Pagi kemarin, saya menjemput anak-anak dari Bogor untuk pulang ke rumah di Ciputat. Perjalanan baru memasuki kilometer ke sembilan menuju Ciputat ketika kami melewati para petugas pengumpul infak masjid di tepi dan tengah jalan. Dan kami melewati mereka begitu saja, sesaat kemudian suara kecil menegur dengan sopan, “Abi kok sudah lama nggak kasih uang buat mereka,” nada itu terdengar begitu polos namun cukup untuk membuat saya menghentikan kendaraan.
Saya memang sering terlupa untuk menunjukkan secara langsung kepada anak-anak cara berinfak. Meskipun untuk melakukannya seringkali dan tak selalu di depan mereka. Padahal, justru dengan melakukannya langsung di depan mereka, setiap orang tua tengah mengajarkan sikap kedermawanan, kepedulian, dan semangat berbagi. Ini yang nampaknya sering terlupa dari saya untuk tetap konsisten menerapkannya. Teguran dari salah seorang anak saya tadi, tentu saja menunjukkan bahwa mereka tetap membutuhkan konsistensi keteladanan yang pernah kita ajarkan sebelumnya.
“Ini pegang ya, tolong dikasih nanti kalau ada petugas pengumpul infak di pinggir jalan lagi,” seru saya kepadanya.
“Terlambat, Bi, sudah lewat petugasnya,” Duh, dua kali kalimatnya menohok saya. Saya pun hanya menjelaskan, bahwa tidak ada kata terlambat untuk berbuat kebaikan. Boleh jadi kita kehilangan kesempatan pertama untuk berbuat baik, tapi semestinya kita yakin bahwa Allah senantiasa memberikan kesempatan berikutnya, dan memang, jika kita mau mengambilnya dengan cepat, kesempatan itu selalu ada, terus menerus menghampiri. Inilah uniknya, kesempatan sering tak datang dua kali. Tetapi untuk sebuah kebaikan, justru ianya yang kerap menghampiri, namun kita-lah yang mengabaikannya.
Benar saja. Lima menit lebih sedikit setelah saya memberikan masing-masing selembar ribuan kepada dua anak saya, kami pun melintasi barisan petugas pengumpul infak masjid di jalan raya Parung. Padahal, dengan uang di tangannya itu anak saya sempat mengancam, "Kalau nggak ada lagi, uangnya buat jajan Hufha aja ya...."
Saya menanggapinya dengan senyum, sebab saya tahu persis, sepanjang jalan raya Parung, Bogor, kita dapat menemui lebih dari satu barisan petugas pengumpul infak. "Abi benar, kita belum terlambat" Senangnya anak-anak memasukkan uang itu ke jaring yang disorongkan petugas ke kendaraan kami yang memperlambat lajunya.
Pelajaran pagi kemarin, semoga menjadi segurat catatan yang tak lekang tersimpan dalam lembar memorinya, bahwa tak pernah ada kata terlambat untuk peduli, jangan pernah berpikir untuk tak berbagi hanya karena waktunya tak tepat. Dan tetaplah memelihara semangat berbagi kapan pun, sekali kesempatan terlewati, jutaan kesempatan lainnya pasti menunggu, bahkan menghampiri.
Sejumput doa pun terucap, semoga seluruh keturunan kami menjadi orang-orang yang peduli, memiliki semangat berbagi. Kapan pun, di mana pun, dan kepada siapa pun. Saya yakin Tuhan mendengar harapan sederhana ini, karena saya bisa merasakan senyum-Nya hari itu.
Source:
Oleh: Bayu Gawtama
5 Apr 2006 07:45 WIB
Jumat, 30 Maret 2007
BU ROS...
Wajahnya telah dipenuhi kerut merut. Tapi wajah itu tetap menggambarkan kedamaian dan keramahan, meskipun sedang dalam keadaan sakit. Pas seperti yang digambarkan oleh teman sekerja saya yang mengenalkan saya padanya. Ia tak mau diam, meski serangan stroke kini membatasi geraknya. Berjalan-jalan, mengerjakan pekerjaan rumah dan melakukan apapun yang bisa beliau lakukan. Memang, kata teman saya, sebelum mendapat serangan tersebut, beliau adalah seorang yang energik dan aktif mengikuti berbagai kegiatan khususnya pengajian, termasuk yang di luar kota.
Wanita itu biasa dipanggil Ibu Ros. Usia sekitar 65 tahun. Asli Minang. Beliau hidup sendiri di Jakarta, karena suaminya sudah meninggal, sedang Allah tidak mengaruniai mereka seorang pun putra. Untuk kehidupannya, beliau menjadikan rumahnya sebagai kost-an bagi para mahasiswa sebuah kampus di wilayah itu.
Hari itu, semua penghuni kost sedang pergi, maklum sedang libur semester. Seperti biasa, Bu Ros sendirian di rumah. Tetapi, karena ada urusan, beliau pergi ke rumah saudaranya dan baru pulang saat malam menjelang. Namun beliau sangat terkejut menemukan jendela dalam keadaan terbuka. Ketika diperiksa, rumah dalam kondisi berantakan dan beberapa barang hilang. Rupanya maling telah mengobok-obok rumahnya.
Melihat kondisi yang mengejutkan itu penyakit darah tinggi Ibu Ros pun kambuh dan beliau mendapat serangan stroke. Beliaupun terpaksa dirawat beberapa hari di rumah sakit. Alhamdulillah, kondisi beliau tidak terlalu parah hingga beberapa hari kemudian sudah boleh meninggalkan rumah sakit. Beliau kemudian, untuk sementara, tinggal di rumah keponakannya.
Namun, sebagaimana penderita stroke lainnya, kondisi beliau tidak bisa pulih seperti sebelumnya. Lidah sulit digerakkan hingga sulit mengucapkan sebuah kalimat secara sempurna. Demikian juga dengan jari-jemarinya. Hal itu membuat beliau sangat berduka, namun juga berusaha keras untuk bisa sembuh kembali.
Saat beliau tengah berduka itulah, teman saya mengenalkan saya padanya. “Beliau butuh teman yang bisa mengerti,” begitu ungkap teman saya. Sejak itulah saya berkenalan dengan beliau. Beberapa kali kami bertemu, tapi lebih sering kami berkomunikasi via telepon. Ketika ngobrol, beliau berusaha agar kata-kata yang beliau ucapkan dapat saya dengar dengan jelas. Sekalian berlatih, katanya. Beliau juga banyak bercerita tentang berbagai upaya yang ditempuh untuk bisa segera sembuh. Terapi akupuntur, berobat ke beberapa dokter ahli hingga minum jamu dari sinshe.
Apapun beliau lakukan agar bisa sembuh. Terapi fisik lainnya seperti jalan-jalan setiap pagi pun beliau lakukan, meskipun fisik beliau lemah. Beliau juga makin banyak berdzikir dan tilawah AlQur’an, untuk mengisi waktu selama masa penyembuhan sekaligus sarana terapi.
