Kamis, 13 Januari 2011

It's Bali. It's Love!

Whoa it's been a year since my last post ( ya I mean my last post on the last day in 2010 :P). Now I can completely feel the air comes through my lungs. I feel FREE yeaaah free from any assignments. Exhale and inhale. Hehehe. During this holiday, I would keep my blog updated insha Allah. Now this time may be the right time to pay my post's debt about my holiday in Bali. I went there to take part on my campus activity. For me, myself, no words can describe Bali. It's such a beautiful place to have some rest, to forget all the dizziness in Jakarta, to refresh your mind, and reflect yourself from the whole undone ambition. All I can say is, it's unforgetable! Once again, more photos, more fun! :D


taking this pict before leaving Jakarta


first stop at Rumah Makan Pringsewu




with double 'D', dyah and dhila


whatta comfy place to sleep! zzz




our headmasters, kharisma and dini




my girls :*




arrive at Inna Hotel Bali, Denpasar








Barong performance




at the backstage with rani and ghita


after watching Kecak dance


he's our funny tour guide, bli Delon


at Desa Panglipuran






taking pict with all classmates in front of the residents' temple






our lovely lecturers, mam Rahayu and mam Voka


next destination > Uluwatu! Whatta wonderful place!






with mamake, Dini




here we are at Tanjung Benoa :D










welcome to Kuta Beach \m/


heey miss, can I take a pict with you?


with one of my bestfriends, Rani


I really love those children. they were energetically trying to find money from the 'sajen'. how cute!


hey lil brothers, look at the camera please :)


that's right! now say cheese :)


the ceremonial which is held on the beach




at Kuta street




gathering night at Wisata Kartun




guess where am I? :P
it's time to go to Jogjaaa! But unfortunately I didn't take any pict in Jogja :(

Promise to myself to go there someday. You guys should come to Bali, Indonesia, sometime where thousands of temples stand, land of gods is praised, and where sweet memories couldn't be replaced!


Salaam,


Niken

Minggu, 09 Januari 2011

Referendum Sudan Selatan, Aman Terkendali

http://www.bbc.co.uk/arabic/worldnews/
Antrian panjang massa terlihat sejak pagi di pusat pemungutan suara Kota  Juba, Sudan. Pemilihan suara diawali oleh Salva Kiir, Kepala Pemerintahan Daerah Sudan Selatan. Ia idampingi oleh Aktor Amerika George Clooney beserta ketua komite hubungan luar negeri AS, John Kerry. Kehadirannya di TPS langsung disambut tepuk tangan meriah dari massa yang sedang mengantri. “Ini adalah momen bersejarah yang telah lama ditunggu rakyat Sudan Selatan”, kata Salva Kiir sebagaimana dilansir BBC NEWS  (Minggu, 9/1/2011).
Demikian pula kondisi TPS di Kota Wawa-Sudan.  Berbondong-bondong  pemilih datang ke lokasi. Sebagian besar dari mereka adalah warga Sudan Selatan yang datang dari Sudan Utara maupun dari luar negeri. 

Selain memperebutkan batas wilayah dimana sumber daya minyak berada. Perbedaan ideologi, etnik dan agama semakin memperlebar jurang pemisahan antara Utara dan selatan. Sudan utara mayoritas penduduknya Muslim, sedangkan Sudan Selatan didominasi  Kristen dan pengikut aliran tradisional. 

Pemisahan berarti Khartoum akan kehilangan kekuasaan atas sebagian sumber daya minyaknya. Seakan tidak mempersoalkan masalah minyak,  Presiden Sudan, Omar al-Bashir beberapa hari sebelum referendum mengatakan, “Jika Sudan Selatan lepas dari kesatuan Negara Sudan, maka penerapan Syari’at Islam di Sudan secara kaffah akan segera diberlakukan”.
Persoalan batas wilayah sumber minyak dan pembagian hutang negara akan menjadi persoalan berikutnya yang bisa saja memicu konflik jika Sudan Selatan benar-benar Lepas dari kesatuan Sudan. Untuk merdeka, Sudan Selatan harus mengantongi minimal 60 % suara dari warganya dalam referendum ini.  
Referendum akan berlangsung dari tanggal 9 – 15 Januari 2011. Penghitungan suara akan diawasi oleh sekitar 150 NGO lokal maupun internasional, termasuk perwakilan IGAD, Uni Eropa dan Liga Arab. Dan diperkirakan sebelum pertengahan bulan depan hasil telah diperoleh. 
Sejauh ini proses pemilihan berjalan lancar dan aman. Inilah yang diharapkan semua pihak termasuk warga Indonesia yang berada di Sudan. Ketakutan akan terjadi kerusuhan saat referendum alhamdulillah hingga detik ini tidak terjadi. Mudah-mudahan kondisi akan tetap kondusif hingga berakhir masa referendum.  Apapun hasilnya nanti, semoga menjadi yang terbaik bagi semua pihak...Amin. (Fhr)

Rabu, 05 Januari 2011

Saman dan Reformasi Perdamaian di Sudan



Sukses dalam penampilan di Wisma KBRI tanggal 15 Des 2010 yang lalu dalam acara memperingati kemerdekaan Indonesia ke-65 sekaligus Promosi Budaya Indonesia. Tim saman Keluarga Mahasiswa Aceh (KMA) Sudan berhasil memikat kalangan pejabat Sudan yang hadir. Terbukti, selang beberapa hari kemudian, tepatnya tanggal 19 Des 2010 datang permohonan mengisi acara dari Departemen Kebudayaan Sudan. Sudah tentu ini adalah kesempatan emas untuk bersosialisasi sekaligus memperkenalkan budaya kita di kancah internasional. 



