Selasa, 20 November 2012

Cangkir & Kopi

Beberapa orang alumni sebuah Universitas yang telah mapan dalam karir dan kehidupannya berkumpul dalam suatu reuni. Mereka memutuskan untuk mengunjungi salah satu dosen “tua” yang pernah menjadi pengajarnya.

Percakapan yang terjadi begitu seru dan menyenangkan sampai kemudian berlanjut pada masalah tekanan dalam pekerjaan mereka dan hidup mereka.


Agar tidak larut dalam stress, sang dosen bermaksud menawari bekas mahasiswanya tersebut untuk minum kopi. Sang dosen pun pergi ke belakang dan membawa kembali seteko besar kopi dengan banyak cangkir. Cangkir dan gelas yang dibawa sang dosen tersebut mulai dari cangkir porselen, plastik, gelas dari yang paling murah sampai peralatan minum yang paling mahal. Sang dosen pun mempersilahkan mantan mahasiswanya untuk mengambil sendiri kopi yang ingin diminumnya.

Setelah semua memegang kopinya masing masing, sang dosen berkata, “Saya lihat Anda semua mengambil gelas-gelas terbaik bahkan gelas dan cangkir termahal serta meninggalkan gelas dan cangkir yang biasa dan murah. Normal bagi kalian, karena memang kalian hanya menginginkan yang terbaik untuk kalian dan keluarga kalian. Padahal yang kalian akan minum adalah kopi, bukan cangkir atau gelasnya. Tapi dengan sadar atau tidak kalian lebih memilih gelas atau cangkir yang lebih baik, bahkan tampak dari masing-masing kalian saling melihat cangkir teman-teman kalian.”

“Sekarang akan saya jelaskan, Hidup adalah kopi, dan pekerjaan, uang serta posisi dalam masyarakat adalah gelas. Mereka hanyalah alat untuk membawa dan mewadahi hidup, sementara hidup sendiri tidak berubah,” jelas sang dosen. “Terkadang dengan hanya berkonsentrasi pada cangkir atau gelas, kita gagal menikmati kopi di dalamnya.”

“Janganlah gelas atau cangkir mempengaruhi Anda… nikmati saja kopinya.”

Minggu, 18 November 2012

Sabtu, 17 November 2012

Pahlawan bukan sekadar dikenang !


"Betapa hatiku takkan pilu telah gugur pahlawanku. Betapa hatiku takkan sedih hamba ditinggal sendiri. Siapakah kini pelipur lara nan setia dan perwira. Siapakah kini pahlawan hati pembela bangsa sejati . . . . 
(Ismail Marzuki-Gugur Bunga)"
 
Sosok yang tangguh, tak gentar membela rakyat Indonesia dan rela bercucuran darah tuk memperjuangkan kemerdekaan bangsanya. Itulah sekilas opini tentang “pahlawan” pada sebagian orang. Perjuangan para pahlawan yang rela gugur dalam penjajahan membuat namanya harum dikenang rakyat Indonesia. Tepat pada tanggal 10 November 2012 kemarin Indonesia tengah memperingati Hari Pahlawan. Salah satunya yaitu dengan menggelar Upacara Ziarah Nasional yang dipimpin oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam rangka memperingati Hari Pahlawan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan.

By the way, tau gak sih gimana asal-usul adanya Hari Pahlawan itu?

Yap, pada tanggal 10 November 1945 telah terjadi peristiwa besar di Surabaya. Pertempuran yang melibatkan pihak tentara Indonesia dan pasukan Belanda itu merupakan perang pertama Indonesia dengan pasukan asing setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Para tokoh masyarakat seperti pelopor muda Bung Tomo yang berpengaruh besar di masyarakat terus menggerakkan semangat perlawanan pemuda-pemuda Surabaya kala itu sehingga perlawanan terus berlanjut. Setidaknya 6,000 - 16,000 pejuang dari pihak Indonesia tewas dan 200,000 rakyat sipil mengungsi dari Surabaya. Pertempuran berdarah di Surabaya yang memakan ribuan korban jiwa tersebut telah menggerakkan perlawanan rakyat di seluruh Indonesia untuk mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan. Banyaknya pejuang yang gugur dan rakyat sipil yang menjadi korban pada 10 November ini kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan.