Suatu hari, saya menemani beliau mengunjungi rumah yang telah sebulan ditinggalkannya. Saat itu kami berbincang lebih banyak lagi dan salah satunya adalah tentang keinginan dan usahanya yang sedemikian keras untuk bisa pulih kembali.
“Di usia saya yang sekian, mulut, lidah dan jari-jari ini adalah modal utama saya untuk beribadah. Dengannya saya bisa berdzikir dan mengeja huruf-huruf Qur'an saat tilawah. Mulut ini adalah modal saya utuk tersenyum dan bertaushiyah, karena hanya senyum dan kata-kata yang bisa banyak saya sedekahkan. Sejak sakit, saya tak bisa lagi membaca Qur'an dengan tartil. Sejak mendapat serangan ini, saya kesulitan mengurai senyum kepada tetangga. Kini saya tak lagi dapat menyampaikan kata-kata hikmah. Karena itulah saya bertekat untuk sembuh. Agar saya bisa membaca Quran dan berdzikir dengan tartil, juga tetap dapat menebar senyum dan hikmah bagi sesama”.
Uraiannya menohok perasaan saya. Di saat kita yang masih muda dan sempurna tak tergerak untuk memperbaiki bacaan Qur'an, bahkan sekedar ‘membaca’ saja malas, ada seorang wanita tua dengan segala keterbatasannya bersungguh-sungguh untuk membaca Qur'an dengan baik dan benar. Di saat kita yang sehat pelit tersenyum kepada sesama dan enggan bertutur kata hikmah, seorang lanjut usia yang tak lagi sempurna begitu keras ingin menjalankannya.
Tiga tahun lebih berlalu, sejak terakhir kali saya berkomunikasi dengan beliau. Kata teman saya, beliau masih sehat dan seaktif yang dulu. Pun uraian panjang itu masih saya kenang dan saya hayati hingga kini. Sebagai pengingat kala saya lelah untuk tilawah dan capek memperbaiki bacaan. Sebagai pendorong kala saya kehilangan senyum. Sebagai penyokong saat saya lupa untuk bertutur hikmah dan malas bertaushiyah. (sepenuh takzim untuk Ibu Ros)
Azimah Rahayu
Untuk seorang sahabat yang ibundanya barummendapat serangan stroke.
azi_75@yahoo.com
-----
Eramuslim - Publikasi 17/07/2003 12:05 WIB
Wanita itu biasa dipanggil Ibu Ros. Usia sekitar 65 tahun. Asli Minang. Beliau hidup sendiri di Jakarta, karena suaminya sudah meninggal, sedang Allah tidak mengaruniai mereka seorang pun putra. Untuk kehidupannya, beliau menjadikan rumahnya sebagai kost-an bagi para mahasiswa sebuah kampus di wilayah itu.
Hari itu, semua penghuni kost sedang pergi, maklum sedang libur semester. Seperti biasa, Bu Ros sendirian di rumah. Tetapi, karena ada urusan, beliau pergi ke rumah saudaranya dan baru pulang saat malam menjelang. Namun beliau sangat terkejut menemukan jendela dalam keadaan terbuka. Ketika diperiksa, rumah dalam kondisi berantakan dan beberapa barang hilang. Rupanya maling telah mengobok-obok rumahnya.
Melihat kondisi yang mengejutkan itu penyakit darah tinggi Ibu Ros pun kambuh dan beliau mendapat serangan stroke. Beliaupun terpaksa dirawat beberapa hari di rumah sakit. Alhamdulillah, kondisi beliau tidak terlalu parah hingga beberapa hari kemudian sudah boleh meninggalkan rumah sakit. Beliau kemudian, untuk sementara, tinggal di rumah keponakannya.
Namun, sebagaimana penderita stroke lainnya, kondisi beliau tidak bisa pulih seperti sebelumnya. Lidah sulit digerakkan hingga sulit mengucapkan sebuah kalimat secara sempurna. Demikian juga dengan jari-jemarinya. Hal itu membuat beliau sangat berduka, namun juga berusaha keras untuk bisa sembuh kembali.
Saat beliau tengah berduka itulah, teman saya mengenalkan saya padanya. “Beliau butuh teman yang bisa mengerti,” begitu ungkap teman saya. Sejak itulah saya berkenalan dengan beliau. Beberapa kali kami bertemu, tapi lebih sering kami berkomunikasi via telepon. Ketika ngobrol, beliau berusaha agar kata-kata yang beliau ucapkan dapat saya dengar dengan jelas. Sekalian berlatih, katanya. Beliau juga banyak bercerita tentang berbagai upaya yang ditempuh untuk bisa segera sembuh. Terapi akupuntur, berobat ke beberapa dokter ahli hingga minum jamu dari sinshe.
Apapun beliau lakukan agar bisa sembuh. Terapi fisik lainnya seperti jalan-jalan setiap pagi pun beliau lakukan, meskipun fisik beliau lemah. Beliau juga makin banyak berdzikir dan tilawah AlQur’an, untuk mengisi waktu selama masa penyembuhan sekaligus sarana terapi.
Suatu hari, saya menemani beliau mengunjungi rumah yang telah sebulan ditinggalkannya. Saat itu kami berbincang lebih banyak lagi dan salah satunya adalah tentang keinginan dan usahanya yang sedemikian keras untuk bisa pulih kembali.
“Di usia saya yang sekian, mulut, lidah dan jari-jari ini adalah modal utama saya untuk beribadah. Dengannya saya bisa berdzikir dan mengeja huruf-huruf Qur'an saat tilawah. Mulut ini adalah modal saya utuk tersenyum dan bertaushiyah, karena hanya senyum dan kata-kata yang bisa banyak saya sedekahkan. Sejak sakit, saya tak bisa lagi membaca Qur'an dengan tartil. Sejak mendapat serangan ini, saya kesulitan mengurai senyum kepada tetangga. Kini saya tak lagi dapat menyampaikan kata-kata hikmah. Karena itulah saya bertekat untuk sembuh. Agar saya bisa membaca Quran dan berdzikir dengan tartil, juga tetap dapat menebar senyum dan hikmah bagi sesama”.
Uraiannya menohok perasaan saya. Di saat kita yang masih muda dan sempurna tak tergerak untuk memperbaiki bacaan Qur'an, bahkan sekedar ‘membaca’ saja malas, ada seorang wanita tua dengan segala keterbatasannya bersungguh-sungguh untuk membaca Qur'an dengan baik dan benar. Di saat kita yang sehat pelit tersenyum kepada sesama dan enggan bertutur kata hikmah, seorang lanjut usia yang tak lagi sempurna begitu keras ingin menjalankannya.
