Rabu, 11 Agustus 2010

Kisah Teladan LIEM SEENG TEE (Sampoerna)

Kisah kisah Inspiratif



Liem Seeng Tee

Kisah-kisah Inspiratif - Kisah sukses PT. Hanjaya Mandala Sampoerna bukan sebuah berkah yang begitu saja turun dari langit. Namun melalui rintisan dan perjuangan dari NOL oleh seorang Liem Seeng Tee. Pada tahun 1898 bersama ayah (Liem Tioe) dan kakak perempuannya. Seeng Tee yang dikala itu baru berusia 5 tahun, meninggalkan kampung halamannya di Provinsi Fujian (福建), di daratan China bagian selatan menuju Surabaya (Hindia Belanda), untuk mencari pengharapan baru. Tentu saja dalam benaknya ia belum pernah membayangkan 30 tahun kedepan dia akan melahirkan perusahaan rokok berkelas dunia.

Tidak lama sesampainya di Hindia Belanda (Surabaya) ia harus dipisahkan dengan kakak perempuannya, karena sangat miskin, sehingga ayahnya harus rela anak perempuannya diadopsi sebuah keluarga di Singapura. Lantas 6 bulan setelah kedatangannya di Surabaya, ayahnya meninggal dunia karena penyakit malaria. Itu yang membuatnya harus mandiri sejak usia 5 tahun di negeri yang asing. Menjalani hidup sebatang kara Seeng Tee kecil akhirnya diangkat anak oleh seorang keluarga imigran Cina di Bojonegoro. Di kota kecil itu Liem tanpa pendidikan formal mulai untuk belajar meracik tembakau yang memang banyak ditanam di sana. Hasil racikannya ia jual secara asongan di kereta api yang datang dari Surabaya. Hingga umur sebelas (11) tahun Seeng Tee diasuh di keluarga tersebut. Setelah itu, dia hidup mandiri untuk menyambung kebutuhan hidupnya dengan menjajakan makanan kecil di dalam gerbong kereta jurusan Surabaya – Jakarta dengan cara melompat masuk pada malam buta. Kegigihannya dapat dibuktikan ketika Seeng Te muda pernah berjualan makanan kecil selama 18 bulan penuh tanpa istirahat sekalipun.

Pada tahun 1912, Liem berjualan arang dengan sepeda tua yang berhasil dibeli dari hasil selama menjual makanan kecil dalam gerbong kereta, berjualan arang itu lah yang mempertemukan dirinya dengan gadis Hokkian bernama Siem Tjiang Nio, yang kemudian di tahun yang sama menjadi pendamping hidupnya. Tidak lama setelah menikah, Seeng Tee mendapatkan pekerjaan sebagai peracik dan pelinting rokok di sebuah pabrik rokok di Lamongan. Dari situ Seeng Tee memperlihatkan kemampuan alaminya dalam meracik dan melinting rokok. Namun tidak lama kemudian, Seeng Tee berhenti dari pekerjaannya itu. Karena, sesungguhnya pasangan yang baru saja menikah ini, mempunyai mimpi besar manjadi sukses dengan ber-wiraswasta. Impian itu dirajutnya dengan usaha kecil-kecilan dengan membuka warung pinggir jalan di Kota Surabaya. Warung di Jln. Tjantian Podjok di Surabaya Lama yang disewa dengan tabungan hasil kerja Seeng Tee di pabrik rokok di Lamongan, dipakainya untuk berjualan makanan dan tembakau. Sementara itu, sambil membuka warung, Seeng Tee tetap meneruskan keahliannya dalam meracik tembakau dan dijualnya dengan kembali mengayuh sepeda keliling kota. Ternyata gayung bersambut, racikan tembakau-nya begitu banyak disukai oleh masyarakat maupun pejabat saat itu.


Setelah ekonomi keluarganya mulai stabil, Seeng Tee membeli rumah di Jl. Ngaglik, Surabaya untuk kemudian dijadikan home industri rokok kretek yang berbadan hukum dan diberi nama Handel Maastchpaij (HM) Liem Seeng Tee yang kelak berubah nama menjadi Handel Maastchpaij (HM) Sampoerna dan setelah kemerdekaan Indonesia perusahaan ini kembali dirubah menjadi Hanjaya Mandala (HM) Sampoerna. Perusahaan kecil ini hanya mempekerjakan beberapa karyawan saja pada awalnya. Sangat sedikit dan sulit menemukan catatan sejarah pada periode ini, namun yang jelas usaha Seeng Tee semakin maju dan menemukan pasarnya. Sejak awal Seeng Tee telah memimpikan dapat mempunyai rumah tinggal di dalam lingkungan pabrik. Ini supaya dia dapat dengan seksama mensupervisi semua aspek operasional pabrik, dan juga yang tak kalah mendasar adalah supaya anaknya bisa belajar langsung kegiatan usaha. Alasan lain yang tak kalah hebatnya adalah, Liem berusaha untuk mendekatkan diri dengan para manajernya, dengan adanya rumah tinggal di lingkungan pabrik, dia mampu mengajak para manajernya untuk makan siang bersama-sama, dan hal ini menjadi sebuah tradisi perusahaan.

Seeng Tee berkesempatan memamerkan keahliannya sebagai peracik tembakau yang sangat andal dengan memproduksi rokok dengan berbagai macam merek dagang seperti Dji Sam Soe (234), 123, 720, 678, Welkomm, Summer Place, Dapoean dan Djangan Lawan yang ditujukan bagi berbagai segmen pasar. Produk serta racikan unggulannya adalah Dji Sam Soe (234) yang membidik segmen pasar premium yang mana cita rasa, logo dan kemasannya dipertahankan hingga sekarang.

Kesempatan besar yang kelak akan merubah nasib keluarga dan usaha rokok kreteknya datang menghampiri-nya di awal tahun 1916 ketika Liem Seeng Tee ditawari memborong berbagai macam jenis tembakau dari perusahaan rokok yang bangkrut dengan harga murah, dengan syarat pembelian tersebut harus dilunasi kurang dari 24 jam. Ia beruntung sekali, kesempatan tidak lepas dari genggaman-nya karena secara diam-diam istrinya telah menabung uang pada salah satu tiang bambu di warungnya dan ternyata tabungan tersebut lebih dari cukup untuk melunasi pembelian tersebut. Sejak itu Seeng Tee dan Tjiang Nio, isterinya, mencurahkan seluruh tenaganya untuk mengembangkan bisnis tembakau. Usahanya mengalami kemajuan yang cukup pesat ketika jalan raya di depan rumahnya yang dijadikan tempat usaha diperlebar. Jalanan menjadi ramai dan pelanggan pun meningkat. Sayang, gubuk tempat tinggalnya habis dilalap api. Pasangan ini pun kembali jatuh-bangun bekerja keras membangun usahanya. Disini, suami-istri yang dikaruniai dua orang putra dan tiga orang putri ini tetap melayani pesanan rokok dengan aneka citarasa, menggunakan alat linting sederhana.


Dalam membesarkan usaha-nya, Seeng Tee walaupun tidak mengecap pendidikan formal yang tinggi dia memegang teguh “Falsafah Tiga Tangan”. Bagi-nya Ini adalah merupakan falsafah dasar untuk menuju kesuksesan antara tiga pihak – yaitu perusahaan, pedagang dan konsumen. Dengan bekerja bersama-sama secara win-win-win, dia yakin akan dicapai kepuasan dan keberuntungan bersama.

HM. Liem Seeng Tee lantas sekali lagi mencapai kesuksesan besar di tahun 1932, Seeng Tee berhasil membeli satu kompleks gedung panti asuhan dan gedung bioskop milik pemerintah Kolonial Belanda. Tempat tersebut lantas dialihfungsikan menjadi pabrik khusus pembuatan rokok kretek merk Dji Sam Soe (HM. Sampoerna), dan sampai saat ini tempat tersebut masih berdiri dan dijadikan sebuah museum untuk mengenang Liem Seeng Tee oleh pihak PT. HM Sampoerna, yang dikenal dengan nama House of Sampoerna.

Pada tahun 1942 lebih dari 1.300 orang karyawan bekerja dalam dua shift untuk memproduksi rokok lebih dari tiga juta batang per minggu-nya. Industri-nya makin besar dan pasar DJI SAM SOE semakin kokoh, khususnya di daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah. Namun, di tahun yang sama Perang Dunia II sedang berkecamuk di Asia-Pasifik, sejarah mencatat di pertengahan tahun 1942, Jepang mendarat di Surabaya. Menurut berbagai sumber, kurang dari enam jam setelah kedatangan Jepang, Seeng Tee ditangkap dan dibawa ke Jawa Barat untuk menjalani kerja paksa, sementara keluarganya selamat dalam persembunyian. Tak diketahui ke mana larinya harta milik keluarga dan perusahaan. Perusahaan rokok HM. Sampoerna diambil alih oleh imperialis Jepang dan dijadikan tempat produksi rokok jepang, merk FUJI. Setelah Indonesia merdeka, harta yang tersisa tak lebih dari keluarganya sendiri dan merek dagang Dji Sam Soe. Sekali lagi, Seeng Tee menata kembali usahanya dengan mendirikan Hanjaya Mandala Sampoerna dan kembali melepas racikan masterpiece-nya, Dji Sam Soe ke pasar.

Sepeninggal Seeng Tee di usia 63 pada tahun 1956, tampuk pimpinan HM. Sampoerna beralih kepada dua orang putrinya, Sien dan Hwee, serta menantunya. Kesulitan besar pun menimpa dan acaman bangkrut pun di depan mata, karena di akhir tahun 1950 banyak investor asing datang dan membangun industri rokok putih berteknologi linting mesin. Tentunya hal ini adalah pukulan telak bagi industri rokok tradisional, tak terkecuali bagi HM. Sampoerna yang masih menggunakan alat linting sederhana untuk memproduksi rokok. Sementara itu, dua orang putra Seeng Tee, Liem Swie Hwa dan Liem Swie Ling, yang pada awalnya diharapkan sebagai penerus tidak tertarik meneruskan usaha HM. Sampoerna. Si sulung, Swie Hwa membuka usaha perkebunan tembakau, sedangkan sang adik, Swie Ling membuka pabrik rokok bermerek Panamas di Denpasar, yang mana perusahaan tersebut diam-diam mulai mengancam pasar bagi Dji Sam Soe.

Di medio 1960 Liem Swie Hwa akhirnya meminta adiknya untuk mengambil alih HM Sampoerna. Gayung bersambut, Swie Ling menyanggupi, bahkan memindahkan pabrik Panamas ke Malang, tak jauh dari HM Sampoerna berada. Swie Ling, yang dikenal sebagai Aga Sampoerna adalah generasi kedua dari pemimpin HM. Sampoerna yang dengan kekuatan penuh menghidupkan kembali HM Sampoerna sesuai dengan semangat besar ayahnya untuk menjadikan perusahaanya “Raja Tembakau”.

Itulah awal kebangkitan baru HM Sampoerna. Di tangan Aga Sampoerna perusahaan berkibar. Putera kedua Aga, yaitu Liem Tien Pao atau yang dikenal dengan Putera Sampoerna, mengambil alih kemudi HM Sampoerna pada tahun 1978. Di bawah kendalinya, HM Sampoerna berkembang menjadi perseroan publik dengan struktur perseroan modern dan memulai masa investasi dan ekspansi. Dalam proses, PT HM Sampoerna memperkuat posisinya sebagai salah satu produsen rokok kretek terkemuka di Indonesia dan mencatatkan perusahaan nya dalam sejarah sebagai pabrik rokok terbesar ke-3 sedunia dan ke-4 tertua, tentunya Putera membawa PT. HM. Sampoerna melangkah lebih jauh dengan terobosan-terobosan yang dilakukannya, seperti perkenalan rokok kretek filter bernikotin rendah, Sampoerna A Mild di akhir 1980 dan dikenal dengan iklan-iklan yang unik dan ekspresif serta ekspansi bisnis oleh Putera setelah ayahnya, Aga Sampoerna meninggal di tahun 1994, melalui kepemilikan di perusahaan waralaba Alfamart di pertengahan 1990 untuk menunjang penjualan ritel, dan tentunya untuk suatu saat, dalam bidang perbankan dan otomotif dengan menanam saham di PT Astra International Tbk, periode 1995-1997 walaupun langkah tersebut tidak membuahkan hasil.

