaya itulah bagian terpenting dari hidupnya.

Sesuai dengan judulnya, novel ini menceritakan kepincanganhidup seorang gadis bernama Erlinda. Bagaikan seekor kunang-kunang yang tak memiliki cahaya, dia harus rela terbang dalam kegelapan dan terpisah jauh dari kawanannya. Dia dan adiknya terlahir dari pasangan kumpul kebo yang telah hidup bersama selama dua puluh tahun. Orang tua mereka tak pernah menganggap sakral sebuah pernikahan. Bagi mereka, pernikahan hanya akan menjadi tembok penghalang cinta mereka yang notabene berbeda agama. Agama tak berhak menghalangi cinta, begitu anggapan mereka.

Sejak kecil Erlinda sudah mengalami banyak tekanan dari orang-orang di sekitarnya yang mempermasalahkan ikatan keluarga mereka. Karena itulah Erlinda tumbuh menjadi seorang gadis yang cuek, terkesan galak, dan sangat tertutup. Menginjak dewasa, Erlinda tersadar jika ada yang salah dalam hidupnya. Dengan berbekal tekad yang kuat dan kekecewaan yang dalam pada kedua orang tuanya, Erlinda pergi meninggalkan rumah. Dia hanya ingin tahu siapa dirinya. Dia hanya ingin tahu untuk apa sebenarnya dia hidup. Selayaknya kunang-kunang yang meraba-raba gelap untuk menemukan kembali cahayanya.

Membaca awal cerita di novel ini, pembaca akan sedikit kewalahan dengan alurnya yang terkesan cepat. Tapi setelah sampai di tengah cerita, penulis dengan sukses membuat pembaca ikut terbang bersama sang kunang-kunang yang mencari cahayanya. Di awali dari kehidupan baru Erlinda di stasiun kota bersama tiga orang preman sahabatnya dan pertemuan Erlinda dengan seorang gadis berjilbab yang ternyata adalah sepupunya sendiri, perjalanan kunang-kunang ini menentukan titik mulanya. Dari perjalanan hidupnya bersama mereka, sedikit demi sedikit Erlinda mulai memahami hakikat kehidupan sesungguhnya. Dia mulai mengerti tentang adanya penciptaan dan kehidupan sesungguhnya setelah kehidupan di dunia.

Setelah lelah mengikuti sang kunang-kunang terbang, pembaca akan disunguhkan ending yang menawan tentang pertaubatan kedua orang tua Erlinda. Ibunya yang kembali pada keluarganya dan ayahnya yang mulai mempelajari islam. Erlinda sangat bahagia karena bisa bertemu dengan keluarga besarnya dan hidup dengan cahaya yang selama ini dicarinya.

Meskipun menggunakan sudut pandang orang ketiga, penulis bisa memainkan karakter dalam novel ini dengan cukup sempurna, entah itu sebagai Erlinda yang cuek atau pun gadis berjilbab yang cerewet. Namun penulis kurang bisa menghidupkan karakter tiga orang preman yang diciptakannya. Mungkin karena penulis tak memiliki gen seorang preman. ^,^

Selain itu, penulis juga piawai menggambarkan latar dari novel ini, hingga ketika membacanya kita merasa berada di tiga kota berbeda yang menjadi latar dari cerita ini, Bekasi, Depok, dan Serang.

Gaya bahasanya mengalir meski di beberapa narasi ada sebagian rangkaian kata yang kurang bisa dinikmati. Tapi, dengan menghadirkan puisi-puisi pendek yang berhubungan dengan cerita diawal-awal bab, kekurangan itu sedikit banyak tertutupi karena rangkaian katanya yang sederhana namun indah.

Bagi teman-teman yang cepat jenuh ketika membaca buku, jangan khawatir. Karena novel ini hadir dengan ilustrasi yang apik di setiap halamannya. Ilustrasi-ilustrasinya dijamin bisa menjaga mooddan memanjakan mata teman-teman.

Terakhir, novel dengan desain sampul bergambar rel kereta di pagi hari ini, wajib dibaca oleh setiap jiwa yang sampai sekarang masih mencari cahaya. Karena novel ini akan menuntun kita pada beberapa makna yang kita cari selama ini. Makna tentang hidup, cinta, persahabatan, dan kata maaf. Novel ini juga mengingatkan kita semua bahwa sejatinya perjalanan mencari cahaya itu takkan pernah berakhir selama matahari masih terbit di ufuk timur.

Jika boleh diibaratkan, manusia itu ibarat kunang-kunang, gelap itu adalah dunia yang kita pijaki selama ini, dan cahaya itu tentu saja islam. Jadi, kunang-kunang tanpa cahaya, seolah manusia yang tak tahu aturan untuk menerangi jalannya di dunia.