Tiga tahun lebih berlalu, sejak terakhir kali saya berkomunikasi dengan beliau. Kata teman saya, beliau masih sehat dan seaktif yang dulu. Pun uraian panjang itu masih saya kenang dan saya hayati hingga kini. Sebagai pengingat kala saya lelah untuk tilawah dan capek memperbaiki bacaan. Sebagai pendorong kala saya kehilangan senyum. Sebagai penyokong saat saya lupa untuk bertutur hikmah dan malas bertaushiyah. (sepenuh takzim untuk Ibu Ros)
Azimah Rahayu
Untuk seorang sahabat yang ibundanya barummendapat serangan stroke.
azi_75@yahoo.com
-----
Eramuslim - Publikasi 17/07/2003 12:05 WIB
Kamis, 29 Maret 2007
TAUBATNYA PEMUDA YANG DURHAKA PADA IBUNYA
H.H.M. Seorang pemuda yang pergi keluar negeri untuk belajar. Setelah memperoleh ijazah tinggi, ia pulang ke negaranya. Dia menikah dengan seorang gadis dan cantik yang menjadi kehancurannya seandainya tidak mendapat pertolongan Allah. Dia Bercerita:
Ayahku meninggal dunia ketika aku masih kecil. Maka ibuku lah yang merawatku. Ibu bekerja sebagai pembantu rumah tangga sehingga mampu membiayaiku. Aku adalah anak satu-satunya. Ibuku menyekolahkanku sampai selesai dari Universitas. Aku tetap berbakti kepadanya. Sehingga datang panggilan untuk belajar di luar negeri. Ibu melepas kepergianku, dengan air mata dan berkata: "Jagalah dirimu wahai anakku, jangan sampai kamu memutuskan kabar, sering-seringlah berkirim surat untuk menenangkan jiwaku".
Aku menyelesaikan studiku dengan jangka waktu yang panjang. Aku pulang dengan perubahan yang cukup besar. Peradaban barat telah banyak mencemari pribadiku, aku memandang agama sebagai sebuah keterbelakangan. Aku hanya beriman pada hal-hal yang berwujud konkrit saja. Wal 'Iyadzu billah.
Aku mendapat pekerjaan dengan posisi yang cukup terpandang. Aku mulai berpikir untuk mencari seorang isteri hingga akhirnya aku mendapatkannya. Padahal ibuku sudah memilihkan seorang gadis yang taat beragama, tapi aku tidak mau. Aku tetap memilih gadis idamanku, seorang penyanyi yang cantik, karena aku dari dulu menginginkan kehidupan "Aristokrasi" dalam bahasa mereka. Enam bulan setelah hari pernikahanku, isteriku berbuat makar terhadap ibuku. Pada suatu hari aku masuk rumah, tiba-tiba isteriku menangis, aku menanyakan sebab dia menangis, lalu ia berkata, 'ibumu memusuhiku di rumah ini', mendengar hal itu kesabaranku hilang. Aku kalap dan mengusir ibuku dari rumah, ibuku keluar sambil menangis dan berkata, 'Mudah-mudahan Allah membahagiakanmu wahai anakku'.
Beberapa saat kemudian aku keluar mencarinya tapi tak kutemukan, aku kembali kerumah, namun isteriku mampu membuatku lupa dengan ibuku. Beberapa waktu lamanya aku tak mendengar kabar ibuku. Dalam pada itu aku terkena penyakit yang cukup parah sehingga aku masuk rumah sakit. Ibuku mendengar kabarku, lalu dia datang untuk menjengukku. Waktu itu isteriku ada di sisiku. Melihat ibuku dia langsung mengusir ibuku sebelum sempat masuk sambil berkata, 'Anakmu tidak ada di sini, mau apa kamu, pergi kamu . . . '. Ibuku langsung pergi.
Aku keluar rumah sakit setelah cukup lama di situ. Kondisi jiwaku berubah. Akhu kehilangan pekerjaan dan rumah, hutangku menumpuk, semua itu akibat ulah isteriku yang banyak permintaan. Dan pula akhirnya isteriku meninggalkanku dengan menyatakan, 'Selama kamu kehilangan pekerjaan dan harta bendamu, serta kedudukan di tengah-tengah masyarakat, maka aku berterus terang kepadamu. Aku tak menginginkanmu lagi...ceraikan aku'. Kata-katanya laksana petir yang menyambar kepala. Seketika itu juga aku menceraikannya, aku seperti baru terbangun dri tidurku. Aku pergi tanpa arah tujuan yang jelas. Aku mencari ibuku hingga akhirnya aku menemukannya. Akan tetapi aku menemukannya tinggal bersama seorang rahib yang makan dari hasil sedekah. Aku menemuinya, wajahnya pucat pasi akibat banyak menangis, begitu melihatnya aku langsung bersimpuh di kedua kakinya, aku menangis dengan kerasnya disusul tangis ibuku.
Keadaan ini berlangsung sekitar satu jam, setelah itu aku membawa ibuku kerumahku. Aku berjanji pada diriku untuk berbakti kepadanya dan menjalankan perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangan-Nya. Kini aku hidup dalam hari-hari yang indah dengan ibuku tercinta, mudah-mudahan Allah menjaganya. Aku bermohon kepada Allah untuk menutupi kesalahan-kesalahanku.
Dikutip dari : Hakikat Taubat.
Ayahku meninggal dunia ketika aku masih kecil. Maka ibuku lah yang merawatku. Ibu bekerja sebagai pembantu rumah tangga sehingga mampu membiayaiku. Aku adalah anak satu-satunya. Ibuku menyekolahkanku sampai selesai dari Universitas. Aku tetap berbakti kepadanya. Sehingga datang panggilan untuk belajar di luar negeri. Ibu melepas kepergianku, dengan air mata dan berkata: "Jagalah dirimu wahai anakku, jangan sampai kamu memutuskan kabar, sering-seringlah berkirim surat untuk menenangkan jiwaku".
Aku menyelesaikan studiku dengan jangka waktu yang panjang. Aku pulang dengan perubahan yang cukup besar. Peradaban barat telah banyak mencemari pribadiku, aku memandang agama sebagai sebuah keterbelakangan. Aku hanya beriman pada hal-hal yang berwujud konkrit saja. Wal 'Iyadzu billah.
Aku mendapat pekerjaan dengan posisi yang cukup terpandang. Aku mulai berpikir untuk mencari seorang isteri hingga akhirnya aku mendapatkannya. Padahal ibuku sudah memilihkan seorang gadis yang taat beragama, tapi aku tidak mau. Aku tetap memilih gadis idamanku, seorang penyanyi yang cantik, karena aku dari dulu menginginkan kehidupan "Aristokrasi" dalam bahasa mereka. Enam bulan setelah hari pernikahanku, isteriku berbuat makar terhadap ibuku. Pada suatu hari aku masuk rumah, tiba-tiba isteriku menangis, aku menanyakan sebab dia menangis, lalu ia berkata, 'ibumu memusuhiku di rumah ini', mendengar hal itu kesabaranku hilang. Aku kalap dan mengusir ibuku dari rumah, ibuku keluar sambil menangis dan berkata, 'Mudah-mudahan Allah membahagiakanmu wahai anakku'.