Dengan masuknya Michael Joseph Sampoerna, si bungsu, sang putra mahkota yang punya hobi main poker, generasi ke-4 dari keluarga Liem Seeng Tee ke dalam jajaran direksi PT.HM Sampoerna, Tbk pada tahun 2000. Ekspansi bisnis tidak begitu saja berhenti, lantas terus digenjot dan dinasti tembakau berusia 90 tahun tersebut mulai merambah lahan agrobisnis (PT. Sampoerna Agro), telekomunikasi (PT. Sampoerna Telekom) serta Transmarco, Ltd. Yang bermarkas di Singapura serta bisnis percetakan PT Sampoerna Printpack, dan untuk melengkapi semua itu terdapat pula bisnis gaya hidup seperti pada café & resto House of Sampoerna serta kepemilikan rumah judi terkenal di London, Les Ambassadeur atau Les A dan Mansion, perusahaan online gambling internasional yang mulai dirintis semenjak diakuisisi-nya PT. HM Sampoerna, Tbk. ke pangkuan perusahaan rokok terbesar di dunia Phillip Morris pada Maret 2005.

Usaha keluarga yang telah dilakoni oleh 4 generasi dalam satu dinasti “kerajaan tembakau” selama lebih dari 90 tahun telah membuahkan hasil Rp. 18.6 triliun pada saat Putera Sampoerna memutuskan untuk melepas perusahaan rokok yang telah dirintis oleh kakek-nya, Liem Seeng Tee, kepada perusahaan rokok terbesar dunia asal Amerika, Phillip Morris di bulan Maret 2005. Memang keputusan tersebut cukup menggemparkan jagat bisnis Indonesia, dan suka tidak suka semua mata tersorot kepada satu keluarga, keluarga Sampoerna. Dengan uang Rp. 18.6 triliun? Tunai! Tentu saja dapat dihitung dengan jari, mana saja keluarga yang mampu mengantongi uang sebegitu besar jumlah-nya.

Tanpa harus bekerja pun, Putera dan keluarga-nya lebih dari mampu dan sanggup untuk membiayai hidup dengan sangat mewah. Katakanlah, dengan asumsi semua uang nya didepositokan dengan bunga 5% per annum, mereka masih mengantongi Rp. 77 miliar per bulan nya. Saya rasa dengan jumlah uang ini lebih dari cukup untuk mencicipi hidup mewah a la raja. Namun, dapat dipastikan bukan gaya hidup semacam itu yang diimpikan oleh Liem Seeng Tee beserta keturunannya, dengan darah pengusaha dan jiwa entrepreneur yang kuat, mereka pasti ingin menciptakan nilai tambah dari uang tersebut.

Di mata saya, PT. HM Sampoerna beserta keluarga Sampoerna adalah sebuah teladan, dimana usaha rumahan yang jatuh bangun pada awalnya dan bermodalkan tekad dan tabungan dari belahan bamboo tiang penyangga rumah bisa meraksasa hingga ke tingkat nasional bahkan internasional. Dari usaha pinggir jalan, Liem Seeng Tee bertekad meracik produk yang sempurna dan menjadikannya sebagai “raja kretek”, akhirnya sudah terbukti jika perjuangan PT. HM Sampoerna yang menjadi perusahaan publik dengan laba bersih yang mencapai triliunan rupiah per tahun-nya.

Kisah Sukses TIRTO UTOMO ( Aqua )

Kisah kisah Inspiratif



Tirto Utomo

Kisah-kisah Inspiratif - Saat Tirto Utomo mencuatkan idenya untuk 'menjual air putih' dalam kemasan, banyak orang yang menganggap Tirto Utomo sudah gila. Karena pada saat itu, air putih sangat mudah didapatkan, dan gratis. Namun saat ini, jika kita berbicara tentang air minum dalam kemasan, yang pertama muncul dalam benak kita pastilah Aqua. Memang merk yang satu ini telah menjadi top brand di Indonesia. Hampir setiap orang di Indonesia pasti tahu atau minimal pernah mendengar nama Aqua. Bagaimana kisah sukses Aqua sampai bisa seperti sekarang?


Kisah sukses ini berawal dari sosok Tirto Utomo(alm.) yang menggagas berdirinya Aqua. Pria kelahiran Wonosobo, 9 Maret 1930 ini menggagas lahirnya industri air minum dalam kemasan (AMDK) di Indonesia melalui PT Golden Mississippi pada tanggal 23 Pebruari 1973. Produk pertamanya saat itu adalah Aqua botol kaca 950 ml yang kemudian disusul kemasan AQUA 5 galon, pada waktu itu juga masih terbuat dari kaca.

Pada awal kemunculannya, Aqua tidak langsung menuai kisah sukses nya seperti sekarang ini. Bahkan tahun 1974 sampai 1978 adalah masa-masa sulit bagi perusahaan ini. Saat itu permintaan konsumen masih sangat rendah. Masyarakat kala itu masih “asing” dengan air minum dalam kemasan. Apalagi harga 1 liter Aqua lebih mahal daripada harga 1 liter minyak tanah.

Aqua tidak akan menuai kisah sukses bila langsung menyerah saat itu. Dengan berbagai upaya dan kerja keras, akhirnya Aqua mulai diterima masyarakat luas. Perlahan tapi pasti, merk ini semakin menorehkan kisah sukses nya. Bahkan tahun 1978, Aqua telah mencapai titik BEP. Dan saat itu menjadi batu loncatan kisah sukses Aqua yang terus berkembang pesat.

Pada saat itu, produk Aqua ditujukan untuk market kelas menengah ke atas, baik dalam rumah tangga, kantor-kantor dan restoran. Namun sejak tahun 1981, Aqua telah berganti kemasan dari semula kaca menjadi plastik sehingga melahirkan berbagai varian kemasan. Hal ini menyebabkan distribusi yang lebih mudah dan harga yang lebih terjangkau sehingga produk Aqua dapat dijangkau masyarakat dari berbagai kalangan. Di tahun 1981 ini juga, Aqua mengganti sumber airnya dari air sumur bor ke air dari mata air pegunungan.

Bahkan dalam segi kemasan pun, Aqua telah menjadi pelopor. Botol plastiknya yang semula berbahan PVC yang tidak ramah lingkungan, sejak 1988 telah diganti menjadi bahan PET. Padahal saat itu di Eropa masih menggunakan bahan PVC. Selain itu desain botol Aqua berbentuk persegi bergaris yang mudah dipegang telah menggantikan desain botol bulat Eropa. Bahkan botol PET ciptaan Aqua ini telah dijadikan standar dunia.

Kisah sukses Aqua tidak hanya sebatas di dalam negeri, tapi juga mancanegara. Sejak 1987, produk Aqua telah diekspor ke berbagai negara seperti Singapura, Malaysia, Fillipina, Australia, Maldives, Fuji, Timur Tengah dan Afrika. Berbagai prestasi dan penghargaan pun didapatkan baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Bahkan almarhum Tirto Utomo pun dinobatkan sebagai pencetus air minum dalam kemasan dan masuk dalam “Hall of Fame” . Dan berdasarkan survey Zenith International, sebuah badan survey Inggris, Aqua dinobatkan sebagai merk air minum dalam kemasan terbesar di Asia Pasifik, dan air minum dalam kemasan nomor dua terbesar di dunia. Sebuah prestasi yang membanggakan untuk produk dalam negeri.

Dari kisah sukses Aqua, kita dapat belajar bahwa inovasi itu sangat penting. Sebuah ide yang tampaknya nyeleneh atau tidak lazim, seringkali malah membawa kisah sukses yang besar. Jadi, jangan takut untuk berinovasi. Berinovasi atau bisnis anda mati :)

Kisah Sukses SOSRODJOYO (Teh Botol Sostro)

Kisah kisah Inspiratif


SosroDjoyo

Kisah-kisah Inspiratif - Siapa yang tidak kenal dan belum penah mencoba Teh Botol Sosro? Coca-Cola dan Pepsi boleh saja jadi segelintir perusahaan asing yang produk minumannya familiar di kalangan masyarakat Indonesia. Saking hebatnya brand image yang dibangun sehingga seolah-olah produk mereka telah manjadi bagian dari hidup bangsa kita. Dengan leluasa mereka menjadikan indonesia dengan segala potensinya menjadi pasar empuk bagi produk yang dihasilkan. Tidak banyak produk indonesia yang begitu membanggakan dan mampu “menghajar” kekuatan kapitalis internasional itu. Salah satu produk membanggakan itu adalah Teh Botol Sosro ini.

Kesuksesesan sosro dalam merebut hati konsumen Indonesia sesungguhnya dilihat dari aspek pemasaran cukup unik. Sosro,dalam beberapa hal, telah mengabaikan hukum-hukum umum yang terdapat di ilmu pemasaran. Misalnya saja mengenai perlunya riset pasar sebelum meluncurkan produk. Konon kabarnya sebelum sosro hadir, ada sebuah perusahaan asing yang ingin mengeluarkan produk teh dalam botol sepert yang dilakukan sosro saat ini. Kala itu sang perusahaan menyewa jasa sebuah biro riset pemasaran untuk menguji kelayakan dan prospek produk tersebut di Indonesia. Setelah meneliti dan mengamati kebiasaan minum teh di masyarakat sang biro pun menyimpulkan bahwa produk ini tidak memiliki prospek bagus untuk dipasarkan di Indonesia. Biro itu beralasan bahwa budaya minum teh pada bangsa Indonesia umumnya dilakukan pagi hari dalam cangkir dan disajikan hangat sehingga kehadiran teh dalam kemasan botol justru akan dianggap sebuah keanehan.

Sosrodjojo, pendiri perusahaan sosro, justru berpikir sebaliknya. Awalnya ide kemasan botol berasal dari pengalaman tes cicip (on place test) di pasar-pasar tradisional terhadap teh tubruk cap botol. Pada demonstrasi pertama teh langsung diseduh di tempat dan disajikan pada calon konsumen yang menyaksikan. Namun cara tersebut memakan waktu lama sehingga calon konsumen cenderung meninggalkan tempat. Kemudian pada uji berikutnya teh telah diseduh dari pabrik dan kemudian dimasukkan ke dalam tong-tong dan dibawa dengan mobil. Akan tetapu cara ini ternyata membuat banyak teh tumpah selama perjalanan karena saat itu struktur jalan belum sebaik sekarang. Akhirnya sosro mencoba untuk memasukkannya pada kemasan-kemasan botol limun agar mudah dibawa. Beranglkat dari itu merekaberpikir bahwa penggunaan kemasan botol adalah alternatif yang paling praktis dalam menghadirkan kenikmatan teh lansung ke konsumen.

Dari awal produk ini ditargetkan untuk konsumen yang sering melakukan perjalanan seperti supir dan pejalan kaki sosro . Sosro menyadari bahwa segmen konsumen ini memiliki keinginan hadirnya minuman yang dapat menghilangkan dahaga di tengah kelelahan dan kondisi panas selama perjalanan. Atribut kepuasan ini dicoba untuk dipenuhi dengan menghadirkan minuman teh dalam kemasan botol yang praktis dan tersedia di kios-kios sepanjang jalan. Untuk menambah nilai kepuasan teh botol ini disajikan dingin dengan menyediakan boks-boks es pada titik-titik penjualannya (penggunaan kulkas pada saat itu belum lazim).

Tentu saja merubah kebiasaan tak semudah membalik telapak tangan . Pada masa-masa awal peluncurannya, teh botol sosro tidak banyak dilirik oleh konsumen. Mereka justru menganggap aneh produk ini karena kemasan botol dan penyajian dinginnya. Namun sosro tidak patah arang. Perusahaan ini terus mengedukasi pasarnya melalui iklan-iklan di berbagai media dan promosi-promosi on the spot. Perlahan tapi pasti produk teh botol sosro mulai mendapatkan tempat di hati konsumen Indonesia. Terlebih ketika slogan “Apapun makannya, minumnya teh botol sosro” di munculkan. Slogan ini tidak saja mengguncang sesama produk teh namun juga produk minuman secara keseluruhan.