Acara yang diadakan di GOR Ibu Kota, Khartoum ini bertajuk, ‘Malam Persahabatan antar Pelajar Asing di Sudan’. Pesan-pesan damai sangat kental tersirat dalam setiap sambutan di awal acara. Selain saman dan rancak dari Indonesia, ada juga penampilan dari India, Thailand, Philipina, Mesir, Iran, Syiria, Somalia, Nigeria, dan tentunya tuan rumah Sudan.
Gemuruh tepuk tangan penonton, siulan maupun ‘ellelelele...’ para Sudaniest saat penampilan kami hanyalah bagian kecil dari rasa puas. Keakraban lintas negara yang terjalin memberi kebahagiaan mendalam, inilah hadaf utama dari pentas ini. Dalam suasana seperti ini selalu terlintas tanya, ‘mengapa mesti ada perang, bila damai menyenangkan’?

Setiap negara menampilkan performa terbaiknya. Setiap kata, gerak, gelak dan tawa yang tercipta cukup menghangatkan malam yang dingin. Dan kita patut bangga, Aceh melalui Saman-nya, Padang dengan Rancak-nya dan Indonesia pada umumnya,  telah ikut ambil bagian malam ini dalam proses menyuarakan ishlahiyah (reformasi perdamaian) di Sudan. (Fhr)

Minggu, 02 Januari 2011

FIREWORKS TAHUN BARU DI SUDAN

Terlepas dari segala bentuk kontrofersi agama yang ada, akhir desember malam menjelang pukul 00.00, khartoum sesak oleh warga yang ingin menyambut tahun baru. Kota khartoum betul-betul light, suara torompet sahut-sahutan dengan klakson mobil menambah ‘wah’ suasana malam itu.
 Suhu dingin mencapai 10 derajat celcius tidak menghalangi langkah kami menyaksikan warna-warni tahun baru di Sudan. Penghujung tahun ini memang puncak musim dingin. Sebagai antisipasi, jaket bulu lengkap dengan penutup kepala jadi andalan meredam dinginnya khartoum malam ini.




Dari beberapa titik tempat berkumpul massa, kami memilih hadiqah thifl selain tidak begitu jauh dari flat, tempat ini juga tergolong komplit untuk ukuran tempat hangout. Selain di hadiqah, warga juga banyak berkumpul di distrik kubri, burri dan umdurman.

Benar saja, hadiqah telah sesak oleh warga sudan yang ingin menyambut detik-detik pergantian tahun. Berada ditengah-tengah keramaian, membuat kulit sawo matang kami kelihatan mencolok. Sapaan demi sapaan-pun menghujani kami;
“Shadiga, Keif tamam?”
“Tamam”, jawab kami.
“Miyah miyah?”
“Miyah miyah”, jawab kami.
“Nihau..!  Happy new year..”
Untuk sapaan seperti ini kami punya jawaban khusus;
“No nihau! But, Assalamu’alaikum...”
Biasanya warga Sudan jika mengetahui kita beragama muslim, akan semakin senang dengan kita. Dan dalam waktu singkat, suasana hangat dan akrab bisa tercipta dengan sendirinya. Hanya saja, menghilangkan image China yang melekat kuat pada setiap bangsa Asia yang datang ke negeri ini lumayan susah. Yah, terima sajalah jika disapa shadigah atau nihau...
Pertama agak canggung sebenarnya bergabung dengan manusia-manusia legam ini. Tapi, sikap welcome yang mereka tunjukkan menghilangkan kesan angker di wajah mereka. Hingga akhirnya betah berjam-jam dengan mereka. Bahkan, lama-kelamaan kalau diperhatikan, mereka manis-manis juga kok.. hehe.
Malam ini sudan melupakan sejenak situasi politik yang sedang kurang stabil. Melupakan sejenak krisis di darfur. Melupakan sejenak detik-detik referendum tanggal 9 januari nanti, momentum yang sangat menentukan bagi nasib wilayah janub, apakah tetap dalam kesatuan Sudan atau terpisah menjadi sebuah negara mandiri. Apapun itu, semoga pergantian tahun ini membawa angin posisif terhadap Sudan ke arah perdamaian berkesinambungan dan menuju peradaban yang lebih baik..amin.
Menjelang pukul 00.00 massa yang telah memenuhi area hadiqah mulai riuh dengan yel-yel tahun baru. Fireworks hanya tinggal aba-aba saja, 4..3..2..1..dan....
SELAMAT TAHUN BARU 2011. SEMANGAT BARU, TARGET BARU, STRATEGI BARU MENYONGSONG HIDUP YANG LEBIH BERMAKNA...