Beberapa saat kemudian aku keluar mencarinya tapi tak kutemukan, aku kembali kerumah, namun isteriku mampu membuatku lupa dengan ibuku. Beberapa waktu lamanya aku tak mendengar kabar ibuku. Dalam pada itu aku terkena penyakit yang cukup parah sehingga aku masuk rumah sakit. Ibuku mendengar kabarku, lalu dia datang untuk menjengukku. Waktu itu isteriku ada di sisiku. Melihat ibuku dia langsung mengusir ibuku sebelum sempat masuk sambil berkata, 'Anakmu tidak ada di sini, mau apa kamu, pergi kamu . . . '. Ibuku langsung pergi.
Aku keluar rumah sakit setelah cukup lama di situ. Kondisi jiwaku berubah. Akhu kehilangan pekerjaan dan rumah, hutangku menumpuk, semua itu akibat ulah isteriku yang banyak permintaan. Dan pula akhirnya isteriku meninggalkanku dengan menyatakan, 'Selama kamu kehilangan pekerjaan dan harta bendamu, serta kedudukan di tengah-tengah masyarakat, maka aku berterus terang kepadamu. Aku tak menginginkanmu lagi...ceraikan aku'. Kata-katanya laksana petir yang menyambar kepala. Seketika itu juga aku menceraikannya, aku seperti baru terbangun dri tidurku. Aku pergi tanpa arah tujuan yang jelas. Aku mencari ibuku hingga akhirnya aku menemukannya. Akan tetapi aku menemukannya tinggal bersama seorang rahib yang makan dari hasil sedekah. Aku menemuinya, wajahnya pucat pasi akibat banyak menangis, begitu melihatnya aku langsung bersimpuh di kedua kakinya, aku menangis dengan kerasnya disusul tangis ibuku.
Keadaan ini berlangsung sekitar satu jam, setelah itu aku membawa ibuku kerumahku. Aku berjanji pada diriku untuk berbakti kepadanya dan menjalankan perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangan-Nya. Kini aku hidup dalam hari-hari yang indah dengan ibuku tercinta, mudah-mudahan Allah menjaganya. Aku bermohon kepada Allah untuk menutupi kesalahan-kesalahanku.
Dikutip dari : Hakikat Taubat.
ANAK KECIL PENJUAL KUE
Seorang pemuda yang sedang lapar pergi menuju restoran jalanan dan iapun menyantap makanan yang telah dipesan. Saat pemuda itu makan datanglah seorang anak kecil laki-laki menjajakan kue kepada pemuda tersebut, "Pak, mau beli kue, Pak?"
Dengan ramah pemuda yang sedang makan menjawab "Tidak, saya sedang makan".
Anak kecil tersebut tidaklah berputus asa dengan tawaran pertama. Ia tawarkan lagi kue setelah pemuda itu selesai makan, pemuda tersebut menjawab "Tidak dik, saya sudah kenyang".
Setelah pemuda itu membayar kekasir dan beranjak pergi dari warung kaki lima, anak kecil penjaja kue tidak menyerah dengan usahanya yang sudah hampir seharian menjajakan kue buatan bunda. Mungkin anak kecil ini berpikir "Saya coba lagi tawarkan kue ini kepada bapak itu, siapa tahu kue ini dijadikan oleh-oleh buat orang dirumah".
Ini adalah sebuah usaha yang gigih membantu ibunda untuk menyambung kehidupan yang serba pas-pasan ini. Saat pemuda tadi beranjak pergi dari warung tersebut anak kecil penjaja kue menawarkan ketiga kali kue dagangan.
"Pak mau beli kue saya?", pemuda yang ditawarkan jadi risih juga untuk menolak yang ketiga kalinya, kemudian ia keluarkan uang Rp. 1.500,00 dari dompet dan ia berikan sebagai sedekah saja.
"Dik ini uang saya kasih, kuenya nggak usah saya ambil, anggap saja ini sedekahan dari saya buat adik".
Lalu uang yang diberikan pemuda itu ia ambil dan diberikan kepada pengemis yang sedang meminta-minta. Pemuda tadi jadi bingung, lho ini anak dikasih uang kok malah dikasih kepada orang lain.
"Kenapa kamu berikan uang tersebut, kenapa tidak kamu ambil?"
Anak kecil penjaja kue tersenyum lugu menjawab, "Saya sudah berjanji sama ibu dirumah ingin menjualkan kue buatan ibu, bukan jadi pengemis, dan saya akan bangga pulang kerumah bertemu ibu kalau kue buatan ibu terjual habis. Dan uang yang saya berikan kepada ibu hasil usaha kerja keras saya. Ibu saya tidak suka saya jadi pengemis".
Pemuda tadi jadi terkagum dengan kata-kata yang diucapkan anak kecil penjaja kue yang masih sangat kecil buat ukuran seorang anak yang sudah punya etos kerja bahwa "kerja itu adalah sebuah kehormatan", kalau dia tidak sukses bekerja menjajakan kue, ia berpikir kehormatan kerja dihadapan ibunya mempunyai nilai yang kurang, dan suatu pantangan bagi ibunya, anaknya menjadi pengemis, ia ingin setiap ia pulang kerumah ibu tersenyum menyambut kedatangannya dan senyuman bunda yang tulus ia balas dengan kerja yang terbaik dan menghasilkan uang.
Kemudian pemuda tadi memborong semua kue yang dijajakan lelaki kecil, bukan karena ia kasihan, bukan karena ia lapar tapi karena prinsip yang dimiliki oleh anak kecil itu "kerja adalah sebuah kehormatan" ia akan mendapatkan uang kalau ia sudah bekerja dengan baik.
Author : Unknown
Dengan ramah pemuda yang sedang makan menjawab "Tidak, saya sedang makan".
Anak kecil tersebut tidaklah berputus asa dengan tawaran pertama. Ia tawarkan lagi kue setelah pemuda itu selesai makan, pemuda tersebut menjawab "Tidak dik, saya sudah kenyang".
Setelah pemuda itu membayar kekasir dan beranjak pergi dari warung kaki lima, anak kecil penjaja kue tidak menyerah dengan usahanya yang sudah hampir seharian menjajakan kue buatan bunda. Mungkin anak kecil ini berpikir "Saya coba lagi tawarkan kue ini kepada bapak itu, siapa tahu kue ini dijadikan oleh-oleh buat orang dirumah".
Ini adalah sebuah usaha yang gigih membantu ibunda untuk menyambung kehidupan yang serba pas-pasan ini. Saat pemuda tadi beranjak pergi dari warung tersebut anak kecil penjaja kue menawarkan ketiga kali kue dagangan.
"Pak mau beli kue saya?", pemuda yang ditawarkan jadi risih juga untuk menolak yang ketiga kalinya, kemudian ia keluarkan uang Rp. 1.500,00 dari dompet dan ia berikan sebagai sedekah saja.
"Dik ini uang saya kasih, kuenya nggak usah saya ambil, anggap saja ini sedekahan dari saya buat adik".