Itulah segelintir kisah tentang Hari Pahlawan. Sebagai Warga Negara Indonesia pasti sangat bangga apabila mengenang perjuangan para pahlawan. Para pahlawan rela berkorban demi memberikan yang terbaik untuk Indonesia tercinta. Bagaimana dengan generasi muda sekarang? Apa yang sudah kita berikan tuk negeri tercinta ini? Jawabannya simpel, mari introspeksi diri masing-masing. 

Berbicara mengenai pahlawan tidak lantas membuat kita berpikir sempit kalau sosok tersebut hanya ada dimasa lalu yang rela mati demi negara. Pahlawan di masa kini tentunya tidak harus bersenjata perang dan tidak harus bercucuran darah juga kan? Sepakat ! Pahlawan-pahlawan tersebut dapat ditemukan disekitar kita, tentunya dalam masa yang berbeda dan dengan perjuangan yang berbeda pula. Ada “Guru atau Dosen” sebagai Pahlawan Pendidikan bertugas mendidik rakyat Indonesia, saat sakit ada  “Dokter” sebagai Pahlawan Kesehatan yang membantu kesembuhan kita, dan masih banyak pahlawan-pahlawan di bidang lainnya. 

Eits, yang disebut pahlawan bukan hanya yang memiliki jabatan seperti contoh di atas saja. Tukang becak pun layak menyandang gelar pahlawan bagi keluarganya, anak-anaknya atas perjuangannya dalam mencari nafkah. Orangtua juga disebut sebagai pahlawan karena rela berkorban serta berani memperjuangkan kebahagiaan bagi sang buah hati. Well, siapapun dapat disebut pahlawan jika Ia merupakan sosok pemberani yang rela mengorbankan sesuatu bukan sekedar tuk diri sendiri, tetapi  keluarga, masyarakat atau negeri tercintanya.

Dewasa ini sebagian besar kalangan muda hanya mengenang jasa-jasa para pahlawan. Alangkah bijaknya jika generasi penerus ini mau belajar banyak dari pahlawan, karena dengan begitu kita  menjadi generasi yang menghargai waktu, memiliki semangat nasionalisme dan memiliki solidaritas yang kuat. Belajar dari pahlawan dapat dimulai dengan cara kita memaknai hari pahlawan. Setelah itu secara bertahap mampu menumbuhkan semangat guna memiliki sikap cinta akan perjuangan pahlawan, cinta negeri, serta selalu gigih dan giat untuk mempelajari perjuangan para pahlawan. Hari pahlawan memang sudah terlewati namun tiada kata terlambat untuk terus belajar !!

Berikut tips untuk Generasi Muda supaya memaknai Hari Pahlawan :

Yang pertama, Kita sebagai generasi muda yang cerdas harus tahu sejarah mengenai Hari Pahlawan. Selain menambah wawasan, kita juga bisa berbagi informasi kepada orang yang membutuhkan.

Kudua, (diterapkan saat berlangsungnya hari pahlawan) 
Ada baiknya, setelah tahu adanya hari bersejarah tersebut buatlah *ucapan selamat* di jejaring sosial, misal update status via facebook, via twitter, BBM, de-el-el. Dengan cara seperti ini setidaknya kita telah bersimpati atas hari bersejarah di Indonesia, dan (lagi) menjadi bermanfaat bagi yang lain meskipun dalam hal kecil seperti berbagi informasi yang penulis contohkan tadi serta menumbuhkan sikap saling mengingatkan antargenerasi lainnya. 

Ketiga, melakukan perbaikan diri. Untuk mencapai perubahan yang besar kita perlu membenahi diri sendiri. Semaksimal mungkin kita melakukan introspeksi, meskipun kita tahu kalau tak ada manusia di dunia ini yang sempurna pasti semua tak luput dari kekurangannya. Misalnya melawan sifat malas, melawan kebodohan, memberi teladan minimal untuk adik-adik atau keluarga. Bukankah hal itu bagian dari perjuangan?

Lalu, buatlah perubahan kecil misalnya bisa di awali dengan menulis artikel tentang Hari Pahlawan, lalu berkomitmen untuk melanjutkan perjuangan para pahlawan. Ingat, meskipun sudah tidak ada perang tetapi kita wajib berjuang menjadi pahlawan bagi diri sendiri, keluarga juga orang lain.