Keunikan kedua dari metode pemasaran teh botol sosro adalah pada kekakuan dari produk itu sendiri. Sesuai teori pemasaran, konsumen secara alami mengalami perubahan atribut kepuasan seiring berjalannya waktu. Perubahan itu dapat disebabkan karena gaya hidup, kondisi ekonomi, atau kecerdasan yang maik meningkat. Seiring perubahan pasar itu harusnya produk yang dipasarkan harus menyesuaikan dan mengikuti tren yang ada. Namun yang terjadi pada produk teh inovatif ini justru kebalikan. Semenjak diluncurkan pada tahun 1970, produk teh botol sosro baik rasa, kemasan logo maupun penampilan tidak mengalami perubahan sama sekali. Bahkan ketika perusahaan multinational Pepsi dan Coca cola masuk melalui produk teh Tekita dan Frestea, Sosro tetap tak bergeming. Alih-alih merubah produknya, dengan cerdas sosro justru melakukan counter branding dengan mengeluarkan produk S-tee dengan volue yang lebih besar. Strategi ini ternyata lebih tepat, kedua perusahaan multinasional itu pun tak berhasil berbuat banyak untuk merebut hati konsumen Indonesia.

Sekelumit kisah sukses sosro itu memberi pelajaran pada kita betapa pemasaran tidak hanya sekedar ilmu yang eksak. Faktor knowledge terkadang hanya memberi kontribusi kecil pada kesuksesan produk kita ketika dipasarkan. Faktor sisanya adalah seni dan intuisi yang dapat memandu para pemasar mencapai hasil yang di luar dugaan. Gabungan antara ketiganya lah yang dapat menghasilkan seorang pemasar yang jenius dan berpikir di luar kebiasaan yang ada. Mungkin tidak banyak orang seperti itu di dunia ini, tapi mungkin juga dari jumlah yang sedikit itu ternyata Anda lah salah satunya.

Kisah Sukses LIEM SIOE LIONG (Soedono Salim)

Kisah kisah Inspiratif


Liem Sioe Liong

Kisah-kisah Inspiratif - Pada era Orde Baru, nama Liem Sioe Liong, sangat terkenal karena kekayaan dan kedekatannya dengan pemerintah. Liem Sioe Liong yang mulai mengenal Indonesia pada usia 20 tahun, kurang lebih 45 tahun lalu, mengatakan, “Anda harus dilahirkan di tempat dan waktu yang benar.” Dan, Anthony Salim – putranya yang bernama kelahiran Liem Fung Seng -, ikut berkomentar kepada majalah yang sama, “Jika anda ingin menangkap seekor ikan, pertama-tama anda harus membeli umpan.”

Kalimat pendek yang cenderung merupakan ungkapan dalam sastra Indonesia itu, sebenarnya gambaran prinsip mereka berdagang di Indonesia sampai merembes ke kancah Internasional. Dengan grup yang ia pimpin, Soedono Liem Salim kelahiran Fukien, 1916 yang bermula bersama kakaknya: Liem Sioe Hie, membantu paman mereka berdagang minyak kacang di Kudus-Jawa Tengah, anak kedua dari tiga bersaudara ini bisa menggaji 25 ribu tenaga kerja. Dari Eksekutif Senior sampai sopir truk yang jumlahnya tak kurang dari 3000 armada termasuk pengangkut semen perusahaan Liem Cs.

Terkaya di Indonesia, memiliki 40 perusahaan, Liem Sioe Liong dengan para kamradnya menghasilkan omset bisnis tak kurang dari US$ 1 milyar setahun. Konon kekayaan pribadi Liem sendiri, ada yang menyebutkan, sekitar US$ 1,9 milyar = Rp. 1,2 triliun.

Di kalangan pedagang Tionghoa Indonesia dia terkenal dengan sebutan “Liem botak”. Sejarah orang bernama Liem Sioe Liong (60 tahun) dimulai di sebuah pelabuhan kecil. Fukien di bilangan Selatan Benua Tiongkok. Dia dilahirkan di situ pada tahun 1918.

Kakaknya yang tertua Liem Sioe Hie – kini berusia 77 tahun – sejak tahun 1922 telah lebih dulu beremigrasi ke Indonesia – yang waktu itu masih jajahan Belanda – kerja di sebuah perusahaan pamannya di kota Kudus. Di tengah hiruk pikuknya usaha ekspansi Jepang ke Pasifik, dibarengi dengan dongeng harta karun kerajaan-kerajaan Eropa di Asia Tenggara, maka pada tahun 1939, Liem Sioe Liong mengikuti jejak abangnya yang tertua. Dari Fukien, ia Berangkat ke Amoy, dimana bersandar sebuah kapal dagang Belanda yang membawanya menyeberangi Laut Tiongkok. Sebulan untuk kemudian sampai di Indonesia. Sejak dulu, kota Kudus sudah terkenal sebagai pusat pabrik rokok kretek, yang sangat banyak membutuhkan bahan baku tembakau dan cengkeh. Dan sejak jamam revolusi Liem Sioe Liong sudah terlatih menjadi supplier cengkeh, dengan jalan menyelundupkan bahan baku tersebut dari Maluku, Sumatera, Sulawesi Utara melalui Singapura untuk kemudian melalui jalur-jalur khusus penyelundupan menuju Kudus. Sehingga tidak heran dagang cengkeh merupakan salah satu pilar utama bisnis Liem Sioe Liong pertama sekali, disamping sektor tekstil. Dulu juga dia, banyak mengimpor produksi pabrik tekstil murahan dari Shanghai.

Untuk melicinkan semua usahanya dibidang keuangan, dia punya beberapa buah bank seperti Bank Windu Kencana dan Bank Central Asia. Di tahun 1970-an Bank Central Asia ini telah bertumbuh menjadi bank swasta kedua terbesar di Indonesia dengan total asset sebesar US$ 99 juta.

Salah satu peluang besar yang diperoleh Liem Sioe Liong dari Pemerintah Indonesia adalah dengan didirikannya PT. Bogasari pada bulan Mei 1969 yang memonopoli suplai tepung terigu untuk Indonesia bagian Barat, yang meliputi sekitar 2/3 penduduk Indonesia, di samping PT. Prima untuk Indonesia bagian Timur.

Hampir di setiap perusahaan Liem Sioe Liong dia berkongsi dengan Djuhar Sutanto alias Lin Wen Chiang yang juga seorang Tionghoa asal Fukien.

Bogasari sebuah perusahaan swasta yang paling unik di Indonesia. Barangkali hanya Bogasarilah yang diberikan pemerintah fasilitas punya pelabuhan sendiri, dan kapal-kapal raksasa dalam hubungan perteriguan bisa langsung merapat ke pabrik.

Begitu perkasanya dia di bidang perekonomian Indonesia dewasa ini, mungkin menjadi titik tolak majalah Insight, Asia’s Business Mountly terbitan Hongkong dalam penerbitan bulan Mei tahun ini, menampilkan lukisan karikatural Liem Sioe Liong berpakaian gaya Napoleon Bonaparte. Dadanya penuh ditempeli lencana-lencana perusahaannya. Perusahaan holding company-nya bernama PT Salim Economic Development Corporation punya berbagai macam kegiatan yang dibagi-bagi atas berbagai jenis divisi; masing-masing adalah:

1. divisi perdagangan
2. divisi industri
3. divisi bank dan asuransi
4. divisi pengembangan (yang bergerak dibidang hasil hutan dan konsesi hutan)
5. divisi properti yang bergerak dibidang real estate, perhotelan, dan pemborong
6. divisi perdagangan eceran
7. divisi joint venture. Setiap divisi membawahi beberapa arah perusahaan raksasa, berbentuk perseroan-perseroan terbatas.



Pelbagai kemungkinan untuk lebih mengembangkan lajunya perusahaan sekalipun tidak akan meningkatkan permodalan, seperti go-public di pasar saham Jakarta, - dilangsungkan group Soedono Lem Salim dengan gencar. Halangan maupun isu bisnis yang mengancam perusahaannya, nampak tak membuat Liem cemas. Seperti katanya kepada Review, “Jika anda hanya mendengarkan apa yang dikatakan orang, anda akan gila. Anda harus melakukan apa yang anda yakini.” Bermodal kalimat pendeknya itu pulalah mengantar Liem Sioe Liong muda di Kudus yang juga terkenal sebagai Lin Shao Liang menjadi Soedono Salim si Raja Dagang Indonesia, belakangan ini.

JUSUF KALLA: Anak pengusaha yang berjuang menjadi penguasa.

Kisah kisah Inspiratif


Jusuf Kalla

Kisah-kisah Inspiratif - Muhammad Jusuf Kalla lahir di Wattampone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, 15 Mei 1942 ( kini usianya 67 tahun). Ia menyelesaikan pendidikan pada Fakultas Ekonomi, Universitas Hasanuddin Makassar tahun 1967 dan The European Institute of Business Administration Fountainebleu, Prancis (1977). Pada Pemilu 2004, ia “meninggalkan” Partai Golkar karena kalah dalam konvensi calon presiden di Partai Golkar, dan bergabung dengan Partai Demokrat dengan menjadi calon Wakil Presiden dari calon Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Kemudian setelah menjadi Wakil Presiden, ia merebut Partai Golkar`dari Akbar Tanjung dan kawan-kawan.

Waktu itu Wiranto yang memenangi konvensi calon presiden partai Golkar, yang kini dipilihnya menjadi calon wakil presidennya. Akbar Tajung waktu itu member sanksi kepada Kalla dan tim pendukungnya dari Gokar seperti Fahmi Idris dan Marzuki Darusman karena tidak mematuhi garis partai yakni menundung capres hasil konvensi. Golkar pada Pemilu 2004 memulai tradisi yang demokratis dalam pemilihan calon presiden , meniru konvensi serupa di Amerika Serikat. Semua warganegara Indonesia, tidak hanya anggota Partai Golkar diperbolehkan mencalonkan diri yang akan dipilih oleh pengurus-pengurus daerah Partai Golkar. Mendiang Nurcholis Madjid juga mendaftar walaupun akhirnya mundur karena, menurutnya ia “kurang gizi” untuk memenangkan konvensi. Namun, menjelang Pemilu 2009, Jusuf Kalla, Ketua Umum Partai Golkar menghapus tradisi demokratis tersebut untuk melempangkan jalannya sendiri menjadi capres dari Partai Golkar. Dengan konvensi, jalan Kalla menjadi capres Partai Golkar sudah pasti akan sangat sulit dan sangat mahal, mengingat para elite politik partai itu tidak yakin Jusuf Kalla akan mampu mengalahkan Susilo Bambang Yudhoyono. Bagaimana sebuah partai mengusung dan mengeluarkan biaya besar dalam Pemilu Presiden hanya untuk kalah?

Pada Pemilu 2004, Golkar dipuji karena dianggap satu-satunya partai yang paling demokratis dalam pemilihan calon presidennya. Waktu itu semua capres dari dari partai lain, yakni Pertai Demokrat yang mengajukan Susilo Bambang Yudhoyono dan PDI Perjuangan yang megajukan Megawati Soekarnoputri tidak dipilih melalui mekanisme konvensi . Tetapi pujian itu kini tidak ada lagi, Partai Golkar telah kembali lagi seperti dulu yakni Ketu Umum dan elite politik di sekitarnya yang secara tradisional menentukan arah kebijakan partai, tidak berbeda dengan partai-partai lainnya seperti PDI Perjuangan yang sangat tergantung pada keinginan Megawati Soekaroputri dan demikian juga Partai Demokrat.
Pada 24 April Kalla diberhentikan dari jabatannya sebagai Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI merangkap Kepala Bulog oleh Presiden Abdurrahman Wahid. Jabatannya sebagai menteri hanya antara 1999-2000. Bersama dia diberhentikan juga Menteri Negara Urusan BUMN Laksamana Sukardi. Keduanya diberhentikan dengan alasan telah melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme. Pemberhentian ini memancing kemarahan Partai Golkar dan PDI Perjuangan. Posisi Kalla digantikan oleh Letjen TNI (Purn) Luhut Panjaitan yang dilantik 26 April 2000.

Pemecatan itu ikut mendorong penggulingan Gus Dur sebagai Presiden. Partai Golkar ikut terlibat aktif menggulingkan Gus Dur dari kursi Kepresidenan, dan diambilalih oleh Megawati Soekarnoputri. Kalla kembali ke Kabinet Megawati dan ditunjuk menduduki jabatan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat. Kalla mengundurkan diri sebagai Menko Kesra sebelum maju sebagai calon wakil presiden, mendampingi calon presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang sudah mundur sebelumnya sebagai Menko Polkam. Selain tugas-tugas sebagai Menko Kesra, M. Jusuf Kalla telah meletakkan kerangka perdamaian di daerah konflik Poso, Sulawesi Tengah, dan Ambon, Maluku. Lewat pertemuan Malino I dan Malino II dan berhasil meredakan dan menyelesaian konflik di antara komunitas Kristen dan Muslim.