Lalu uang yang diberikan pemuda itu ia ambil dan diberikan kepada pengemis yang sedang meminta-minta. Pemuda tadi jadi bingung, lho ini anak dikasih uang kok malah dikasih kepada orang lain.
"Kenapa kamu berikan uang tersebut, kenapa tidak kamu ambil?"
Anak kecil penjaja kue tersenyum lugu menjawab, "Saya sudah berjanji sama ibu dirumah ingin menjualkan kue buatan ibu, bukan jadi pengemis, dan saya akan bangga pulang kerumah bertemu ibu kalau kue buatan ibu terjual habis. Dan uang yang saya berikan kepada ibu hasil usaha kerja keras saya. Ibu saya tidak suka saya jadi pengemis".
Pemuda tadi jadi terkagum dengan kata-kata yang diucapkan anak kecil penjaja kue yang masih sangat kecil buat ukuran seorang anak yang sudah punya etos kerja bahwa "kerja itu adalah sebuah kehormatan", kalau dia tidak sukses bekerja menjajakan kue, ia berpikir kehormatan kerja dihadapan ibunya mempunyai nilai yang kurang, dan suatu pantangan bagi ibunya, anaknya menjadi pengemis, ia ingin setiap ia pulang kerumah ibu tersenyum menyambut kedatangannya dan senyuman bunda yang tulus ia balas dengan kerja yang terbaik dan menghasilkan uang.
Kemudian pemuda tadi memborong semua kue yang dijajakan lelaki kecil, bukan karena ia kasihan, bukan karena ia lapar tapi karena prinsip yang dimiliki oleh anak kecil itu "kerja adalah sebuah kehormatan" ia akan mendapatkan uang kalau ia sudah bekerja dengan baik.
Author : Unknown
TAKUT MENJADI TUKANG BASO
Sebuah pengajian yang amat khusyuk di sebuah masjid kaum terpelajar, malam itu, mendadak terganggu oleh suara dari seorang tukang bakso yang membunyikan piring dengan sendoknya. Pak Ustad sedang menerangkan makna khauf, tapi bunyi ting-ting-ting-ting yang berulang-ulang itu sungguh mengganggu konsentrasi anak-anak muda calon ulil albab yang pikirannya sedang bekerja keras.
Apakah ia berpikir bahwa kita berkumpul di masjid ini untuk berpesta bakso !" gerutu seseorang.
Bukan sekali dua kali ini dia mengacau !" tambah lain-nya, dan disambung - "Ya, ya, betul !"
Jangan marah, ikhwan, " seseorang berusaha meredakan kegelisahan, " ia sekadar mencari makan . . . "
Jangan-jangan sengaja ia berbuat begitu! Jangan jangan ia minan-nashara !" sebuah suara keras.
Tapi sebelum takmir masjid bertindak sesuatu, terdengar suara Pak Ustad juga mengeras: " Khauf, rasa takut, ada beribu-ribu maknanya. Manusia belum akan mencapai khauf ilallah selama ia masih takut kepada hal-hal kecil dalam hidupnya. Allah itu Mahabesar, maka barangsiapa takut hanya kepada-Nya, yang lain-lain menjadi kecil adanya. "
Tak usah menghitung dulu ketakutan terhadap kekuasaan sebuah rezim atau peluru militerisme politik. Cobalah berhitung dulu dengan tukang bakso. Beranikah Anda semua, kaum terpelajar yang tinggi derajatnya di mata masyarakat, beranikah Anda menjadi tukang bakso ? Anda tidak takut menjadi sarjana, memperoleh pekerjaan dengan gaji besar, memasuki rumah tangga dengan rumah dan mobil yang bergengsi: tapi tidak takutkah Anda untuk menjadi tukang bakso ? Yakni kalau pada suatu saat kelak pada Anda
tak ada jalan lain dalam hidup ini kecuali menjadi tukang bakso ?
Cobalah wawancarai hati Anda sekarang ini, takutkah atau tidak?
Ingatlah bahwa tak seorang tukang bakso pun pernah takut menjadi tukang bakso. Apakah Anda merasa lebih pemberani dibanding tukang bakso ? Karena pasti para tukang bakso memiliki keberanian juga untuk menjadi sarjana dan orang besar seperti Anda semua. "
Suasana menjadi senyap. Suara ting-ting-ting-ting dari jalan di sisi halaman masjid menusuk-nusuk hati para peserta pengajian.
Kita memerlukan baca istighfar lebih dari seribu kali dalam sehari, " Pak Ustadz melanjutkan, " karena kita masih tergolong orang-orang yang ditawan oleh rasa takut terhadap apa yang kita anggap derajad rendah, takut tak memperoleh pekerjaan di sebuah kantor, takut miskin, takut tak punya jabatan, takut tak bisa menghibur istri dan mertua, dan kelak
takut dipecat, takut tak naik pangkat . . . masyaallah, sungguh kita masih termasuk golongan orang-orang yang belum sanggup menomorsatukan Allah !"
sumber : Emha Ainun Najib
Apakah ia berpikir bahwa kita berkumpul di masjid ini untuk berpesta bakso !" gerutu seseorang.
Bukan sekali dua kali ini dia mengacau !" tambah lain-nya, dan disambung - "Ya, ya, betul !"
Jangan marah, ikhwan, " seseorang berusaha meredakan kegelisahan, " ia sekadar mencari makan . . . "
Jangan-jangan sengaja ia berbuat begitu! Jangan jangan ia minan-nashara !" sebuah suara keras.
Tapi sebelum takmir masjid bertindak sesuatu, terdengar suara Pak Ustad juga mengeras: " Khauf, rasa takut, ada beribu-ribu maknanya. Manusia belum akan mencapai khauf ilallah selama ia masih takut kepada hal-hal kecil dalam hidupnya. Allah itu Mahabesar, maka barangsiapa takut hanya kepada-Nya, yang lain-lain menjadi kecil adanya. "
Tak usah menghitung dulu ketakutan terhadap kekuasaan sebuah rezim atau peluru militerisme politik. Cobalah berhitung dulu dengan tukang bakso. Beranikah Anda semua, kaum terpelajar yang tinggi derajatnya di mata masyarakat, beranikah Anda menjadi tukang bakso ? Anda tidak takut menjadi sarjana, memperoleh pekerjaan dengan gaji besar, memasuki rumah tangga dengan rumah dan mobil yang bergengsi: tapi tidak takutkah Anda untuk menjadi tukang bakso ? Yakni kalau pada suatu saat kelak pada Anda
tak ada jalan lain dalam hidup ini kecuali menjadi tukang bakso ?
Cobalah wawancarai hati Anda sekarang ini, takutkah atau tidak?
Ingatlah bahwa tak seorang tukang bakso pun pernah takut menjadi tukang bakso. Apakah Anda merasa lebih pemberani dibanding tukang bakso ? Karena pasti para tukang bakso memiliki keberanian juga untuk menjadi sarjana dan orang besar seperti Anda semua. "
Suasana menjadi senyap. Suara ting-ting-ting-ting dari jalan di sisi halaman masjid menusuk-nusuk hati para peserta pengajian.