Lebih jelasnya, jangan pusing-pusing memikirkan mana yang harus diperjuangkan lebih dulu, apakah keluarga atau langsung berjuang untuk negara. Karena tugas kita adalah bersungguh-sungguh dalam berjuang, meski diawali dari nol tetaplah fokus meningkatkan perjuangan. 

Oke sekian dulu postingan kali ini, semoga bermanfaat ya sobat. Jadilah generasi muda yang turut memaknai hari pahlawan dengan perubahan-perubahan kecil yang dibuat. Penulis yakin perubahan yang besar dimulai dari sesuatu yang kecil, mungkin untuk sebagian orang tidak berarti namun dari perubahan kecil yang bertahap dan berangsur meningkat tersebut kelak akan muncul pahlawan-pahlawan baru yang dibutuhkan Indonesia. Let's learn from heroes !! ^^

Ketika Redup Cahaya



Goresan luka telah bersarang dalam lubuk wanita itu. Tertutup rapat hingga tiada seorangpun menemukan  bercaknya. Luka yang dahulu sudah mengering oleh iringan waktu. Sering berganti sayatan bak mata pisau menerjang. Luka-luka seolah datang silih berganti, timbul tenggelam sesuai episode hidupnya. Ya, dia hidup dalam redup cahaya bila jiwa kembali menuai tetesan luka. Meski terang sering menjadi cahaya baginya tapi apa daya jika perih mulai menjalar. Peluk erat sang redup menjadi satu-satunya penenang kala tak berdaya menahan luka yang teramat sakit. Tapi kini berbeda, Ia yang biasanya tegar saat ini merasa begitu lemah dan terpuruk.

Satu jam, dua jam, tiga... Ah, tak terhitung berapa lamanya. Dia masih ada pada posisinya yang semula meringkuk memeluk lututnya seraya membenamkan wajah manisnya.

Kemudian terdengar suara detakan jam  yang semakin keras. Lebih keras. Dan hanya suara itu yang terdengar dikamar mungilnya.

“Tidakkah dia bosan hanya berdiam diri?”

“ Ah, kurasa tidak. Luka itu mungkin sudah menusuknya terlalu dalam.”

Wanita itu seakan merasakan hawa yang berubah menjadi “dingin” dari dinding-dinding kamarnya. Tangis yang sebelumnya mengalir dipipinya membuat seisinya tahu bahwa Ia sungguh-sungguh redup. Suasana kala itu menambah kesedihan baginya.

Wanita itu sedang dirindukan, andai dia tahu . . . .

“Sudah tiga hari seperti ini, tak melakukan apapun. Mungkin sedang mencari jalan keluar, tapi  . . . .”

“Apakah harus dengan cara seperti ini, tidak makan selama tiga hari, mengurung diri dikamar, tidak mandi bahkan tidak solat? Aku merasa tidak bermakna . . . ."                                                          
Ting . .  Ting . . Ting . . .   
Alarm yang dulu sengaja Ia pasang kembali berbunyi, kali ini suaranya kurus sekali, layaknya seseorang yang sedang menjeritkan kesedihannya. Pertanda ada ikatan batin yang terjalin dengan pemiliknya. Tepat jam 4 sore. Alarm itu memang disetel untuk mengingatkan agar Ia selalu membaca Alqur’an seperti yang kemarin-kemarin rutin Ia lakukan. 

“Ia tak bangkit. Aku tak suka hawa dingin ini. Akankah aku bisa kembali hangat? Sedang dia seperti kehilangan arah.”

Ia dirindukan . . . .  sadarkah?

Suara isak tangis lagi-lagi terdengar. Kali ini lebih meruncing dan lebih dalam. Walau tiada satupun tahu masalah apa yang sedang dialaminya, namun ada yang mengerti tentang tangis penyesalan itu. Wanita itu lantas mencakar-cakar dirinya sambil sesekali berucap “Alangkah bodohnya aku”. 

Ia pun mengambil pisau yang tergeletak disampingnya. Bangkit. lalu Berjalan dengan tergopoh-gopoh nan lemas.

Ia kemudian meletakkan pisau itu di atas meja kamarnya.

Entah apa yang membuatnya bangkit. Ataukah hanya perasaan sang wanita yang mampu memahaminya?