Sebagai Wakil Presiden, Jusuf Kalla tidak mau hanya sebagai “ban serep” sebagaimana fungsi wakil-wakil presiden di era-era sebelumnya di Indonesia. Kalla ingin peran politik dan pemrintahan yang lebih dari apa yang diatur dalam UUD 1945. Ia berhasil memainkan sendiri peran politiknya yang signifikan sebagai wakil presiden. Hingga suatu ketika ia bilang “I am the real President” (sayalah Presiden sesungguhnya). Pernyataan ini menimbulkan ketegangan dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang memang sudah menegang sebelumnya. Kalla juga memainkan peran yang penting dalam proses Perdamaian di Aceh dengan memberikan otonomi khusus kepada Provinsi Namggroe Aceh Darusalam dan berdamai dengan Gerakan Aceh Merdeka. Sebagai Wakil Presdien ia sama populernya dengan Presiden, sehingga media berspekulasi ada “matahari kembar” di pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Presidennya berasan dari partai bukan pemenang Pemilu, namun Wakil Presidennya berasal dari partai pemenang.

Afiliasi politiknya dengan pemilik Lapindo Brantas Inc., membuat Kalla agak gugup menangani masalah ganti rugi untuk penduduk Sidoarjo korban lumpur Lapindo. Hingga kini masalah itu belum tuntas dan masalahnya berkepanjangan.
Jusuf Kalla lahir dari sebuah keluarga pengusaha di Sulawesi Selatan. Putra pasangan Hadji Kalla dan Hajjah Athirah ini sebelum terjun ke pemerintahan dikenal luas oleh dunia usaha sebagai pengusaha sukses. Usaha-usaha yang dirintis ayahnya melalui perushaan NV Hadji Kalla, diserahkan kepemimpinannya kepada Kalla sesaat setelah ia diwisuda menjadi Sarjana Ekonomi di Universitas Hasanuddin, Makassar akhir 1967. Di samping menjadi Managing Director NV. Hadji Kalla, juga menjadi Direktur Utama PT Bumi Karsa dan PT Bukaka Teknik Utama.

Usaha yang digelutinya, di samping usaha lama, ekspor hasil bumi, dikembangkan usaha yang penuh idealisme, yakni pembangunan infrastruktur seperti pembangunan jalan, jembatan, dan irigasi guna mendorong produktivitas masyarakat pertanian.

Anak perusahaan NV. Hadji Kalla antara lain; PT Bumi Karsa (bidang konstruksi) dikenal sebagai kontraktor pembangunan jalan raya trans Sulawesi, irigasi di Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara, jembatan-jembatan, dan lain-lain. PT Bukaka Teknik Utama didirikan untuk rekayasa industri dan dikenal sebagai pelopor pabrik Aspal Mixing Plant (AMP) dan gangway (garbarata) lorong yang menghubungkan terminal dengan pintu pesawat, dan sejumlah anak perusahaan di bidang perumahan (real estate); transportasi, agrobisnis dan agroindustri. Bukaka merupakan perusahaan yang tumbuh dan sukses di zaman Orde Baru. Dari perusahaan-perusahaannya dan gajinya sebagai pejabat Negara hingga Wakil Presiden, Kalla memiliki kekayaan sebagaimana yang ia laporkan ke Komisi Pemilihan Umum sebesar Rp 314,5 miliar dan 25.668 dollar AS.
Atas prestasinya di dunia usaha, Jusuf Kalla dipilih oleh dunia usaha menjadi Ketua Kamar Dagang dan Industri Daerah (Kadinda) Sulawesi Selatan (1985-1997), Ketua Dewan Pertimbangan KADIN Indonesia (1997-2002), Ketua Umum Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), Sulawesi Selatan (1985-1995), Wakil Ketua ISEI Pusat (1987-2000), dan Penasihat ISEI Pusat (2000-sekarang).

Kalla memulai “karir” organsiasinya sebagai Ketua HMI Cabang Makassar tahun 1965-1966, Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Hasanuddin (UNHAS) 1965-1966, serta Ketua Presidium Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) tahun 1967-1969 memberi bekal untuk menyelesaikan masalah-masalah yang sulit tersebut. Tahun 1965 sesaat setelah pembentukan Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar), Kalla terpilih menjadi Ketua Pemuda Sekber Golkar Sulawesi Selatan dan Tenggara (1965-1968). Kemudian, terpilih menjadi Anggoa DPRD Provinsi Sulawesi Selatan Periode 1965-1968 mewakili Sekber Golkar. Ia menjabat sebagai Anggota Dewan Penasihat DPP Golkar, dan menjadi Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Utusan Golkar (1982-1987), serta Anggota MPR-RI Utusan Daerah (1997-1999). Pada 2004 Kalla terpilih menjadi Ketua Umum Partai Golkar setelah menjadi Wakil Presiden.

Di kalangan agama-agama lain selain Islam, Jusuf Kalla dipilih menjadi Ketua Forum Antar-Agama Sulsel. Ia penggemar olah raga golf ini, selama sepuluh tahun (1980-1990) menjadi Ketua Persatuan Sepak Bola Makassar (PSM) dan Pemilik Club Sepak Bola Makassar Utama (MU) tahun 1985-1992.Jusuf Kalla yang menikah dengan Mufidah dan dikaruniai satu putra dan empat putri serta sembilan cucu.***

Berdasarkan data dari LHKPN KPK tertanggal 7 Mei 2004 dan 31 Mei 2007, berikut harta milik JK:

7 Mei 2004:
- Harta tidak bergerak, terdiri dari enam bidang tanah dan bangunan sebesar Rp51,6 miliar.
- Peternakan, perikanan, perkebunan, pertanian, kehutanan Rp1 miliar.
- Harta bergerak Rp425 juta.
- Harta bergerak lain berupa logam mulia, batu mulia dan sebagainya, sebesar Rp338,7 juta.
- Surat berharga sebesar Rp142 miliar.
- Giro dan setara kas USD14.928 dan USD14.928.
Dengan demikian total harta kekayaan pada laporan ini sebesar Rp194 miliar.
31 Mei 2007:
- Harta tidak bergerak, terdiri dari tanah dan bangunan sebanyak 50 bidang di Makassar dan Kendari sebesar Rp80,3 miliar.
- Harta bergerak yang terdiri dari tiga mobil, sebesar Rp300 juta.
- Peternakan, perikanan, perkebunan, pertanian, kehutanan sebesar Rp1 miliar.
- Harta bergerak lain yang terdiri dari logam mulia, batu mulia dan lain sebagainya, Rp338,7juta.
- Surat berharga sebesar Rp172,62 miliar dengan 13 investasi.
- Giro dan setara kas sebesar USD14.928.
Dengan demikian, total harta yang dimiliki JK sesuai daftar kekayaan periode 2004-2007 sebesar Rp253 miliar dan USD14.928. Sedangkan laporan kekayaan untuk periode 2009 baru akan diumumkan pada 25 Mei oleh KPU.

Kisah Sukses HENRY FORD

Kisah kisah Inspiratif


Henry Ford

Kisah-kisah Inspiratif - Henry Ford dilahirkan pada tanggal 30 Juli 1863. Ia dimasukkan ke sekolahnya pada usia 5 tahun oleh ibunya. Ketika akan berangkat ia harus berlari-lari kecil menuju sekolahnya yang berjarak kurang lebih 2½ mil itu. Dan dengan jarak yang sama pula kembali pulang pada saat gelap telah turun, sampai di rumah. Dengan begitu ia harus membawa bekal dari rumah untuk makan siang di sekolahnya. Tiga tahun kemudian ia dipindahkan ke sekolah lain oleh orang tuanya tapi masih dalam jarak yang sama.

Sejak masih kecil Henry telah menaruh perhatian yang besar terhadap berbagai mesin-mesin. Hal tersebut amat mencemaskan ayahnya. Ayahnya, William Ford menginginkan anaknya kelak menjadi seorang petani atau pedagang besar dan sukses karena ia sendiri adalah juga keturunan seorang petani. Akan tetapi Hendry tidak berminat terhadap pertanian. Kesukaannya kepada mesin-mesin itu kadang-kadang sering menyulitkannya, karena ia harus melawan kemauan ayahnya.

Suatu hari seorang petani datang ke sekolah Henry sambil marah-marah. Ia mengadu kepada guru di sekolah itu, dan menceritakan perihal tingkah laku beberapa orang murid sekolah itu. Mereka dipimpin oleh Henry untuk membendung sebuah sungai kecil yang mengaliri ladang-ladang pertanian miliki petani tadi.

Bendungan tersebut mengakibatkan aliran sungai menjadi terhenti dan mengakibatkan banjir yang tidak karuan. Sang guru langsung berpaling dan berkata kepada Henry, “Pekerjaan apa ini, Henry?”, Tanya gurunya dengan geram. “Mengapa, ee” jawab Hendry tanpa acuh, “Kami tidak melakukan apa pun dan membanjiri ladang itu, kami hanya membangun sebuah bendungan untuk membendung air guna mengadakan percobaan kincir air untuk penggilingan kopi. Bapak dapat melihatnya bagaimana hebatnya alat itu bekerja”. Elak Henry.

Serta-merta gurunya itu marah dan mengukum Henry. Kemudian berkata kepada murid-murid yang lain, “Kalian harus belajar menghormati masyarakat, dan menolongnya. Bukankah saya selalu berpesan begitu setiap kali kalian akan pulang? (Kejengkelan tersebut diucapkan sang guru untuk menghibur si petani yang marah-marah tadi. Tapi ia tertarik dengan pekerjaan yang telah dilakukan oleh murid-muridnya).

Setelah eksperimen di atas dianggap cukup berhasil, Hendry menjadi lebih tekun mempelajari cara-cara mesin bekerja. Di sekolahnya suatu ketika, sewaktu pelajaran, sedang berlangsung, dengan bangga ia bercerita kepada teman-temannya mengenai mesin-mesin yang diketahuinya. Teman-temannya itu menjadi tertarik dan berkerumun di sekelilingnya mengakibatkan pelajaran terganggu. Tiba-tiba gurunya datang ke tengah-tengah kerumunan itu. “Henry”, bentak gurunya dengan geram dan menatap para murid-muridnya, “Apakah kalian tidak pernah mencoba bagaimana untuk belajar yang baik? Apa gunanya kalian datang ke sekolah ini. Ha? Sekarang kalian bersama Henry harus tinggal di kelas sehabis pelajaran nanti”.

Gurunya itu memberikan kepada mereka sebuah mesin yang telah dirusakkan lebih dulu. “Kalian harus membetulkan mesin ini!” Gertak gurunya itu. “Bilamana kalian tidak dapat memperbaikinya, kalian akan mendapat hukuman lagi”. Akan tetapi Henry dengan tangkas mengerjakan mesin tersebut hanya dalam jangka waktu kurang dari 10 menit segera selesai. Gurunya jadi kagum melihat bakat muridnya tersebut.

Keterampilannya dalam bidang permesinan itu membuat ia mulai dikenal orang. Ia sering memperbaiki mesin-mesin para tetangganya. Banyak orang yang kagum akan bakat Henry itu, tetapi ayahnya membenci pekerjaan itu. William Ford menginginkan anaknya menjadi seorang petani yang baik. Tetapi hal tersebut tidak dapat dicegahnya sehubungan Henry mempunyai kemauan yang besar dalam bidang ini.

Setelah meningkat dewasa, dan merasa mampu untuk hidup mandiri. Henry meminta restu kepada orang tuanya untuk mencoba hidup merantau. Ia berjalan menuju kota Detroit. Di kota ini ia mendapatkan pekerjaan pada sebuah pabrik. Ia mendapat gaji 2,50 dolar seminggu. Tapi ia harus mengeluarkan biaya 3,50 dolar untuk biaya hidup dalam waktu yang sama. Maka untuk menutupi kekurangan, itu ia menambah pekerjaan ekstra sebagai pelayan pada sebuah toko permata. Dari toko ini ia menerima 2,00 dolar. Sembilan bulan lamanya ia bekerja di pabrik itu, sementara menjadi pelayan pada toko permata ketika pulang dari bekerja di pabrik.

Suatu hari, tiba-tiba ia mendapat kabar perihal ayahnya yang sakit keras. Ayahnya meminta Henry agar lekas pulang. Henry tidak dapat berbuat apa-apa kecuali memenuhi permintaan ayahnya itu. Dia harus kembali ke ladang!