Kita memerlukan baca istighfar lebih dari seribu kali dalam sehari, " Pak Ustadz melanjutkan, " karena kita masih tergolong orang-orang yang ditawan oleh rasa takut terhadap apa yang kita anggap derajad rendah, takut tak memperoleh pekerjaan di sebuah kantor, takut miskin, takut tak punya jabatan, takut tak bisa menghibur istri dan mertua, dan kelak
takut dipecat, takut tak naik pangkat . . . masyaallah, sungguh kita masih termasuk golongan orang-orang yang belum sanggup menomorsatukan Allah !"
sumber : Emha Ainun Najib
BENIH
Suatu ketika, ada sebuah pohon yang rindang. Dibawahnya, tampak dua orang yang sedang beristirahat. Rupanya, ada seorang pedagang bersama anaknya yang berteduh disana. Tampaknya mereka kelelahan sehabis berdagang di kota. Dengan menggelar sehelai tikar, duduklah mereka dibawah pohon yang besar itu.
Angin semilir membuat sang pedagang mengantuk. Namun, tidak demikian dengan anaknya yang masih belia. "Ayah, aku ingin bertanya..." terdengar suara yang mengusik ambang sadar si pedagang. "Kapan aku besar, Ayah? Kapan aku bisa kuat seperti Ayah, dan bisa membawa dagangan kita ke kota?
"Sepertinya, lanjut sang bocah, "aku tak akan bisa besar. Tubuhku ramping seperti Ibu, berbeda dengan Ayah yang tegap dan berbadan besar. Kupikir, aku tak akan sanggup memikul dagangan kita jika aku tetap seperti ini." Jari tangannya tampak mengores-gores sesuatu di atas tanah. Lalu, ia kembali melanjutkan, "bilakah aku bisa punya tubuh besar sepertimu, Ayah?
Sang Ayah yang awalnya mengantuk, kini tampak siaga. Diambilnya sebuah benih, di atas tanah yang sebelumnya di kais-kais oleh anaknya. Diangkatnya benih itu dengan ujung jari telunjuk. Benda itu terlihat seperti kacang yang kecil, dengan ukuran yang tak sebanding dengan tangan pedagang yang besar-besar. Kemudian, ia pun mulai berbicara.
"Nak, jangan pernah malu dengan tubuhmu yang kecil. Pandanglah pohon besar tempat kita berteduh ini. Tahukah kamu, batangnya yang kokoh ini, dulu berasal dari benih yang sekecil ini. Dahan, ranting dan daunnya, juga berasal dari benih yang Ayah pegang ini. Akar-akarnya yang tampak menonjol, juga dari benih ini. Dan kalau kamu menggali tanah ini, ketahuilah, sulur-sulur akarnya yang menerobos tanah, juga berasal dari tempat yang sama.
Diperhatikannya wajah sang anak yang tampak tertegun. "Ketahuilah Nak, benih ini menyimpan segalanya. Benih ini menyimpan batang yang kokoh, dahan yang rindang, daun yang lebar, juga akar-akar yang kuat. Dan untuk menjadi sebesar pohon ini, ia hanya membutuhkan angin, air, dan cahaya matahari yang cukup. Namun jangan lupakan waktu yang membuatnya terus bertumbuh. Pada mereka semualah benih ini berterima kasih, karena telah melatihnya menjadi mahluk yang sabar.
"Suatu saat nanti, kamu akan besar Nak. Jangan pernah takut untuk berharap menjadi besar, karena bisa jadi, itu hanya butuh ketekunan dan kesabaran."
Terlihat senyuman di wajah mereka. Lalu keduanya merebahkan diri, meluruskan pandangan ke langit lepas, membayangkan berjuta harapan dan impian dalam benak. Tak lama berselang, keduanya pun terlelap dalam tidur, melepaskan lelah mereka setelah seharian bekerja.
********************
Pedagang itu benar. Jangan pernah merasa malu dengan segala keterbatasan. Jangan merasa sedih dengan ketidaksempurnaan. Karena Allah, menciptakan kita penuh dengan keistimewaan. Dan karena Allah, memang menyiapkan kita menjadi mahluk dengan berbagai kelebihan.
Mungkin suatu ketika, kita pernah merasa kecil, tak mampu, tak berdaya dengan segala persoalan hidup. Kita mungkin sering bertanya-tanya, kapan kita menjadi besar, dan mampu menggapai semua impian, harapan dan keinginan yang ada dalam dada. Kita juga bisa jadi sering membayangkan, bilakah saatnya berhasil? Kapankah saat itu akan datang?
Teman, kita adalah layaknya benih kecil itu. Benih yang menyimpan semua kekuatan dari batang yang kokoh, dahan yang kuat, serta daun-daun yang lebar. Dalam benih itu pula akar-akar yang keras dan menghujam itu berasal. Namun, akankah Allah membiarkan benih itu tumbuh besar, tanpa alpa dengan bantuan tiupan angin, derasnya air hujan, dan teriknya sinar matahari?
Begitupun kita, akankah Allah membiarkan kita besar, berhasil, dan sukses, tanpa pernah merasakan ujian dan cobaan? Akankah Allah lupa mengingatkan kita dengan hembusan angin "masalah", derasnya air "ujian" serta teriknya matahari "persoalan"? Tidak Teman. Karena Allah Maha Tahu, bahwa setiap hamba-Nya akan menemukan jalan keberhasilan, maka Allah akan tak pernah lupa dengan itu semua.
Jangan pernah berkecil hati. Semua keberhasilan dan kesuksesan itu telah ada dalam dirimu.
Angin semilir membuat sang pedagang mengantuk. Namun, tidak demikian dengan anaknya yang masih belia. "Ayah, aku ingin bertanya..." terdengar suara yang mengusik ambang sadar si pedagang. "Kapan aku besar, Ayah? Kapan aku bisa kuat seperti Ayah, dan bisa membawa dagangan kita ke kota?
"Sepertinya, lanjut sang bocah, "aku tak akan bisa besar. Tubuhku ramping seperti Ibu, berbeda dengan Ayah yang tegap dan berbadan besar. Kupikir, aku tak akan sanggup memikul dagangan kita jika aku tetap seperti ini." Jari tangannya tampak mengores-gores sesuatu di atas tanah. Lalu, ia kembali melanjutkan, "bilakah aku bisa punya tubuh besar sepertimu, Ayah?
Sang Ayah yang awalnya mengantuk, kini tampak siaga. Diambilnya sebuah benih, di atas tanah yang sebelumnya di kais-kais oleh anaknya. Diangkatnya benih itu dengan ujung jari telunjuk. Benda itu terlihat seperti kacang yang kecil, dengan ukuran yang tak sebanding dengan tangan pedagang yang besar-besar. Kemudian, ia pun mulai berbicara.