Astagfirullahaladzim . . .  
bisik sang wanita

Wanita itu bergegas keluar kamar dengan tidak menutup rapat pintunya. Sesaat kemudian gemericik air terdengar menyejukkan. Menit-menit berselang, akhirnya wanita itu masuk ke dalam kamarnya. Digelarlah sajadah panjang miliknya. Alangkah hati-hati serta penuh ke khusyu’an dia melaksanakan kewajibannya kepada Sang Khaliq. Sujudnya lebih lama dari biasanya.  Kembali tetesan-tetesan air mata membasahi wajahnya. Dibalik untaian doanya ada yang nampak senang lantaran air mata itu ditunjukkan kepada Rabbnya. Kini hangat yang dirindukan pun dapat dirasakan  dan setiap detik yang dihasilkan kembali bermakna ^^ 

Jumat, 16 November 2012

Rain

gambar dr google
Sore ini hujan turun lagi, entah berapa kubik air yang tumpah ruah di atas tanah kita.
Kau membuka jendela lantas membiarkan aroma basah memenuhi indera penciuman kita.
Bulir-bulir air yang jatuh di atas genteng rumah seolah perkusi alam yang mendendangkan tembang kegembiraan. Tik tok tik tok. Bersahut-sahutan dengan celoteh riang sang katak di tepian kolam.

November memang selalu basah.

"Aku suka hujan", katamu tiba-tiba. Matamu lurus memandang ke depan, tepat pada gerombolan air yang menari-nari di udara.

"Kenapa?" tanyaku.
"Hujan itu melegakan", jawabmu pendek.
Yah, aku setuju. Hujan itu melegakan. Seumpama tanah kering yang menguap, maka hujan juga menguapkan dan menghanyutkan setiap duka pada hati yang luka.

"Aku juga suka hujan", kataku menirukan gaya bicaramu.
"Kenapa?" kini giliranmu yang bertanya.
"Hujan membuat aku bersyukur."
Kau mengerutkan dahi. "Bersyukur karena padi kita di sawah tak kehausan lagi?"

"Bukan hanya itu. Andai saja semua nikmat yang kita rasakan bisa terlihat seperti hujan, mungkin saat ini kita telah menggigil karena takjub dan kuyup rasa syukur. Tapi sayang, nikmat tak selalu terlihat seperti hujan, hingga acap kali kita alpa untuk mensyukurinya."

Selasa, 13 November 2012

Pray!

"Man Jadda Wajada"
Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil

Jangan pernah remehkan impian
Walau setinggi apapun
Sungguh Allah maha mendengar

Kamis, 08 November 2012

Berakhlak Sesuai Al-Qur’an

Manusia yang telah memahami makna kehidupan biasanya selalu tertunduk patuh dihadapan Sang Maha Penguasa. Ini ditunjukkan dengan akhlak karimah (sikap yang baik) kepada makhluk-makhluk-Nya. Berakhlak Sesuai Al-Qur’an - Mereka bersikap lemah lembut, menghargai menyayangi, dan tidak gampang marah atau putus asa. Dengan kata lain, kehidupan mereka berhiaskan ketulusan niat mulia, penuh rasa syukur, dan berpikir positif. Ketiga komponen itulah yang merupakan dasar pembentukan akhlak karimah seorang manusia. 

Berakhlak Sesuai Al-Qur’an


BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Akhlak adalah lafaz yang berasal dari bahasa arab merupakan bentuk jamak dari  kata khuluq yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku, atau tabiat. Berasal dari akar kata khalaq yang berarti menciptakan, yang seakar dengan kata khaliq yang berarti pencipta, makhluq artinya yang diciptakan dan khalq artinya ciptaan.
Hal tersebut mengisyaratkan bahwa dalma kata akhlak tercakup pengertian terwujudnya keterpaduan antara kehendak khaliq (Tuhan atau Allah) dengan prilaku makhluk (hamba atau manusia). Dengan kata lain, prilaku seseorang terhadap orang lain dan lingkungannya baru mengandung nilai akhlak yang hakiki manakala tindakan, prilaku  dan sifat-sifat didasarkan pada kehendak al-khaliq yaitu Allah rabbul alamin.
Menurut istilah, kata akhlak diberi definisi oleh beberapa ulama antara lain:
  1. Imam al-Ghazali dalma kitab Ihya Ulum al-Din memberi pengertian lafad akhlak sebagai berikut: Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.
  2. Ibrahim Anis dalam kitab al-Mu’jam al-Wasith mengemukakan pengertian akhlak sebagai berikut: Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang dengannya timbul bermacam-macam perbuatan, baik atau buruk, tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan.
  3. Abdul Karim Zaidan dalam kitab ushul al-Da’wah menulis pengertian akhlak sebagai berikut: Akhlak adalah nilai-nilai dan sifat-sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dengan sorotan dan timbangannya seseorang dapat menilai perbuatannya, baik atau buruk, kemudian memilih melakukan atau meninggalkan.
  4. Ibnu Maskawaih salah seorang filosuf Islam mengemukakan pengertian akhlak yang lebih sederhana dari ulama lainnya sebagai berikut: Akhlak ialah keadaan jiwa yang mendorong untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa dipikir dan dipertimbagkan terlebih dahulu.
Rumusan Masalah
  1. Bagaimana  sunnah berakhlak yang baik ketika membawa Al-Qur’an?
  2. Bagaimana berakhlak yang baik ketika berinteraksi dengan Al-Qur’an?
  3. Bagaimanakah sesungguhnya kecintaan (mahabbah) kita dalam memuliakan rasul?