Selama bekerja sebagai petani, Henry mempunyai ide untuk membuat sejenis mesin yang dapat bekerja sebagai bajak di ladang-ladang. Ia tidak menyetujui binatang-binatang dipekerjakan di ladang-ladang dan kebun. Mereka menjadi banyak makan. Selama musim dingin mereka tidak bekerja, tetapi makan terus. Henry menciptakan sebuah mesin yang dapat bekerja di ladang-ladang untuk menggantikan hewan tanpa harus terus-menerus memberinya makan. Hasil temuannya itu merupakan sumbangan yang amat berarti bagi penciptaan mesin-mesin pertanian kelak. Banyak orang yang tertarik kepada idenya. Di samping itu ia banyak pula membantu para tetangganya telah sedikit demi sedikit memakai mesin di ladang-ladang mereka. Henry adalah orang-orang begitu cakap dalam bidang permesinan ini, sehingga ia dikenal sebagai ahli mesin satu-satunya di daerah itu, ini berlangsung selama beberapa tahun.

Karena tidak dapat meninggalkan tanah pertanian selama ayahnya sakit. Maka ia banyak memperhatikan masalah dan kekurangan-kekurangan yang diderita oleh para petani. Ia menyimpulkan bahwa para petani tidak perlu mengeluarkan biaya yang banyak yang 24 hari dalam setahun bekerja memproduksi bahan makanan. Henry berkata kepada para tetangganya, “Bila waktunya membajak, mengolah tanah dan menuai lebih baik, para petani harus menggunakan mesin-mesin atau mekanisasi. Disamping pekerjaan lebih cepat selesai, dapat pula memberikan upah yang layak. Ladang yang diolah dengan cara mekanisasi dapat dan akan menekan biaya operasionalnya, selain pekerjaan dapat diselesaikan dengan tepat, para petani dapat pula menikmati hasil ladangnya dengan pendapatan yang pantas.”

Henry Ford menciptakan mesin pertaniannya yang pertama ketika ia berumur 20 tahun. Percobaan yang pertama dari mesin yang kelihatan aneh. Ini hanya mampu bergerak 40 kaki kemudian tiba-tiba berhenti. “Saya mengharapkan mesin ini mampu membajak seluruh ladang-ladang dalam waktu yang singkat,” kata Henry, “Tapi penemuan ini belum mempunyai kekuatan yang berarti”. Traktor yang pertama ini masih menunggu penemuan lain di negara itu, yakni penggunaan bahan bakar.

Sementara itu Henry Ford menyenangi seorang gadis manis di sebuah kota lain. Tetapi gadis manis tersebut tidak menyukainya. Henry memikirkan cara memecahkan problem itu. Ia membeli satu set permainan sulap dan meminjam seekor kuda manis kepunyaan bapaknya. Kemudian ia membuat sebuah jubah dari kain satin. Selanjutnya mendirikan sebuah grup sulap di dekat rumah Clara Bryant, anak gadis yang memikat hatinya itu. Dengan mengerjakan sebuah baju rompi yang manis, dan banyak sakunya, juga sebuah jam yang dibuatnya sendiri dan dua buah sapu tangan, Henry menunjukkan kebolehannya dalam bermain sulap. Henry mengadakan dua kali pertunjukan yang selalu menarik di kala itu. Hal tersebut sekaligus mencapai yang diinginkannya, menaklukkan hati Clara Bryant yang semula tidak suka kepadanya.

“Ibu”, kata Clara Bryant kepada ibunya suatu pagi, “Saya kira laki-laki yang bernama Ford yang mengadakan pertunjukan bersama kawannya di samping rumah itu, saya yakin dia akan dapat terkenal di dunia.”

Henry tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Beberapa minggu kemudian ia menghampiri ayahnya dan berkata, “Ayah, sekiranya saya memutuskan untuk kawin, apa yang akan ayah berikan kepada saya?” William Ford berpikir sejenak lalu katanya, “Engkau akan mendapatkan delapan puluh acre (1 acre sama dengan 4072 m2 ) tanah, semua pekayuan yang engkau inginkan dapat engkau potong sendiri untuk sebuah rumah.

“Baiklah”, sorak Henry. Kemudian dia mulai menebangi pepohonan di tanah yang di berikan oleh ayahnya itu. Sebagian untuk dipersiapkan untuk mendirikan sebuah rumah untuk keluarga kelak. Akhirnya apa yang ia inginkan untuk menikahi Clara tercapai. Henry dan Clara menikah pada bulan Apil 1888. Mereka hidup dengan menggarap ladang selama tiga tahun di pemberian ayahnya. Pada suatu malam Henry berkata kepada istrinya, “Clara, saya yakin kita akan lebih sukses, bila kita bisa pindah ke Detroit. Saya akan membuat sebuah kereta kuda di sana. Di sini saya terlalu sibuk!” Henry kemudian menerangkan kepada istrinya tentang gagasan-gagasannya untuk membuat kendaraan yang digerakkan dengan mesin.

Di Detroit ia mendapatkan pekerjaan di perusahaan lampu “Edison” pada malam hari, sedangkan pada siang hari ia membuat kereta kudanya untuk berlari. Selama dua tahun ia belum dapat menciptakan kereta kudanya untuk berlari. Ia telah banyak menghabiskan waktu di bengkelnya yang terbuat dari batu bata sederhana itu, sementara di sekeliling para tetangganya melihat tingkahnya, menganggap Henry telah gila.

“Sebuah kereta kuda!?” kata mereka, “Bila akan bergerak kalau Henry tidak mendorongnya”. Tapi Henry Ford tetap pada pendiriannya. Henry tidak berhenti bekerja di bengkelnya. Ia menumpahkan segala perhatiannya dengan penuh konsentrasi terhadap idenya. “Barang apa yang dikerjakan si dungu itu?” kata orang-orang yang melihat kelakuan Henry itu. Kemudian mereka menyiramnya dengan air. Henry Ford tidak dapat berbuat apa-apa, ia dalam keadaan miskin sekali.

Pada suatu pagi tahun 1893 sebuah kereta kuda, siap untuk diuji coba. Dengan kegigihan yang kuat dan cekatan yang membaja Henry Ford memulai mengoperasikan keretanya, yang sangat membisingkan dan mengeluarkan asap yang mengepul-ngepul di udara. Kereta itu meluncur dari pabriknya menuju jalan raya. Tapi tidak jauh berlari. Baru beberapa kaki saja beranjak dari bengkel tiba-tiba mati, dan tak dapat berkelok karena tidak mempunyai kemudi. Akan tetapi mesin kereta itu kembali hidup dengan demikian kini Henry telah membuktikan kepada orang-orang di sekelilingnya yang selama ini menganggap lucu, dungu, dan tolol, sekarang tidaklah demikian halnya.

Malam itu, Henry si perancang kereta itu merasa sangat puas dan bahagia dengan hasil temuannya. Karya tersebut dirayakannya dengan segelas susu panas, kemudian membantingkan bajunya yang basah oleh keringat itu ke samping perapian, lantas meloncat ke tempat tidur. Untuk menikmati mimpi yang indah yang untuk pertama kalinya setelah meninggalkan tanah pertaniannya.

Ketika kereta ciptaannya diuji coba untuk kedua kalinya, istrinya ikut ambil bagian, yaitu sebagai penumpang. Kreativitas mereka itu menimbulkan sensasi? Beberapa ekor kuda sekonyong-konyong terkejut, lantas lari sekencang-kencangnya tidak tentu arah, ketika kereta Henry itu lewat di dekatnya. Suara kereka itu menimbulkan pekik yang memekakan telinga, lantara kerasnya. Mendadak kereta itu terhenti karena mesinnya mati.

Orang-orang menyaksikan keanehan itu serentak menyerbu, mengelilingi benda yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Serta-merta mereka bersorak, sebagian merasa kagum, tapi sebagian besar menunjukkan rasa cemas. Sejumlah besar dari mereka mengeluhkan suara yang ditimbulkan oleh kereta aneh itu sehingga mengakibatkan kebisingan dan kegaduhan. Karena itu sangat kotor dan kelihatan dan kelihatan membahayakan. Mereka berkata bahwa hal tersebut pasti akan menimbulkan bencana, sehubungan dengan ia tidak dapat dikendalikan. Ia hanya bisa lari lurus memanjat bukit dan meloncati tebing-tebing. Mereka menasihati Henry Ford agar pekerjaan itu diberhentikan saja. Tapi sang “penemu” itu menjawab, “Kereta ini harus lari, dan lari”, tapi itu harus diperbaiki, kata mereka. Ford menjawab spontan “Saya sekarang belum mempunyai dana dan tidak mempunyai koneksi yang dapat membantu saya. Yang saya pikirkan sekarang adalah bagaimana dapat menciptakan sebuah “otomobil”. Bertahun-tahun lamanya Henry memikirkan, bagaimana ia dapat menyempurnakan hasil karyanya itu. Demikianlah sampai ia mampu menunjukkan kepada dunia bahwa ia telah memperbaiki modal yang besar dan kuat, hasil dari gagasan-gagasannya yang semula dianggap gila itu.

Ketika Henry Ford meninggal dunia pada tahun 1947, ia mencapai usia 83 tahun. Sedikit sekali orang yang dapat memahaminya, tetapi berjuta-juta orang tahu bahwa kereta kudanya telah mengelilingi dunia.

KISAH SUKSES DEWI MOTIK PRAMONO PUTRI AYU BISNIS INDONESIA


Kisah-kisah Inspiratif - Tahun 1991 adalah tahun penuh arti bagi Dewi Motik. Betapa tidak, tahun inilah dia mendapatkan cobaan yang cukup berat dan sulit. Oleh seorang warga Amerika, ia dituduh anti kenaikan upah buruh. Tuduhan yang diberikan kepadanya, tidak tanggung-tanggung bertanya, fotonya disebar-luaskan di seluruh penjuru dunia sebagai profil wanita penekan buruh dari Indonesia. Akhir-akhir ini Dewi Motik sering menjadi sorotan pembicaraan masyarakat. Selain hal semacam di atas, ia memang termasuk tokoh yang acap kali menjadi pembicara di berbagai forum, juga aktif di berbagai kepanitiaan secara akbar semacam Festival Istiqlal. Yayasan Putri Ayu yang dipimpin dan didirikannya sejak tahun 1981, menjadi perdebatan nasional. Sampai sekarang pemilihan putri ayu sudah terlaksana 11 kali memperebutkan piala Ibu Tien Suharto. Pemerintah pun seperti tidak keberatan kalau Yayasan Putri Ayu, mengirim pemenang tahun 1991 (gadis keturunan Suku Dayak – Kalimantan) pada acara Miss Universe ke Bangkok. Disamping itu, belakangan ini juga, Dewi Motik berhasil melakukan ekspansi bisnisnya. Dia bekerjasama dengan Departemen Transmigrasi membuka areal seluas 5000 ha di Sumatera Selatan. Di sana mereka membuka lahan PIR yang diperbaharui dengan dana dari Bank Dunia. Kesuksesan lain: tahun 1991, Dewi Motik berhasil merampungkan pembangunan IWAPI berlantai 4 di Kali Pasir, Jakarta, sebagai perwujudan perjuangannya mengembangkan ketrampilan kaum wanita Indonesia. Semua itu dilakukannya demi kesejahteraan kaum hawa itu secara khusus, dan kesejahteraan bangsa secara umum.

Banyak hal yang terjadi pada diri Dewi Motik. Semua itu merupakan hasil dari deposito pengalaman dan perjuangannya bekerja keras sejak masih Remaja. Kesuksesan itu juga, membawa Implikasi tertentu, kasus tuduhan Amerika di atas tadi sebagai salah satu Contohnya. Lepas dari itu semuanya, banyak hal yang perlu dipelajari dari diri seorang wanita Indonesia super aktif ini, setidaknya, sebagai bahan perbandingan bagi Remaja putri khususnya, dan bagi generasi muda umumnya. Sejak umur 14 tahun, Dewi Motik (Sri puspa Dewi Motik) sudah terbiasa mempunyai uang sendiri. Banyak cara yang dilakukannya untuk mendapat uang. Contohnya, main sulap. Ketika beliau masih Sekolah Dasar di Menteng, Jakarta Pusat, bersama teman-teman sebayanya, sangat menggemari main sulap yang dilakukan oleh seseorang Om dekat sekolah mereka. Om pemain sulap itu di mata Dewi Motik, luar biasa. “Sudah disenangi orang dapat duit lagi,” katanya mengenang masa-masa indah itu.