"Nak, jangan pernah malu dengan tubuhmu yang kecil. Pandanglah pohon besar tempat kita berteduh ini. Tahukah kamu, batangnya yang kokoh ini, dulu berasal dari benih yang sekecil ini. Dahan, ranting dan daunnya, juga berasal dari benih yang Ayah pegang ini. Akar-akarnya yang tampak menonjol, juga dari benih ini. Dan kalau kamu menggali tanah ini, ketahuilah, sulur-sulur akarnya yang menerobos tanah, juga berasal dari tempat yang sama.
Diperhatikannya wajah sang anak yang tampak tertegun. "Ketahuilah Nak, benih ini menyimpan segalanya. Benih ini menyimpan batang yang kokoh, dahan yang rindang, daun yang lebar, juga akar-akar yang kuat. Dan untuk menjadi sebesar pohon ini, ia hanya membutuhkan angin, air, dan cahaya matahari yang cukup. Namun jangan lupakan waktu yang membuatnya terus bertumbuh. Pada mereka semualah benih ini berterima kasih, karena telah melatihnya menjadi mahluk yang sabar.
"Suatu saat nanti, kamu akan besar Nak. Jangan pernah takut untuk berharap menjadi besar, karena bisa jadi, itu hanya butuh ketekunan dan kesabaran."
Terlihat senyuman di wajah mereka. Lalu keduanya merebahkan diri, meluruskan pandangan ke langit lepas, membayangkan berjuta harapan dan impian dalam benak. Tak lama berselang, keduanya pun terlelap dalam tidur, melepaskan lelah mereka setelah seharian bekerja.
********************
Pedagang itu benar. Jangan pernah merasa malu dengan segala keterbatasan. Jangan merasa sedih dengan ketidaksempurnaan. Karena Allah, menciptakan kita penuh dengan keistimewaan. Dan karena Allah, memang menyiapkan kita menjadi mahluk dengan berbagai kelebihan.
Mungkin suatu ketika, kita pernah merasa kecil, tak mampu, tak berdaya dengan segala persoalan hidup. Kita mungkin sering bertanya-tanya, kapan kita menjadi besar, dan mampu menggapai semua impian, harapan dan keinginan yang ada dalam dada. Kita juga bisa jadi sering membayangkan, bilakah saatnya berhasil? Kapankah saat itu akan datang?
Teman, kita adalah layaknya benih kecil itu. Benih yang menyimpan semua kekuatan dari batang yang kokoh, dahan yang kuat, serta daun-daun yang lebar. Dalam benih itu pula akar-akar yang keras dan menghujam itu berasal. Namun, akankah Allah membiarkan benih itu tumbuh besar, tanpa alpa dengan bantuan tiupan angin, derasnya air hujan, dan teriknya sinar matahari?
Begitupun kita, akankah Allah membiarkan kita besar, berhasil, dan sukses, tanpa pernah merasakan ujian dan cobaan? Akankah Allah lupa mengingatkan kita dengan hembusan angin "masalah", derasnya air "ujian" serta teriknya matahari "persoalan"? Tidak Teman. Karena Allah Maha Tahu, bahwa setiap hamba-Nya akan menemukan jalan keberhasilan, maka Allah akan tak pernah lupa dengan itu semua.
Jangan pernah berkecil hati. Semua keberhasilan dan kesuksesan itu telah ada dalam dirimu.
ANAK-ANAK DALAM KEPOMPONG JALANAN
Jakarta diguyur hujan, jalanan basah. Suasana pagi kelam diwarnai macet jalanan oleh orang-orang yang berangkat kerja. Di setiap halte dan beberapa emperan perkantoran, tampak tubuh-tubuh kecil dengan baju yang basah kuyup. Padahal di tangannya yang kurus terpegang sebuah payung besar, lebih dari cukup untuk melindungi tubuhnya. Namun payung tersebut tidak terkembang. Setiap saat anak-anak tersebut mengacungkan payung kepada mereka yang baru turun dari bus atau mobil.
Satu demi satu lelaki maupun perempuan yang berjas, berdasi maupun blazer melintasi jalan dengan pemandangan khas. Mereka menapakkan kaki hati-hati seakan takut air yang kotor menodai pakaian mereka yang bersih dan licin di bawah payung lebar, sementara di sisinya atau di belakang si bocah mengikuti. Tanpa payung, bermandikan hujan! Mereka adalah bocah-bocah yang baru berumur 10 tahun ke bawah. Dengan kaos oblong yang sudah tidak jelas warnanya, lengket di tubuh karena air hujan.
Sebuah tanya terlintas, siapa bocah malang tersebut? Di pagi hari di mana anak-anak lain berangkat sekolah menenteng tas dan bekal, mereka hanya menenteng sebuah payung besar. Ketika sebagian yang lain tinggal di rumah bergelung selimut tebal, ditemani makanan dan minuman hangat, tubuh mereka menggigil kedinginan dengan perut yang keroncongan. Di manakah ayah-bunda mereka berada?
Beberapa hari lalu, ketika siang di Jakarta bermandikan cahaya matahari yang bersinar terik, saya naik bus kota. Bus penuh sesak. Di antara deru bus dan himpitan penumpang tampak seorang bocah yang berusaha menyalip tubuh-tubuh besar di sekitarnya. Bocah usia enam tahunan tersebut bermata bening, dengan penampilan yang lusuh dan kotor. Dengan krecekan dari tutup botol dan suara cadelnya yang cempreng, ia menyanyi.
Usai satu lagu, tangan kurus tersebut mengulurkan bungkus plastik bekas permen yang kosong. Mengharapkan kepingan logam dari penumpang yang entah mendengarkan atau tidak. Nampaknya tidak banyak keping yang berhasil ia kumpulkan. Kemudian dengan lincah tubuh mungil tersebut menerobos pintu dan meloncat dari bus yang masih berjalan pelan tertahan macet jalanan. Di manakah ayah-bunda mereka?
Bagian lain Jakarta, keramaian pasar tradisional melahirkan suara hiruk-pikuk yang khas. Di sela kesibukan berbelanja, anak-anak usia belasan tahun mengulurkan tangan menawarkan jasa membawa belanjaan! Masih di bagian lain Jakarta, tampak anak-anak yang mengemis, menyemir, mengelap kaca mobil, menjual makanan, menjual Koran. Begitu mudah tertangkap mata pemandangan seperti itu di sebuah ibukota negeri bernama Jakarta.
Mereka masih terlalu muda, tapi kekerasan hidup telah menempa mereka menjadi pribadi yang lain. Bukan lagi dunia anak-anak yang diwarnai gelak tawa dan bermain. Melainkan sebuah aktivitas untuk mencari sesuap nasi. Sebuah dunia orang dewasa yang terlalu cepat mereka masuki.
Di mana busur -meminjam perumpamaan Khalil Gibran-- yang telah melesatkan anak panah tersebut? "Engkaulah busur dan anak-anakmulah anak panah yang meluncur," kata Gibran. "Sebagaimana Dia mengasihi anak panah yang melesat, demikian pula Dia mengasihi busur nan mantap," demikian penggal puisi tentang anak yang ditulisnya.