BAB II
PEMBAHASAN

Akhlak Kepada Kitab
(+) Berakhlak yang baik ketika membaca Al-Qur’an antara lain:
  1. Aku membacanya dalam kondisi yang paling sempurna, misalnya suci dari hadats, menghadap kiblat, duduk bersila, tidak bersandar atau duduk dengan posisi seenaknya atau duduk dengan posisi seenaknya atau posisi yang menggambarkan kecongkakan.
  2. Aku berusaha untuk memperindah suaraku ketika membacanya.
  3. Aku memulai membacanya dengan bacaan ta’awwudz
  4. Setiap di awal surah aku membaca basmalah kecuali surah at-Taubah
  5. Aku membacanya dengan Tartil, jelas dan perlahan-lahan (sesuai dengan tajwid)
  6. Aku berusaha membacanya secara rutin
  7. Aku memilih tempat yang bersih dan suci saat membacanya, dan lebih utama di masjid.
  8. Aku membaca Al-Qur’an dengan tenang, menjauhi tertawa, bergurau dan banyak bicara.
  9. Aku membacanya sendiri atau bersama teman secara berkelompok ada yang membaca dan ada yang menyimak
  10. Aku berusaha untuk menangis ketika mendengarkan ayat-ayat siksa dan neraka, bergembira ketika mendengakan ayat-ayat pahala dan surga.
  11. Aku tidak memandang ke sana kemari ketika membacanya, atau memutuskan bacaan dengan berbicara
  12. Apabila membaca ayat-ayat sajadah, aku berupaya untuk sujud tilawah
  13. Aku merahasiakan bacaanku jika aku khawatir akan terjatuh ke dalam riya’, sum’ah atau mengganggu orang yang sedang shalat.
  14. Aku akan berhenti membacanya bila sudah mengantuk
(+) Berakhlak yang baik ketika berinteraksi dengan Al-Qur’an
  1. Memuliakan Al-Qur’an, menyimpannya di tempat yang terhormat, yang mudah dilihat dan mudah diambil
  2. Memungut sobekan-sobekan kertas Al-Qur’an, mengumpulkan, menyimpan atau membakarnya.
  3. Bersungguh-sungguh mengamalkan isinya, melaksanakan perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangannya.
  4. Berusaha menghidupkan majelis-majelis Al-Qur’an, membaca secara bergantian sambil memperbaiki bacaan dan membaca pula artinya.
  5. Berusaha untuk menghafal Al-Qur’an, mengulang-ulang dan menjaganya.
(+) Akhlak Kepada Rasulullah saw
Mencintai dan memuliakan rasul
Setiap orang yang mengaku beriman kepada Allah swt tentulah harus beriman bahwa Muhammad saw adalah nabi dan Rasulullah yang terakhir, penutup sekalian nabi dan rasul, tidak ada lagi nabi, apalagi rasul sesudah beliau (QS. Al-Ahzab, 33-40). Beliau diutus oleh Allah swt untuk seluruh umat manusia sampai hari kiamat nanti (QS. Saba’ 34:28). Kedatangan beliau sebagai utusan Allah merupakan rahmat bagi alam semesta (QS. Al-Anbiya 21:107).
Nabi Muhammad saw telah berjuang selama kurang lebih 23 tauhn membawa umat manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang. Beliaulah yang berjasa besar membebaskan manusia dari belenggu kemusyrikan, kekufuran dan kebodohan, berbagai penderitaan beliau alami dalam perjuangan itu. Dihina, dikatakan gila, tukang sihir, tukang tenung, penyair, disakiti, diusir dan hendak dibunuh, tapi semuanya itu tidak sedikitpun menyurutkan hati beliau, beliau tetap berjuang membebaskan umat manusia.
Surah at-Taubah 9:128
Artinya:
Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min.