Dewi Motik mendatangi rumah Om itu dan meminta diajari main sulap. Rahasia om itu merubah sapu tangan menjadi kucing, bunga jadi uang, akhirnya dengan mudah diketahui Dewi Motik. Dari permainan sulap ini, Dewi Motik yang lahir 10 Mei 1949 itu, bisa menyenangkan orang sambil mendapat uang. “Orang tua saya tidak melarang main sulap, asal kegiatan saya itu tidak melanggar kaidah agama dan tidak menentang norma masyarakat,” ujarnya. Masa Remaja Dewi Motik penuh dengan kegembiraan dan kebahagiaan. Bukan saja karena orang tuanya termasuk kelas menengah saat itu, tetapi lebih karena apa saja yang dilakukannya tidak mendapat pengawasan yang berlebihan dari orang tua. Keinginannya untuk mengetahui bermacam-macam hal, termasuk main sulap di atas, menyebabkan banyak temannya menyebutkan over acting.

Sejak usia itu, Dewi Motik memang sudah memperlihatkan jiwa kepemimpinan dan kepeloporan di tengah teman-temannya. Ia disenangi karena ia bisa memperjuangkan kepentingan teman-temannya, juga karena ia relatif bisa meminjamkan uang atau mentraktir kawan-kawannya itu. Tidak sedikit yang membencinya, namun alasan membencinya itu, terutama karena Dewi Motik punya banyak kelebihan. Termasuk kelebihannya meraih simpatik banyak teman pria sekelasnya. Seringkali sikap Dewi Motik tidak perduli dengan keadaan, ia melihat laki-laki itu sama saja dengan perempuan, mempunyai otak, punya tenaga, dan berperasaan. Bukan hanya kaum wnita yang sering kalah bersaing dengan dia, tetapi juga teman-teman prianya. Apalagi, Dewi Motik sebagai keturunan orang Palembang, mempunyai kulit putih yang mulus. Sosoknya yang tinggi semampai disertai dengan geraknya yang menarik dan tidak berkelebihan, menjadikannya pusat perhatian orang setiap kali ia hadir dalam sebuah pertemuan. Kecantikannya semakin lengkap dengan rambut panjangnya yang sampai sekarang dipelihara dengan baik. Itulah sebabnya Ikatan Mahasiswa Jakarta pada tahun 1968, memilih Dewi Motik sebagai Ratu Luwes. Wajar kalau kemudian banyak pria yang dekat dan menjajal kemampuan merebut hatinya. Namun, baginya, sikap teman-teman pria itu merupakan peluang emas yang perlu dimanfaatkan. Lalu, ia menawari mereka melakukan kegiatan-kegiatan yang positif. Tentu saja, banyak di antara mereka yang patuh.

Kendati mereka termasuk keluarga kaya, namun ayahnya ingin melihat anaknya hidup mandiri. Bisa melakukan apa saja yang bersifat positif. Ayah Dewi Motik bernama Basyaruddin Rahman Motik, seorang pengusaha ekspor impor yang terkenal di zamannya. Ia tidak melarang Dewi Motik mencari duit. Ia sangat mendukung segala macam kegiatan Dewi Motik asal berkaitan dengan kemajuan dan kemandirian. Praktek semacam inilah yang banyak memberi warna pada diri Dewi Motik, anak ke-4 dari 9 bersaudara itu. Ketika Dewi Motik belajar Bahasa Inggris di Kedutaan Perancis, ayahnya senang sekali. Itulah kelebihan Dewi Motik, di masa remajanya, mampu bicara dalam bahasa Inggris, Walau pengucapannya masih banyak yang salah.

Belajar dari sikap ayahnya itu, Dewi Motik tidak setuju pada orang tua yang melarang anaknya cari duit. “Apa salahnya, sambil Sekolah, juga mencari uang?” Menurut Dewi Motik, anak-anak akan berkembang cepat apabila bidang yang dipilihnya itu sangat disenangi. Ia menyarankan, orang tua sebaiknya memilih bidang kegiatan yang juga disenangi anak-anak mereka. Tatkala Dewi Motik berumur 17 tahun, ia mendapat kiriman majalah Remaja “Seventeen” dari kakaknya (Kemala Motik) yang lagi belajar di Amerika Serikat. Dalam majalah itu, Dewi Motik melihat satu disain sepatu yang sangat menarik. Timbul ide untuk membuatnya, lalu, ia pun mencari tukang sepatu. Kebetulan di belakang gedung SMA-nya (SMA Teladan Setia Budi) ada tukang sepatu. Setelah mengetahui berapa biaya yang diperlukan. Dewi Motik mengambil tabungannya dan memberi modal kepada tukang sepatu itu. Dengan modal Ro. 2.500 sepasang, Dewi Motik sukses menjual puluhan sepatu itu kepada teman-temannya dengan harga Rp. 5.000 sepasang. Ia gembira, karena disain yang dipilihnya disenangi teman-teman SMA-nya. Ia bangga karena perhitungannya tepat dan mendapat untung yang lumayan pula.

Di rumah, Dewi Motik suka membantu ibunya memasak. Mereka memasak kue bersama. Ibu Dewi Motik sering ketemu dengan istri-istri pegawai kedutaan, terutama kedutaan Amerika Serikat. Dari ibu-ibu itu, Ibu Dewi Motik mendapatkan pengalaman dan juga mendapat sebagian bahan-bahan kue yang enak. Suatu ketika, orang Kedutaan minta dibuatkan kue yang enak, Dewi Motik memanfaatkan kesempatan itu. Setelah mendapat modal, ia pun membuatnya. Hasilnya Dewi Motik mendapat uang. Ibunya tidak marah. Kegiatan masak memasak ini dilakukannya terus menerus. Ini pula yang menyebabkan Dewi Motik terpilih sebagai Ketua Sub Konsorsium Usaha Jasa Boga dan Memasak Depdikbud (1984 – 1987 ; 1987 – 1990). Selanjutnya, pada tahun yang hampir bersamaan Dewi Motik terpilih sebagai Ketua Umum Ikatan Ahli Boga Indonesia Pusat (1987 – 1999). Kebiasaan Dewi Motik untuk bekerja dan mencari uang sendiri, terus berkembang. Ketika pekan raya Jakarta yang kedua, ia menjadi penjaga salah satu stan di pekan raya itu. Orang tuanya membolehkannya.

Pada tahun 1970, Dewi Motik mulai kuliah di IKIP Rawamangun. Ia memilih jurusan pendidikan, karena baginya profesi guru itu adalah profesi yang mulia. Apalagi ayahnya pernah menjadi guru di Taman Siswa. Saat itu guru sangat terhormat di masa masyarakat. Di kampusnya, kebiasaan Dewi Motik tak pernah ketinggalan. Ia menjual kue dan sepatu kepada penghuni dan pengunjung kampus. Setelah menyelesaikan sarjana mudanya, Dewi Motik memperdalam ilmunya ke Amerika Serikat. Ia mengambil Jurusan Seni Rupa Florida International University, Miami, USA (1971 – 1974). Ia merantau ke negeri orang dengan modal take and give. Kalau nggak ada uang cukup dengan memberi perhatian atau sapaan. Ketemu Satpam, tak ada salahnya kalau di beri sapaan. Dari Indonesia, Dewi Motik membawa sejumlah souvenir sebagai hadiah kepada roang-orang disana. Ia merasa bahwa ia orang asing di Negara Paman Sam itu. Souvenir yang dibawahnya antara lain: patung Bali, perhiasan dari tulang, manik-manik. Teman-temannya se-asrama sangat suka dan ingin mendapatkan hadiah-hadiah itu. Dibeli dengan harga berapa pun mereka mau. Keinginan orang-orang Bule itu merupakan peluang bagi Dewi Motik. Otaknya mulai berputar. Dia jalan-jalan ke toko-toko yang menjual barang-barang asal Asia yang mirip perhiasan dari Indonesia. Ia melihat di tempat penjualan souvenir Philipina dan Thailand, banyak yang mirip. Dewi Motik membeli barang-barang itu, lalu merubah bentuknya sedikit sehingga mirip dari Indonesia, lalu di jualnya kepada para bule-bule yang “gila” perhiasan Indonesia itu.

Di kampusnya ia buka pameran barang-barang perhiasan. Disebutnya “Oriental Bazar” . Pengunjungnya membludak, order banyak yang masuk. Acara itu sangat sukses. Dari pameran dan bazaar ini Dewi Motik tentu saja mendapatkan banyak uang.

Ketika musim libur tiba. Dewi Motik mencari kesibukannya, dia menjadi pelayan di salah satu keluarga di Amerika Serikat. Ia ingin merasakan bagaimana caranya menjadi pelayan itu. Seumur-umur ia selalu ditemani pembantu. Sekali-sekali ada keinginannya merasakan bagaimana menjadi pelayan. Ia bekerja sebagai baby sitter di salah satu keluarga di sana.

Disamping itu Dewi Motik juga pernah menjadi waitress di Howard Johson Restoran. Di situ ia mendapatkan pengalaman bagaimana cara orang Amerika menyiapkan makanan. Makanan apa yang sangat mereka gemari, menjadi pengalaman berharga buat Dewi Motik. Lebih dari itu, ia juga mendapat duit. Dengan duit itu, liburan ke Eropa (sesuai anggaran dari Ayahnya), bisa diperpanjang sampai ke Mexico. Ketika ayahnya tahu hal itu, ayahnya tentu saja kaget.

Ada cerita menarik ketika Dewi Motik menjadi pekerja sebagai waitress di Howard Johnson Restoran itu. Ia tidak memiliki Social Security Number (SSN). Mendapatkan itu harus ditest lebih dahulu. Dewi Motik malas mengikuti prosedur itu karena masih diperlukan biaya dan juga belum tentu lulus. Dengan modal postur tubuhnya yang tinggi dan warna kulitnya yang putih ia mencoba membaur di barisan orang-orang Cuba yang mirip dengan dirinya. Orang-orang Cuba dianggap yang berpengalaman dan pasti sudah punya SSN, itulah yang menyebabkan Dewi Motik lolos dari pemeriksaan, bisa kerja dan mendapat dolar yang lumayan.

Dewi Motik sempat 4 tahun di AS, ia menimba banyak ilmu di sana, ia juga mendapat banyak pengalaman yang berharga. Selang waktu inilah yang banyak memberi pengaruh pada hidupnya sesudah itu. Tahun 1974 ia kembali ke Tanah Air. Ia membantu ayahnya, meneruskan usaha ekspor-impor. Dewi Motik untuk pertama kali menjadi pedagang semen. Saat itu belum ada pabrik semen di Indonesia. Ia juga menjadi agen mobil Merk Datsun dan agen sepeda.

Tahun 1974-1975, Dewi Motik menjadi agen semen. Untuk mengambil semennya, ia mondar mandir menjumpai Pak Onggok dari PT Ratu Salju ke Pluit. Denga pakaian blue jeans dan mengendarai mobil pick up, Dewi Motik masuk ke daerah penjualan semen yang asal Korea itu. Rata-rata yang kesana adalah keturunan Cina. Dewi Motik dianggap Cina. Ia juga memang pura-pura jadi orang Cina. Karena ia pada bulan Ramadhan melakukan ibadah puasa, maka ia dipanggil Mualaf Cina yang masuk Islam. Saat itu ia agak sedih mendengar istilah itu.

Dalam kegiatannya sebagai pedagang itu, Dewi Motik masih menyempatkan dirinya ikut kegiatan persatuan Wanita Indonesia. Juga ikut kadin. Ayahnya kemudian meninggalkan bisnis ekspor-impor, berpindah ke bisnis sewa menyewa rumah. Sehingga Dewi Motik mesti lebih konsentrasi pada bidang eksport-impor itu.

Rupanya kegiatan di atas belum cukup buat Dewi Motik, ia juga menyisihkan waktunya untuk mengajar di lembaga pendidikan milik Ikaran Sarjana Wanita Indonesia. Belakangan, di beberapa tempat lain ia juga mengajar. “Sayang kalau ilmu ini tidak dibagi-bagi buat orang lain,” ujarnya.

Dampak dari pikiran dan sikapnya itu. Dewi Motik diminta sebagai pembicara dibanyak forum. Ratusan kali ia menjadi pembicara di berbagai seminar. Ia biasanya mengulas masalah kewiraswastaan, kemandirian, etika berbusana, dll. Bahkan pernah sekali ia diminta oleh Kedutaan Belanda untuk menghadiri seminar di Curasao, Amerika latin, bekas jajahan Belanda. Mereka berangkat kesana selama 36 jam perjalanan. Capek sekali. Tiba di Curasao pukul lima pagi waktu setempat.