Lalu, karena kurang mantapnya busur inikah, yang telah mengantarkan anak-anak tersebut ke gerbang yang belum saatnya mereka masuki? Padahal begitu masuk, hanya kerasnya hidup orang dewasa yang akan mereka rasakan. Sebagai anak panah, tentu mereka merindukan busur yang mantap yang akan mengantar mereka pada sasaran yang tepat dalam ukuran kemanusiaan. Sebuah keluarga dengan ayah-bunda yang penuh kehangatan dan rezeki yang cukup.
Bila ternyata panah itu meleset dari sasaran, adakah mereka berhak menyesali? Mengingkari :"…Dialah yang menurunkan hujan dan mengetahui apa yang ada di rahim. Dan tiada seorang pun dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana ia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Mengenal" (QS. Luqman : 34).
Mereka yang terlahir dari rahim yang kurang beruntung adalah anak-anak masyarakat. Semestinya ada tangan-tangan yang terulur untuk membantu mereka. Tetapi di zaman ini orang-orang dewasa terlalu sibuk dengan kepompongnya sendiri. Dan anak-anak itupun diserahkan kepada jalanan sebagai kepompongnya.
Semoga saya dan Anda tidak termasuk mereka yang dimaksudkan QS. Luqman: 18 : "Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri." Naudzubillahi min dzalik, semoga Allah melindungi kita, melindungi anak-anak kita, melindungi anak-anak zaman. Mari ulurkan tangan buat mereka. (Eva Deswenti dari Yayasan Martabat, Yayasan yang memberi santunan pendidikan bagi anak-anak dhuafa. yayasanmartabat@yahoo.com)
Yayasan Martabat
Jl. Kali Anyar II RT 008/ RW 001 No. 3
Kelurahan Kali Anyar, Kecamatan Tambora
Jakarta Barat
Telp. (021) 6346954
Sumber : eramuslim.com
Satu demi satu lelaki maupun perempuan yang berjas, berdasi maupun blazer melintasi jalan dengan pemandangan khas. Mereka menapakkan kaki hati-hati seakan takut air yang kotor menodai pakaian mereka yang bersih dan licin di bawah payung lebar, sementara di sisinya atau di belakang si bocah mengikuti. Tanpa payung, bermandikan hujan! Mereka adalah bocah-bocah yang baru berumur 10 tahun ke bawah. Dengan kaos oblong yang sudah tidak jelas warnanya, lengket di tubuh karena air hujan.
Sebuah tanya terlintas, siapa bocah malang tersebut? Di pagi hari di mana anak-anak lain berangkat sekolah menenteng tas dan bekal, mereka hanya menenteng sebuah payung besar. Ketika sebagian yang lain tinggal di rumah bergelung selimut tebal, ditemani makanan dan minuman hangat, tubuh mereka menggigil kedinginan dengan perut yang keroncongan. Di manakah ayah-bunda mereka berada?
Beberapa hari lalu, ketika siang di Jakarta bermandikan cahaya matahari yang bersinar terik, saya naik bus kota. Bus penuh sesak. Di antara deru bus dan himpitan penumpang tampak seorang bocah yang berusaha menyalip tubuh-tubuh besar di sekitarnya. Bocah usia enam tahunan tersebut bermata bening, dengan penampilan yang lusuh dan kotor. Dengan krecekan dari tutup botol dan suara cadelnya yang cempreng, ia menyanyi.
Usai satu lagu, tangan kurus tersebut mengulurkan bungkus plastik bekas permen yang kosong. Mengharapkan kepingan logam dari penumpang yang entah mendengarkan atau tidak. Nampaknya tidak banyak keping yang berhasil ia kumpulkan. Kemudian dengan lincah tubuh mungil tersebut menerobos pintu dan meloncat dari bus yang masih berjalan pelan tertahan macet jalanan. Di manakah ayah-bunda mereka?
Bagian lain Jakarta, keramaian pasar tradisional melahirkan suara hiruk-pikuk yang khas. Di sela kesibukan berbelanja, anak-anak usia belasan tahun mengulurkan tangan menawarkan jasa membawa belanjaan! Masih di bagian lain Jakarta, tampak anak-anak yang mengemis, menyemir, mengelap kaca mobil, menjual makanan, menjual Koran. Begitu mudah tertangkap mata pemandangan seperti itu di sebuah ibukota negeri bernama Jakarta.
Mereka masih terlalu muda, tapi kekerasan hidup telah menempa mereka menjadi pribadi yang lain. Bukan lagi dunia anak-anak yang diwarnai gelak tawa dan bermain. Melainkan sebuah aktivitas untuk mencari sesuap nasi. Sebuah dunia orang dewasa yang terlalu cepat mereka masuki.
Di mana busur -meminjam perumpamaan Khalil Gibran-- yang telah melesatkan anak panah tersebut? "Engkaulah busur dan anak-anakmulah anak panah yang meluncur," kata Gibran. "Sebagaimana Dia mengasihi anak panah yang melesat, demikian pula Dia mengasihi busur nan mantap," demikian penggal puisi tentang anak yang ditulisnya.
Lalu, karena kurang mantapnya busur inikah, yang telah mengantarkan anak-anak tersebut ke gerbang yang belum saatnya mereka masuki? Padahal begitu masuk, hanya kerasnya hidup orang dewasa yang akan mereka rasakan. Sebagai anak panah, tentu mereka merindukan busur yang mantap yang akan mengantar mereka pada sasaran yang tepat dalam ukuran kemanusiaan. Sebuah keluarga dengan ayah-bunda yang penuh kehangatan dan rezeki yang cukup.
Bila ternyata panah itu meleset dari sasaran, adakah mereka berhak menyesali? Mengingkari :"…Dialah yang menurunkan hujan dan mengetahui apa yang ada di rahim. Dan tiada seorang pun dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana ia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Mengenal" (QS. Luqman : 34).
Mereka yang terlahir dari rahim yang kurang beruntung adalah anak-anak masyarakat. Semestinya ada tangan-tangan yang terulur untuk membantu mereka. Tetapi di zaman ini orang-orang dewasa terlalu sibuk dengan kepompongnya sendiri. Dan anak-anak itupun diserahkan kepada jalanan sebagai kepompongnya.
Semoga saya dan Anda tidak termasuk mereka yang dimaksudkan QS. Luqman: 18 : "Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri." Naudzubillahi min dzalik, semoga Allah melindungi kita, melindungi anak-anak kita, melindungi anak-anak zaman. Mari ulurkan tangan buat mereka. (Eva Deswenti dari Yayasan Martabat, Yayasan yang memberi santunan pendidikan bagi anak-anak dhuafa. yayasanmartabat@yahoo.com)
Yayasan Martabat
Jl. Kali Anyar II RT 008/ RW 001 No. 3
Kelurahan Kali Anyar, Kecamatan Tambora
Jakarta Barat
Telp. (021) 6346954
Sumber : eramuslim.com
Langganan:
Postingan (Atom)