Sebagai seorang mukmin sudah seharusnya sepantasnya kita mencintai beliau melebihi cinta kita kepada siapapun selain Allah swt. bila iman kita tulus, lahir dari lubuk hati yang paling dalam tentulah kita akan mencintai beliau, karena cintanya itulah yang membuktikan kita betul-betul beriman atau tidak kepada beliau. Rasulullah saw bersabda yang artinya
“tidak beriman salah seorang diantara kalian sebelum aku lebih dicintainya daripada dirinya sendiri, orang tuanya, anaknya dan semua manusia (HR. Bukhari, Muslim dan Nasa’i).
Sebagai konsekuensi dari menempatkan cinta kepada Allah dan rasul-Nya sebagai cinta yang pertama dan utama, maka tentu saja cinta kepada orang tua, anak-anak, suami, atau istri, sanak saudara, harta benda dan sebagainya harus ditempatkan dibawah kedua cinta tersebut (termasuk dibawah cinta kepada jihad pada jalan Allah).
Bentuk lain dari menghormati dan memuliakan Rasulullah saw adalah tidak berbicara dihadapan beliau Allah swt berfirman:
Surah al-Hujurat 49:2
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari.
Mengikuti dan menaati rasul
Firman Allah swt : Surah Ali-Imran 3:31
Artinya:
Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Apa saja yang datang dari rasul harus diterima, apa yang diperintahkannya diikuti, dan apa yang dilarangnya ditinggalkan. Keteten kepada Rasulullah saw bersifat mutlak, karena taat kepada beliau merupakan bagian dari taat kepada Allah.
Mengucapkan shalawat dan salam
Surat al-Ahzab 33:56
Artinya
Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.
Perintah untuk bershalawat dan salam kepada nabi Muhammad saw dalam ayat di atas diawali oleh Allah swt dengan pernyataan bahwa Allah dan para malaikatnya bershalawat kepada nabinya. Hal itu disamping menunjukkan dan terhormatnya kedudukan beliau disisi Allah swt, juga menunjukkan betapa pentingnya perintah bershalawat dan salam itu kita lakukan.
Allah swt memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk mengucapkan shalwat dan salam kepada nabi bukanlah karena nabi membutuhkannya. Sebab tanpa doa dari siapapun beliau sudah pasti akan selamat dan mendapatkan tempat yang paling mulai dan paling terhormat disisi Allah swt. ucapan shalawat dan salam dari kita, orang-orang yang beriman, disamping sebagai bukti penghormatan kepada beliau, juga untuk kebaikan kita sendiri. Nabi bersabda:
“Barang siapa yang bershalawat kepadaku satu kali maka  dengan shalawatnya itu Allah akan bershalawat kepada sepuluh kali” (HR. Ahmad)
Sebaliknya, nabi menyatakan bahwa orang yang tidak bershalawat tak kala mendengar nama beliau disebut adalah orang yang bakhil.
Hadis riwayat Turmidzi dan Ahmad:
“Yang benar-benar orang bakhil ialah orang yang disebut namaku dihadapannya, ia tidak mengucapkan shalawat kepadaku” HR. Turmidzi dan Ahmad.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari makalah ini adalah:
  1. Akhlak mengatur tata cara dan norma-norma tentang hubungan antara sesama manusia dan yang maha pencipta
  2. Akhlak terhadap rasul bagaimana  kita mengikuti cara-cara/sunah yang pernah dilakukan oleh nabi
  3. Akhlak kepada kitab bagaimana kita bisa menjaga sunah dan adab-adab dalam menjaga Al-Qur’an

Makalah tentang Akhlak


Saran
Adapun saran-saran dari kami
  1. Diharapkan pada teman-teman agar memberi motivasi dalam penyusunan makalah ini.
  2. Saran dan kritik yang membangun sangat kami harapkan agar dalam penyusunan makalah berikutnya dapat lebih baik.


Source : http://www.masbied.com/