Sehubungan dengan penampilan Dewi Motik di berbagai forum sebagai speaker, mengharuskan ia memakai pakaian dengan model-model menarik dan maju. Akibatnya ia jadi panutan. Sebelum itu, pada tahun 1974, Dewi Motik pernah dinobatkan sebagai Top Model of The Year oleh sebuah Yayasan pengembangan mode.

Tahun 1976, Dewi Motik bersama kakaknya Kemala Motik, melakukan sebuah terobosan yang sangat penting bagi kaumnya. Mereka mendirikan wadah bagi pengusaha wanita. Mereka sebut Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI). Melalui lembaga ini, mereka ingin menjalin kerjasama antara sesama pengusaha wanita Indonesia. Di samping itu, mereka juga mencoba meningkatkan ketrampilan mereka sebagai pengusaha, sambil mengajak lebih banyak lagi wanita lainnya untuk bekerja dan mencari nafkah serta berusaha memperluas kesempatan kerja bagi orang lain.

Kesibukannya sebagai pengusaha, keaktifannya sebagai pengajar, dan tugasnya sebagai pimpinan organisasi, mengharuskan Dewi Motik selalu berusaha mempersiapkan sesuatu sebelum acara atau peristiwa terjadi. Mulailah ia terbiasa membuat skedul kerja, membuat rencana kerja, membuat tulisan makalah dan penjelasan tertulis. Kebiasaan baru ini, mengantar beliau untuk menjadi seorang penulis. Maka dari tangannya, keluarlah sebuah karya tulis. Yang pertama; Cintaku Tuhanku (kumpulan sajak). Kedua, Yang sopan yang santun. Etika berbusana dan pergaulan pada umumnya, adalah bukunya yang ketiga.

Ia mengaku bahwa rampungya tulisan itu, sangat dibantu oleh dua rekan wartawati, Titi Juliasih dari Mutiara dan Mary Zein dari Kompas. Baginya, wartawan sangat bermakna. Ia adalah ibarat ajinomoto dalam makanan kita. Tanpa wartawan dengan karya-karya tulis mereka rasanya kehidupan belum pas. Atas komentarnya, ia mendapat kiriman 1 karung ajinomoto. Dewi Motik masih mampu menyisihkan waktunya untuk menulis di banyak media, di Pelita, Surabaya Post, Famili, Femina dan beberapa media lainnya.

Aktivitasnya sebagai pengusaha, sebagai guru dan penceramah, aktifis organisasi, penulis buku dan kolumnis beberapa media, menyebabkan Dewi Motik dikenal secara luas oleh seluruh lapisan masyarakat. Beberapa tahun kemudian, sebuah lembaga menobatkannya sebagai Wania Karir Ideal tahun 1977. Empat tahun sesudah itu, ia dinobatkan sebagai wanita popular. Kesenangannya memakai busana yang baik dan sopan setiap hari, mendorong dia menulis etika berbusana di atas, dan karena kegiatan itu pula ia terpilih sebagai wanita berbusana terbaik tahun 1983. Enam tahun sesudah itu. Dewi Motik terpilih sebagai wanita executive berbusana terbaik.

Dewi Motik amat menjaga tata kesopanan, ia tahan kerja keras dari pagi hari sampai tengah malam. Kalau sudah capek, ia juga bisa tidur dimana saja, sepanjang tidak mengganggu situasi. Ia mengaku bisa tidur pulas bila sedang dalam penerbangan dari Amsterdam-Singapur.

Kini, ia bersama suaminya tercinta sangat bahagia dengan dua putera puteri mereka. Anak pertama bernama Moza kelas III SMA sedang anak yang kedua adalah Adimza kelas I SMP Al Azhar. Suaminya, Pramono Soekasno, dikenalnya sejak mereka masih SMA, lewat acara Pesta Dansa Barata. Pria kekar turunan Solo itu bekerja di Pertamina. Mereka pacaran selama 9 tahun dan akhirnya kawin 9 Mei 1975.

Tahun 1977, Dewi Motik menjadi Ketua Iwapi Jaya. Kiatnya memimpin wanita pengusaha di DKI adalah dengan pendekatan kebawah. Kalau ada pengurus dan anggota yang sakit. Dewi Motik mengajak yang lain untuk membesuk. Demikian juga kalau ada acara pribadi pengurus dan anggota, yang lain mesti datang. Pendekatan selanjutnya adalah melakukan rapat di rumah atau di tempat usaha pengurus atau anggota. Hal ini penting, yang di datangi mendapat kehormatan karena orang datang ke rumahnya atau ke tempat usahanya. Pengurus langsung mendapat laporan tentang perkembangan dan kelemahan usaha anggotanya. Keuntungan lain: biaya pertemuan tidak masuk beban organisasi.

Pada umurnya yang ke 33, tahun 1982. Dewi Motik terpilih sebagai Ketua Umum IWAPI. Dalam memimpin organisasi, ia tidak suka marah, tapi sangat sedih kalau generasi muda itu tidak mau belajar dan sukanya santai saja. Banyak generasi muda di mata Dewi Motik agak kurang memberi perhatian untuk merancang masa depan mereka.

Sebagai contoh, ia sedih pada generasi muda yang bekerja sebagai pemborong gedung IWAPI berlantai 4 itu. Gedung bernilai 750 juta itu tidak dikerjakan dengan baik. Tehelnya nggak lurus, plafonnya juga banyak yang bengkok. Sudut-sudut betonnya terlihat kurang rapi, catnya tidak merata.

“Padahal gedung ini merupakan pusat kegiatan IWAPI, pusat pendidikan dan latihan IWAPI, juga tempat beroperasi koperasi IWAPI. Kalau mereka tidak sukses mengerjakan gedung ini, bagaimana orang lain bisa mempercayakan mereka membangun gedung baru lagi,” tambah Dewi Motik agak emosi.

Setelah tamat dari IKIP tahun 1985, Dewi Motik langsung ambil S2 tahun 1988 ia terpilih sebagai Wakil Ketua Umum Kadin Pusat. Dia satu-satunya wanita disitu. Ia tidak merasa risih, karena baginya pria atau wanita sama saja. Nilai ini juga berlaku dalam keluarga mereka, posisi laki-laki sama dengan wanita. Tokoh wanita yang jadi idolanya tidak ada. Yang ia kagumi hanya Nabi Muhammad. Kalau pun ada tokoh Kartini, kehebatannya sebetulnya hanya pada penalarannya, ujar Dewi Motik. Menurutnya, Kartini mempunyai kelebihan untuk memprediksi apa yang akan terjadi jauh ke depan, seperti Alvin Tofler si peramal dari Amerika Serikat itu.

Peristiwa penting dalam sejarah kewiraswastaan Dewi Motik, terjadi tatkala Rombongan Delegasi Perdagangan Indonesia berangkat ke Eropa. Dalam rombongan yang dipimpin oleh Menteri Prof. Dr. Soemarlin, Dewi Motik ikut melihat pabrik garment di kota Manchester, Inggris. Ia melihat bahan pabrik garmen seperti itu bisa juga dibuat di Indonesia. Sekembalinya dari sana ia langsung membangun pabrik garment di tanah mereka yang kosong di Pulo Gadung (1981), PT Arrish Rulan. Perusahaan yang memproduksi jeans dan jacket ini berdiri di atas tanah seluas 5.000 m2, mempekerjakan karyawan 700 orang.

Tujuh tahun kemudian ia juga bersama keluarganya yang lain membangun pabrik garment yang kedua di Tanjung Priok (PT Fauzi Dewi Motik). PT ini memiliki karyawan 300 orang. Bangunannya adalah gudang yang tidak dimanfaatkan sebelumnya. Luas tanahnya 5000 m2.

Atas kegiatan usahanya itu, dibarengi dengan keaktifannya sebagai pembicara di berbagai forum, dan tulisan-tulisannya. Presiden RI Jenderal (purn) Soeharto, atas nama pemerintah menyerahkan penghargaan kepada Dewi Motik sebagai “Orang Muda Yang Berkarya”. Tepat pada Upacara puncak HUT Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1988 di Balai Sidang Jakarta.

Makin banyak usahanya, makin intensif kegiatannya, ia juga mendapat untung yang semakin banyak, tapi ia merasa ada yang belum beres. Ia berpikir kurang bagus kalau hanya menerima saja, sebaiknya memberi juga diintensifkan. Lalu, pada HUT yang ke 40 tahun 1989, Dewi Motik mendirikan De Mono. Sebuah lembaga pendidikan ketrampilan dan kewiraswastaan yang komplit.

Bersama Arleen Djohan wirawan, SH menyiapkan semua keperluan sekolah itu. Tepat hari ulang tahunnya, 10 mei 1989, Gedung De Mono yang berlantai IV itu diresmikan oleh Menteri Perdagangan RI, DR Arifin Siregar. Saat itu banyak pengusaha terkenal hadir, seperti Bob Sadiro, dll. Artis juga banyak yang hadir, acaranya sendiri dipandu Koes Hendratmo. Tentu saja, sebagian besar pengurus IWAPI datang.

Mata pelajaran pada lembaga pendidikan ini antara lain: kerja praktek dalam merintis pembukaan usaha di bidang perdagangan dan ekonomi, kepemimpinan, kewiraswastaan, pemasaran, perpajakan, perbankan, psikologi, dll. Mata pelajaran itu, diteruskan acara tatap muka dengan pengusaha nasional terkemuka dan pimpinan bank-bank pemerintah dan swasta.

Nama De Mono adalah singkatan dari namanya dan nama suaminya. De-wi Motik dan Pra-mono. Dan istilah De Mono ini adalah nama Dewi Motik dalam surat cintanya setiap kali mengirim kepada mantan pacarnya Pramono puluhan tahun yang lalu.

Ide pendirian De Mono pada awalnya timbul karena sebelumnya Dewi Motik sering mendapat surat cinta. Banyak sarjana yang minta pekerjaan padanya. Bahkan banyak orang tua yang suka nitip anaknya dicarikan pekerjaan. Awalnya senang bisa bantu cari kerja. “Namun lama-lama nggak enak lagi, kewalahan,” uangkapnya kesal.

Dewi Motik pernah memberi ceramah di tengah-tengah 200 sarjana pengangguran. “Saat itu saya tergerak untuk mencari pekerjaan buat mereka, tapi pekerjaan apa, dan mereka bisa apa?” gumam Dewi Motik dalam hati. Di Iwapi punya pengalaman mendidik ibu-ibu untuk menjadi pengusaha kecil. “Kalau ibu-ibu RT saja bisa, masa sih sarjana tak bisa?” bisik Dewi Motik memperkuat sikapnya mendirikan sekolah kewiraswastaan.

De Mono kini telah melepaskan hampir 1000 orang alumninya. Sebagian besar telah berhasil pula membuka usahanya. Mereka sering mengundang Dewi Motik untuk meresmikan pembukaan usaha mereka itu. “Adalah kebahagiaan tersendiri bagi saya ketika saya sedang meresmikan usaha rintisan alumni De mono,” ungkap Dewi Motik penuh kebanggan.

Kunci untuk bisa sukses sebagai seorang wiraswasta menurut Dewi Motik, harus mampu merubah mental lebih dulu. Sesudah itu, berani mengambil risiko. Lalu, risiko itu diperkecil. Untuk itu, secara terus menerus harus mencari peluang, dan Action “Bila pipi kiri benjol, kasih pipi kanan. Kalau sudah lihat tembok jangan benturkan kepala. Kalau juga mau, itu namanya goblok,” ujar Dewi Motik. Memulai sesuatu dengan positivie thinking dan mempunyai keyakinan sukses adalah nilai-nilai yang selalu diajarkan Dewi Motik kepada anak didiknya.

Akhir September 1991 yang lalu, Dewi Motik diminta oleh Panitia Peringatan HUT HP PLSM yang ke XIV untuk berbicara di depan para pimpinan PLSM di Gedung YTKI. Menurut Dewi Motik, inti kewiraswastaan ada dua. Pertama, harus mempunyai jati diri, yakin akan kemampuan sendiri, tahu ke arah mana mau dituju, tidak malas, tidak cepat marah, dan kerja keras. Kedua, inovasi/kreatif, harus berani memulai, mampu menghasilkan yang baru.