Rabu, 23 Januari 2013

99 Ideas for Happy mom (Sebuah Resensi)

 

Judul Buku : 99 Ideas for Happy Mom
Penulis : Inayati Ashriyah
Tebal : xiv + 202
Penerbit : Zip Books

99 Ideas for Happy Mom adalah buku parenting pertama yang saya baca. Buku ini adalah hadiah dari seorang sahabat ketika saya menikah. Ketika yang lainnya memberi buku tentang pernikahan, dia sendiri yang menghadiahi saya buku parenting. Dan saya menganggapnya sebagai sebuah doa. Setiap pasangan yang menikah belum tentu punya anak kan? Jadi dengan memberi buku ini sahabat saya berdoa agar saya menjadi seorang ibu.



Buku ini sendiri terdiri dari 99 bab yang membahas 99 ide brilian untuk menjadi ibu yang bahagia. Entah itu menyangkut diri sendiri (dalam hal ini seorang ibu) atau menyangkut hubungannya dengan suami dan anak-anaknya

Buku ini dibuka sempurna dengan sebuah hadits yang diriwayatkan Ahmad, “surga itu di bawah telapak kaki ibu.” yah, hadits ini cukup menggambarkan betapa urgentnya peran seorang ibu dalam kehidupan hingga digambarkan surga pun berada di bawah telapak kakinya. Setelah itu penulis menjelaskan darimana sumber si happy itu sendiri, berikut petikan kalimat yang membuat saya mengangguk takzim.

Kebahagiaan adalah semua kebaikan yang Anda lakukan dan atau Anda dapatkan dari orang lain. Anda tidak perlu menunggu kebahagiaan datang . Anda dapat merasakan kebahagiaan itu sekarang. Jadikan semua yang ada di sekeliling Anda sebagai inspirasi kebahagiaan Anda.

Dengan menyadari bahwa segala yang ada di sekeliling kita bisa menjadi sumber kebahagiaan saya rasa seorang ibu tak perlu sibuk mencari lagi sumber kebahagiaan. Berada di rumah dan memanage rumah tangga, melayani suami, serta merawat anak-anak adalah sumber utama kebahagiaan bagi seorang ibu. Bahkan hal kecil seperti tersenyumnya anak kita adalah sebuah kebahagiaan yang tak ternilai.

Lebih lanjut buku ini menjelaskan betapa specialnya seorang perempuan. Hanya perempuanlah yang memiliki rahim dan bisa mengandung. Dalam hadits dijelaskan betapa besar pahala untuk setiap perempuan yang mengandung dan melahirkan. Keistimewaan lain yang dimiliki seorang perempuan adalah sifatnya yang penyayang. Itulah sebabnya Allah mempercayakan pengasuhan anak pada ibunya.

Peristiwa-peristiwa dan nasihat untuk menjadi seorang ibu pun dijelaskan di sini, seperti peristiwa ketika anak kita mengucapkan kata mama untuk pertama kalinya, tentang memanage uang belanja, membuat foto keluarga, dan anjuran untuk membiasakan anak tidur lebih dulu dan bangun lebih awal. Semuanya dikemas secara apik.

Menurut hemat saya, buku ini mengajak kaum ibu untuk kembali pada jalannya dan kembali menjalankan peran mereka yang sesungguhnya. Karena jika melihat fenomena sekarang banyak sekali perempuan yang memilih berkarier di luar rumah kemudian menyerahkan pengasuhan anaknya pada seorang baby sitter. Betapa banyak hal istimewa yang terlewatkan ketika seorang ibu memilih untuk bekerja di luar rumah. Apa yang sebenarnya mereka cari dari pekerjaannya?

Dalam buku ini dijelaskan bahwa menjadi seorang ibu rumah tangga adalah the best carrier bagi seorang perempuan. Betapa banyak hal yang harus dilakukan seorang ibu rumah tangga semenjak dia bangun sampai tidur lagi. Betapa berat tanggung jawab yang dipikulnya. Sejatinya masa depan sebuah bangsa ada di tangan seorang ibu. Berkat perjuangan seorang ibulah lahir generasi-generasi yang berakidah kuat, cerdas, tangguh dan handal. Pertanyaannya, jika sekarang seorang ibu abai akan tugasnya untuk mendidik anak, bagaimana nasib bangsa kita ke depannya?

Namun sayangnya, penulis kurang memperinci dan menjelaskan secara lebih dalam setiap ide-idenya. Ini membuat ide yang brilian, kurang bisa tersampaikan maksudnya. Dalam buku ini, setiap ide hanya dibahas dua halaman. Dan saya rasa itu masih kurang.