Kalau sudah memiliki kedua inti kewiraswastaan itu, kata Dewi Motik dalam ceramahnya yang dimoderatori oleh Ketua Umum HP PLSM itu, maka turutilah pedoman di bawah ini. Buatlah program yang sederhana, praktis dan jelas. Persiapkan semua strategi dan kiat-kiat. Action secepatnya. Jangan lupa kerjasama dengan orang lain. Sekali-sekali jadi anak buah, mau mendengar orang lain. Learning by doing. Antisipasi semua gejala perubahan, jangan statis. Disiplin diri, konsisten. Untuk memecahkan masalah, berfikirlah secara bergantian dari mikro ke makro atau sebaliknya.

Dalam perjalanan hidupnya. Dewi Motik selalu merasakan kesenangan dan kesedihan silih berganti. “Itulah kehidupan,” katanya. Ia mengaku banyak sekali problem yang ia jumpai sehari-hari. Ia selalu mengambil sikap tenang. Lalu berfikir mencari pemecahan yang paling baik. Tapi sehebat-hebatnya risiko yang ia hadapi ia tak pernah gentar, ia hanya takut sama Tuhan.

Ketika ia masih SD, secara terpaksa ia harus membawa jenazah yang berdarah-darah. Karena familinya itu mati dalam kecelakaan perjalanan semobil dengannya. Ia hadapi situasi itu, dan ia sendiri lolos dari musibah itu. Pengalaman yang cukup mencekam itu sangat membekas dalam ingatannya. Dalam situasi apa saja dan dimana saja, sesuatu yang fatal bisa terjadi pada diri kita, katanya. “Yang iri, yang benci, yang marah dan yang ingin mencelakakan kita kemungkinan ada, tapi kalau kita sudah menyerahkan diri kepada Tuhan, mengapa kita mesti takut?” tanya Dewi Motik. Toh kehidupan kita, kemampuan kita ini, adalah pinjaman dari Tuhan, ungkap Dewi Motik agar berkhotbah. “Kalau ada masalah, segera lapor Tuhan dan cepat mengambil keputusan, itulah kebiasaan yang baik,” ujarnya.

Dua tahun lalu, kuota ekspor garment dilarang masuk AS, ia menderita kerugian. Lalu bersama pengusaha garment lainnya mereka bekerjasama dengan pemerintah mencari pemecahannya. Sekarang sudah tak ada masalah kuota lagi. “Untuk meraih sukses, kita harus kreatif, lalu menyusun konsep sederhana dan praktis, terus action,” ujar Dewi Motik mengungkapkan kitanya mencapai keberhasilan. “Jangan bikin ruwet, capek, jangan lama-lama, peluang bisa hilang,” pesannya kepada orang yang menanyakan apa yang dibutuhkan untuk memulai berusaha.

Peristiwa yang baru menghadangnya, adalah terbitnya post card dengan kata-kata yang sangat merugikan dirinya. Fotonya ditaruh di post card itu, dituduh sebagai anti kenaikan upah buruh oleh seorang Amerika. Menghadapi ini, Dewi Motik mengambil sikap tenang. Sebab, ia sendiri tidak paham apa maksud orang Amerika itu. Apakah ini persoalan politik global atau persoalan pribadi, tak jelas. Sampai sekarang, Dewi Motik belum bisa mengetahui apa tujuan pembuatan post card itu, dan siapa yang merekayasanya. Banyak pihak yang menganjurkannya ke pengadilan. Namun, Dewi Motik masih mengambil sikap tenang. “Ini bukan peluang bisnis, jadi tidak perlu actionnya cepat,” ujarnya memberi keterangan.

Akhirnya ia membawa persoalan itu ke pengadilan setelah dipikirkan secara matang. Banyak pejabat mau berdiri di belakangnya namun, karena si Amerikanya minta maaf, Dewi Motik merencanakan pembatalan tuntutan itu. “Orang yang minta maaf perlu dimaafkan,” kata Dewi Motik sambil mengutip ucapan seorang nabi.

Satu-satunya yang paling membahagiaan dalam hidup Dewi Motik adalah melahirkan anak. “Itulah puncak kebahagiaan yang pernah saya rasakan,” ujarnya.

Dewi Motik adalah pribadi yang suka pragmatis, senang yang praktis. Ia kini sedang menggeluti S2 Program Strategi di UI. Dalam kaitannya sebagai praktisi ia berkeinginan mempelajari konsep-konsep yang praktis. Perang gerilya misalnya sebuah konsep keilmuan di bidang militer yang sangat praktis, tidak terlalu teoritis. Sering melakukan Hit and Run. Teman-temannya kuliah, berpangkat Letkol dan Kolonel dari angkatan bersenjata. Tak usah heran kalau kini Dewi Motik bergelut dengan buku-buku Mao Tse Tung, Buku Pak Nasution tentang Perang Gerilya.

Prinsip Dewi Motik, kalau melihat orang lain punya kelebihan jangan iri. “Kita harus belajar untuk bisa mendapatkan; seperti yang mereka dapatkan. Sistem pendidikan di departemen Hankam misalnya, memberi hasil yang baik. Mayoritas pimpinan terbaik bangsa ini lahir dari pendidikan militer. Kita jangan iri. Kita buat yang sama, kita kerja keras dan tingkatkan disiplin,” ujarnya. Pernyataan Dewi Motik memang ada benarnya. Kalau diperhatikan, sistem rekruitmen kepemimpinan nasional, memang banyak muncul dari kalangan militer. Kelebihan mereka antara lain, tidak neko-neko, mampu berpikir sistematis, punya visi, daya tahan fisik cukup kuat, dan memiliki sense of joke (rasa humor). Hari-hari Dewi Motik yang penuh dengan kesibukan itu, selalu diawali dengan baca koran di pagi hari. “Saya gelisah kalau tak baca koran di pagi hari,” ujarnya. Hobby lain: nonton TV dan berenang. Kalau musim libur, Dewi Motik sekeluarga sering berlibur ke luar negeri. Bila ada rapat atau konferensi di Bali misalnya, Dewi Motik juga sering mengajak keluarga ke sana, sekalian liburan.

Dewi Motik mengaku suaminya cukup pengertian. Baginya, sesibuk-sibuk istri, bila selalu menghargai suami dan memberi pengertian, tidak akan ada masalah. Kendati demikian, tokoh wanita yang paling sering muncul di media massa itu, mengungkapkan: tidak ada suami istri yang cocok 100%.

Antara segala macam kegiatan dengan masalah keluarga, sering bertolak belakang. Kadangkala, setiap orang diharuskan untuk menentukan pilihan. Bila kenyataan yang sama ditemui Dewi Motik dalam kehidupannya sehari-hari, ia melakukan dengan skala prioritas. Sebagai contoh, ketika ada pertemuan penting di kantornya, padahal, pada saat yang sama ibunya dikabarkan sakit, dan akan dioperasi, aktivis Muhammadiyah ini harus memilih meninggalkan pertemuan penting menyangkut kariernya itu. Sebab, posisi orang tua baginya adalah segala-galanya. Sedangkan pertemuan tadi masih bisa terulang, atau resikonya tidak separah kalau ia tidak membesuk ibunya.

Sebaliknya, ketika anaknya sakit, padahal ia harus memimpin delegasi Indonesia yang menghadiri pertemuan pengusaha wanita di India, Dewi Motik memilih Berangkat ke pertemuan yang dibuka oleh Perdana Menteri India, Almarhum Indira Gandhi itu. Bukan karena tega atau tidak sayang anak, tapi hal ini didiskusikan dulu dengan suaminya, setelah setuju ia lalu pergi menunaikan tugas negara dalam memperluas cakrawala pengusaha wanita Indonesia itu.

Alasan Dewi Motik kenapa menekuni dunia pendidikan – mengajar, berceramah, menulis – dan dunia wiraswasta, karena Bangsa Indonesia sangat tertinggal bila dibanding dengan negara maju, dalam berbagai bidang, “Persaingan semakin ketat, dunia pengetahuan dan teknologi berkembang dengan pesatnya. Kita harus berlari semakin cepat,” ujarnya.

Caranya menurut Dewi Motik: pendidikan ditingkatkan dan harus dibuat gratis, agar strata pendidikan masyarakat kita relatif merata. Akhirnya mereka bisa mencari nafkah sendiri tanpa harus menyandang gelar pengangguran lebih dulu, tambahnya. Untuk mengatasi pengangguran, katanya, sekaligus meningkatkan pertumbuhan ekonomi, dunia wiraswasta harus digiatkan terus menerus. Rakyat mesti dianjurkan menciptakan lapangan kerja bagi dirinya sendiri dan bagi orang lain, tambah Dewi Motik. Menurutnya, membangun perekonomian dari sebuah bangsa lebih baik dimulai dari yang kecil, lalu didorong menjadi yang besar. Itu semua, lanjut Dewi Motik, sangat tergantung pada political will pemerintah.

Dewi Motik mengambil contoh AS dan Jepang, mereka itu sangat berkepentingan membantu pengusaha kecil mereka, baik bantuan modal, perlindungan hukum dan berbagai insentif lainnya. Dewi Motik mengaku bahwa Indonesia mempunyai kebijakan yang sama, Kredit Usaha Kecil (KUK) misalnya, namun hal itu, harus ada perbaikan dan konsistensinya.

Terpilihnya Indonesia sebagai Pelaksana Konferensi Tingkat Tinggi negara-negara Non Blok, menurut Dewi Motik merupakan pertanda bahwa Indonesia termasuk negara aman di Asia Tenggara. Katanya: itu adalah peluang, sebab banyak negara luar tidak begitu kenal Indonesia, boro-boro mau berinvestasi. Setiap investasi memerlukan perencanaan menyeluruh, selain faktor keamanan di atas, potensi sumber daya alam, pasar, tenaga kerja, dll juga perlu diperhatikan. “Tenaga kerja atau buruh adalah merupakan kekuatan dari sebuah badan usaha atau industri,” ujar Dewi Motik. Karena itu, lanjutnya, buruh harus diberi perhatian seperlunya, kalau tidak perusahaan tempat buruh itu bekerja bisa rusak programnya.

Dewi Motik memang luar biasa sibuk. Dalam kapasitasnya, sebagai Direktur Utama Restoran Manari – restoran theaterical pertama dan terbesar di Jakarta – dengan pengalaman jasa boga sebelumnya. Dewi Motik terpilih sebagai Ketua Umum IKABOGA periode 1990 – 1993. Dalam Festival Istiqlal yang baru lalu, Dewi Motik termasuk salah seorang panitia perancang dan pelaksananya. “Nafas Islam adalah nafas yang paling mendasar dalam memberi pengaruh pada pembangunan di Indonesia,” katanya memberi alasan keterlibatannya pada festival itu. Kegiatan bernafaskan Islam memang menjadi bagian kegiatan yang digeluti Dewi Motik sehari-hari. Bahkan, ia juga termasuk pimpinan Yayasan Motik – sebuah Yayasan yang mengelola Sekolah Al Rahman (TK dan SD Islam di Kuningan). Tujuan Yayasan ini: Syariah Islam di bidang pendidikan bagi bangsa dan negara.

Dalam rangka meningkatkan pendidikan Remaja putri, sekaligus mengembangkan sektor pariwisata dan dunia usaha lainnya. Dewi Motik sejak 1981, mendirikan Yayasan Putri Ayu. Yayasan yang dipimpinnya ini, telah menyelenggarakan 11 kali lomba putri ayu yang memperebutkan piala Ibu Tien Suharto. Pemenang yang ke 11, tahun 1991 ini, adalah seorang mahasiswa sebuah institut ternama di Jakarta. Tahun depan, kalau tidak ada halang melintang, gadis keturunan Dayak itu – suku pedalaman Kalimantan – akan mengikuti Miss Universe di Bangkok.

Sambil menjalankan semua itu, ekspansi dibidang usaha, sebagai praktisi wiraswasta, Dewi Motik terus melaju mencari peluang usaha, mencari uang dan memperluas lapangan kerja. Tahun 1991, Dewi Motik bekerjasama dengan Departemen Transmigrasi mengelola Agro Bisnis di Sumatera Selatan, asal leluhurnya. Bisnis yang dibiayai oleh Bank Dunia ini, mengelola PIR dalam bentuk yang diperbaharui seluas 5000 Ha. Dewi Motik terus berlari, mendidik, mencari peluang bisnis, memberi peluang kerja bagi orang lain, buat pengabdiannya bagi ibu pertiwi.