Oke, finally, buku ini harus dibaca oleh seorang ibu yang (mungkin) mulai jenuh dengan aktifitasnya dan menganggap pekerjaannya adalah suatu pekerjaan yang tidak berarti. Lihatlah, begitu banyak pahala yang Allah janjikan untuk seorang ibu rumah tangga. Buku ini juga patut dibaca oleh para calon ibu yang mendambakan kebahagiaan di dunia dan di akhirat, agar kelak ketika menikah tak salah menentukan pilihan.

Dari Ibnu Mas'ud, Rasulullah bersabda, “Jika sang istri mencuci pakaian suaminya, maka Allah akan mencatatnya dengan seribu pahala, mengampuni seribu dosa, mengangkat derajatnya dengan seribu tingkatan dan akan dimintakan ampun oleh segala sesuatu yang terkena sinar matahari.”

Sesungguhnya wanita yang hamil, melahirkan, dan merawat anaknya akan mendapat pahala seperti orang yang berjihad di jalan Allah.

Ibu seperti sendok gula yang mampu meredakan rasa pahitnya obat.

I'm a housewife and I'm happy

Rabu, 21 Maret 2012

How to Master Your Habits (Sebuah Resensi)


Book of The Week
Judul : How to Master Your Habits
Penulis : Felix Y Siauw
Penerbit : Khilafah Press 


Habits adalah segala sesuatu yang kita lakukan secara otomatis, bahkan kita melakukannya tanpa berfikir. Habits adalah suatu aktivitas yang dilakukan terus-menerus sehingga menjadi bagian daripada seorang manusia



Tanpa kita sadari, habits-lah yang membentuk identitas seorang manusia. Sebagai contoh, kita akan dinilai sebagai seorang yang kutu buku manakala kita selalu membaca buku setiap hari atau bahkan setiap jam. Kata selalu menunjukkan adanya pengulangan dan dilakukan secara terus-menerus. Nah, dan itulah habits. Selain itu, habits pula yang menentukan akan seperti apa seseorang di kemudian hari. Seseorang yang setiap hari hanya menghabiskan waktunya dengan hal-hal yang mubah bahkan makruh atau haram, tentu saja sangat kecil kemungkinannya jika kelak dia akan menjadi orang yang sukses. Berbeda dengan seseorang yang selalu mengisi tiap detik hidupnya dengan hal yang berguna serta baik, maka bisa dipastikan masa depannya akan sebaik habits-nya. Habits pula yang membentuk keahlian yang dimiliki tiap manusia (bukan takdir apalagi suatu kebetulan). Taufik Hidayat bisa menjadi seorang pemain bulu tangkis yang handal karena dia menghabiskan banyak waktu untuk berlatih bulu tangkis. Nah, yang jadi pertanyaannya sekarang, keahlian apa yang ingin kita miliki? Maka, mulai dari sekarang bentuklah habits yang akan membuat kita menjadi expert dalam bidang tertentu. karena perlu lebih dari sekedar keinginan dan motivasi untuk mengembangkan suatu keahlian.

Menentukan habits yang akan ingin kita miliki, memang sesuatu yang mudah. Namun istiqomah dalam menjalankannya memang perlu usaha yang tidak sedikit. Contohnya,

Saya, Aisyah berjanji akan menulis minimal satu buah tulisan dalam sehari agar ilmu-ilmu islam yang telah saya dapatkan bisa saya tularkan ke lebih banyak orang.

Maka setelah saya menentukan habits apa yang ingin saya bentuk, saya punya tanggung jawab untuk melaksanakannya secara terus-menerus. Karena pada dasarnya, ayah dan ibu habits adalah practise (latihan) dan repetition (pengulangan) yang sudah tentu memerlukan waktu yang tidak sebentar.
Permulaan itu sulit. Ya, itu benar. Permulaan memang selalu menjadi bagian yang paling ditakuti. Namun seiring berjalannya waktu, maka kesulitan itu sedikit demi sedikit akan berkurang. Seperti halnya ketika kita berpuasa di bulan Ramadhan. Tanggal 1 Ramadhan adalah hari paling berat bukan? Tapi ketika kita telah sampai di hari ke 28, apa yang kita rasakan? Tubuh kita telah terbiasa.

Pada akhrinya pilihan selalu ada ditangan kita. Ingin menjadi apa kita. Itu tergantung pilihan-pilihan yang kita ambil. Kita jangan menjadi orang yang menyerah sebelum memulai suatu tantangan. Hidup adalah perjuangan dan pengorbanan. No pain No Gain !

So, tentukan mulai dari sekarang habits BAIK apa yang ingin kamu bentuk.

If you choose not to plant flower on your garden, then weeds will grow without encouragement or support.